Welcome to Sijang, Aspal

>> Tuesday, May 3, 2016


70 tahun Indonesia merdeka tapi baru di bulan April 2016, warga Sijang bisa merasakan mulusnya aspal. Sebelumnya, warga harus menahan sakitnya badan ketika melewati jalan tanah bergelombang. Sensasinya ketika dilalui dengan kendaraan, mirip berkuda. Ada juga jalan dengan gelombang kecil-kecil sehingga ketika dilewati seperti melewati belasan polisi tidur kurus-kurus yang dideretkan. Hujan yang seringkali menimbulkan ceruk-ceruk pada tanah. Jadi selain tanah becek penuh genangan air, garis-garis aliran air hujan terbentuk. Garis ini akan kering di saat cuaca panas menjadi gelombang-gelombang kecil tadi.

Tapi mengapa aspal di Sijang menjadi sesuatu yang istimewa?

Sijang tentu bukan sebuah tempat yang akan kamu cari di dalam peta. Ia bukan tempat wisata. Ia hanya sebuah desa kecil bagian dari kecamatan Galing, Sambas, sekitar 1 jam sebelum perbatasan Indonesia-Malaysia. Jika kamu pun tidak tahu Sambas, coba lihat di peta Kalimantan Barat. Kabupaten ini terkenal dengan bubur pedas dan kain tenun benang emas. Nah, kecamatan Galing berjarak tempuh 1,5 jam dari Sambas. Kecamatan Galing terkenal dengan kegiatan "Merabu". Kegiatan ini mengacu pada pasar yang ramai dengan pedagang dari kota seperti Sambas yang hanya terjadi pada hari Rabu. Lapak-lapak akan tergelar pada hari ini. Lelong yaitu pakaian-pakaian bekas yang dijual kembali; barang kelontongan murah meriah seperti ember, baskom, keranjang; pelbagai mainan anak dan aksesoris seperti bola, pedang, mobil, ikat dan jepit rambut; dan berbagai hasil tanaman warga contohnya nanas, ubi kayu, keladi, jantung pisang, dan petai. Pada hari ini juga belasan macam kueh mueh akan memenuhi warung-warung. Padahal pada hari biasa, hanya dua atau tiga macam kue yang terlihat. Lalu warga dari berbagai dusun sekitar, dengan dandanan rapi, datang memenuhi area pasar. Seolah-olah hari Rabu adalah sebuah hari raya, hari berpesta. Dan Kecamatan Galing akan terbangun dari tidurnya dengan penuh gairah pada hari ini. 

Selain pasar Rabu, Kecamatan Galing juga terkenal sebagai penghasil karet, sawit, lada putih dan lada hitam. Sijang sendiri adalah desa yang mayoritas penduduknya menanam ketiga komoditas perkebunan tersebut. Tidak heran jika banyak siswa sambil membantu orang tua mereka menggarap lahan. Jadi mereka sekolah di pagi hari lalu ke ladang dan kebun di sore hari. Pernah saya menemukan siswa membawa tas penuh lada ke sekolah. Kemungkinan akan dijual selepas sekolah.

Saat ini, siswa sangat bersemangat menanam dan merawat  lada. Pernah saya menemukan siswa membawa tas penuh lada ke sekolah. Kemungkinan akan dijual setelah pulang. Lada menjadi primadona karena memiliki harga jual sangat tinggi. Harga lada putih misalnya, dapat mencapai 140 ribu per kilogram. Sedangkan lada hitam mencapai 70 ribu per kilogram. Lada dipanen dua kali dalam setahun. Menurut salah seorang siswa saya, Remi, 100 batang lada bisa menghasilkan 100 kilo sekali panen, tergantung kesuburan tanaman. Silahkan hitung sendiri berapa hasil yang bisa mereka dapatkan.

Namun, lada bukanlah tanaman gampangan. Ia harus benar-benar dirawat dan diolah dengan proses panjang. Perawatan yang dimaksud meliputi memasang kayu turus, membersihkan rumput yang menjadi hama, dan diberi pupuk. Bukan hal yang asing jika melihat orang menaiki motor sambil memikul kayu-kayu besar. Itulah kayu turus yang menyangga tanaman lada. Semakin bagus kayu, semakin lama ia dapat digunakan. Ada turus yang bisa digunakan hingga puluhan tahun. Lada yang sudah dipanen, lalu dicuci dan dijemur hingga siap jual. Lada yang masih lembab biasanya ditolak karena rawan rusak dan tidak tahan lama. Jika melewati area Sijang pada musim panen, terlihat hamparan tikar atau terpal yang menjadi alas lada yang dijemur di halaman rumah bahkan sampai ke tepi jalan.

Aspal di desa Sijang adalah sebuah mimpi dan doa warga yang jadi kenyataan. Dengan adanya aspal, warga akan lebih mudah membeli pupuk, mengangkut turus, dan menjual hasil tanaman mereka.

Selain masalah ekonomi, aspek pendidikan pun diuntungkan. Sijang memiliki sebuah SMA yaitu SMA Negeri 2 Galing. Ini merupakan sekolah induk tempat saya bertugas mengajar Bahasa Inggris. Terdapat kelas X, XI IPS dan XII IPS, masing-masing satu. SMAN 2 Galing berusia 4 tahun, namun baru setahun menempati gedung sendiri. Sekolah ini didirikan atas usulan warga Sijang karena melihat jauhnya anak-anak lulusan SMP harus bersekolah. SMA terdekat adalah SMA 1 Galing yang dulu masa tempuhnya mencapai 30-45 menit tergantung kondisi cuaca. 

Di SMAN 2 Galing, hanya ada tiga guru pegawai negeri yaitu pelajaran Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selain itu, yang mengajar adalah guru honor. Rata-rata guru berdomisili jauh dari sekolah. Hanya ada 3 guru yang merupakan warga Sijang. Selain itu, guru berdomisili di Galing dengan jarak tempuh 30-45 menit saat jalan rusak. Bisa lebih lama ketika cuaca hujan. Saya sendiri berdomisili di Sambas. Dulu saya menghabiskan 1-2 jam perjalanan pergi atau pulang sekolah. Ini berarti 3-4 jam pulang pergi. Belum lagi ketika musim hujan dan ada jembatan yang direndam banjir. 

Dengan adanya aspal, guru akan semakin mudah mencapai sekolah. Misalnya saya yang sekarang hanya perlu 1 jam perjalanan dari rumah. Selain itu, guru baru yang kelak ditugaskan ke SMAN 2 Galing tidak perlu lagi gentar dengan kondisi jalan. Semangat dan energi guru tidak lagi habis di jalan tapi habis untuk memperhatikan dan membantu siswa di sekolah, seperti yang seharusnya terjadi. 

Aspal juga berjasa memudahkan lulusan kami tahun ini. Mereka jadi semangat mengikuti seminar perkenalan universitas-universitas Pontianak yang diadakan di Sambas. Beberapa dari mereka mendapat PMDK sepulang dari seminar ini. Belum puas, beberapa siswa mencari info beasiswa bidik misi politeknik yang terletak di Sambas. Besoknya baru mereka ke sekolah melengkapi persyaratan yang diminta untuk pendaftaran. Kali ini mereka tidak perlu ragu bolak balik karena mudahnya menjangkau ibukota kabupaten, tidak seperti dulu. 

Seandainya aspal datang 10 tahun lebih cepat, bisa jadi Sijang menjadi materi buku ilmu sosial dengan segala potensi alamnya. Sebab pendidikan akan datang lebih cepat, bermutu lebih tinggi, dan anak-anak Sijang akan menebarkan cerita tentang kampungnya yang menjadi lumbung devisa.

Read more...

Please Please Perokok, Toleh Kiri Kanan

>> Wednesday, May 28, 2014

Asap rokok. Satu aspek yang sangat mengganggu di tempat publik seperti kendaraan umum, ruangan rapat, dan tempat makan. Dampak kecilnya asap rokok meninggalkan bau tak sedap yang menempel di pakaian. Dampak besarnya, asap rokok mengganggu kesehatan orang lain yang tidak merokok atau perokok pasif.

Banyak perokok yang tidak sadar bahkan tidak peduli pada hal ini. Menghindari asap rokok menjadi sebuah perjuangan. Saya mengalaminya sendiri di berbagai kesempatan. Paling mudah adalah mengedukasi suami tentang bahaya rokok. Sejak saya hamil, suami sekarang selalu merokok di luar rumah. Tapi ketika rapat sekolah dan tempat makan, saya harus siap kertas atau karton untuk mengipasi asap yang datang. Cara paling halus ini tidak membuat perokok-perokok itu tersindir. Sementara, sulit rasanya menyuruh-nyuruh orang yang tidak dikenal. Jika ada perokok (yang membaca ini) menyarankan saya pindah tempat, saya ingin bertanya,”Tahukah Anda asap itu menyebar kemana-mana?”

Berbagai bahaya menghirup asap rokok untuk ibu hamil dimuat di CDC.gov dan Telegraph. Menghirup asap rokok dapat menyebabkan berbagai kanker atau bakal kanker buat ibu dan janin. Asap rokok dapat menyebabkan melemahkan sistem kekebalan tubuh bahkan kematian prematur janin. Resiko janin menderita bibir sumbing, asma, jantung bawaan, dan keterbelakangan mental meningkat jika ibu hamil terpapar asap rokok. Sedangkan bagi bayi dan anak, bahaya penyakit bronkitis, pneumonia, infeksi telinga dan lambatnya pertumbuhan paru-paru juga mengancam.

Maka buat perokok, yang saya harap membaca ini, please please toleh kiri kanan sebelum Anda merokok. Jika Anda melihat ada ibu hamil atau anak-anak di sekitar Anda, tahanlah keinginan untuk merokok. Atau menjauh dari area itu. Saya tahu Anda punya hak untuk merokok. Anda punya pilihan untuk menjaga atau merusak kesehatan Anda. Tapi Anda tidak punya hak mengambil kesempatan orang lain untuk hidup sehat.

Saya juga tahu, harusnya dan idealnya ada area merokok untuk Anda para perokok. Harap maklum sajalah pada kondisi yang seringkali tidak ideal. Tidak ada juga hukum yang mengharuskan Anda untuk membantu orang lain. Saya hanya berharap Anda memilih rasa kasih terhadap sesama manusia apalagi wanita dan anak-anak. Ataupun jika Anda bukan perokok tapi bepergian bersama perokok, tolong ingatkan pasangan atau teman Anda tentang hal ini.

So, please please perokok, toleh kiri kanan sebelum menyalakan rokok Anda.

Read more...

Tidak berarti Tidak

>> Friday, May 23, 2014

Ada suatu kegelisahan dalam hati saya beberapa minggu ini. Sebuah perasaan mencekam yang bahkan membuat susah tidur. Hanya satu kalimat yang terulang-ulang dalam hati.

Saya tidak mau Prabowo jadi Presiden.


Bukan kepala, tapi hati. Ini artinya saya tidak punya alasan yang jelas mengapa menolak Prabowo. Tapi lidah saya pahit kalau melihat berita-berita Prabowo di beranda Facebook. Semakin perasaan saya getir, nampaknya makin sering wajahnya muncul di timeline. Saya menghindar menonton TV One karena takut media milik ARB yang sekarang berkoalisi dengan Prabowo menjadi media yang tendensius. 

Semakin saya menonton berbagai pembelaan tim sukses Prabowo terhadap jagoannya ini, semakin saya bingung. Karena saya sadar saya tak punya alasan kuat dan jelas menolak calon ini. Sementara saya tak biasa dengan subjektivitas. 

Bukan di pemilihan 2014 ini saja keengganan akan Prabowo muncul. Sejak pilpres 2009, ketika Megawati menggaet Prabowo sebagai cawapres, saya juga memiliki ketakutan yang sama. Yang saya tahu, dia pernah terlibat kasus penculikan mahasiswa pada 1998. Periode kejatuhan Soeharto, kaisarnya Orde Baru. 

Meski saya masih kecil di masa ini, saya ingat kuatnya cengkeraman politik Soeharto dan kroninya. Betapa sebuah kekuasaan melahirkan kungkungan. Saat kuliah, saya banyak membaca betapa sulitnya tumbuh menjadi orang bebas di era Orde Baru. Dan reformasi 1998 yang menjadi sebuah ledakan besar yang memberi ruang untuk bernapas. Dibanding di Malaysia, kebebasan informasi di sana membuat saya banyak bersyukur menjadi orang Indonesia. 

Tapi masalah penculikan ini sudah dibantah oleh Prabowo melalui tangan kanannya, Fadli Zon. Dengan berbagai alibi dan tantangan yang masuk akal di kepala saya. Tapi seperti yang saya bilang, yang menolak Prabowo adalah hati, bukan kepala. Tak ada alasan rasional. 

Sampai saya membuka Ayovote yang menulis Plus Minus kedua kandidat capres-cawapres. Di sana ada satu kalimat yang menyatakan Jokowi, tidak memiliki jejak di Orde Baru. Sesuai dengan rumus 40-60 Pak B.J. Habibie. Rumus 40-60 ini maksudnya pemimpin yang pas untuk Indonesia adalah di rentang usia 40 sampai 60 tahun. Di bawah 40 terlalu hijau dan di atas 60 masih punya keterikatan sangat kuat dengan zaman Orde Baru.

Ini, rupanya ini yang menjadi alasan betapa saya kuat menolak Prabowo. Saya orangnya tak mudah percaya. Ketika saya sudah tak percaya, insting saya menasehati untuk menghindari kemungkinan membuat kesalahan yang sama.


Saya tak punya bukti Prabowo akan menghadirkan Orde Baru lagi di Indonesia. Tapi saya tidak mau ambil resiko. Seperti ketika saya sedang PDKT atau pendekatan dengan seseorang dan saya tahu dia punya track record sering selingkuh, saya tak punya jaminan dia tak akan mengulang. 

Saya yakin saya masih punya pilihan lebih baik!

Read more...

Festival Kesetiaan

>> Tuesday, December 31, 2013

Cintai aku lebih dari malam ini
Hingga aku merasa bosan
Hingga aku kembali lagi
Dan bernaung di bawah teduh matamu


Cintai aku melebihi residu kembang api
yang cantik gemerlap indah gemilang
yang menyerbu malam, meredupkan bintang
yang kemudian hilang
tanpa basa-basi

Cintai aku dari aku datang
Ketika aku berpaling
Sampai aku menemukan jalan pulang
Kepadamu...

Cintai aku malam ini...
dan seterusnya
dan selanjutnya
dan selamanya
hingga tahun menuntaskan nama kita.

Sambas, Menjelang Tahun Baru 2014

Read more...

Narsis is NOT a crime!

>> Tuesday, September 3, 2013

Sikap narsis kadang tidak selalu negatif. Bahkan perasaan ini diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Contohnya orang tua yang merasa narsis akan kemampuan anaknya. Sekilas perlakuan seperti ini mungkin dianggap akibat rasa cinta yang berlebihan pada anak. Tapi di sisi lain, anak menangkap pesan tersembunyi di baliknya; keyakinan besar terhadap anak bahwa mereka bisa melakukan sesuatu dengan tekad yang kuat. 

Seperti seorang yang saya kenal. Dia bermula dari seorang remaja yang malu-malu. Tidak pernah yakin bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu. Dia juga tidak percaya diri. Lalu datanglah sebuah momen yang menjadi titik balik baginya. Ia mengikuti lomba pidato dan mendapat juara. Sejak itu, ia berani maju ke depan. Ia percaya ia mampu menang. Tak lagi terbata-bata saat berbicara tapi lantang penuh keyakinan. Sebuah kepercayaan diri yang terus membantunya hingga di jenjang perguruan tinggi. Ia berubah jadi mahasiswa cerdas, aktif dan kritis. 

Hal ini penting semoga bukan hanya untuk saya. Sebagai guru, saya pernah merasa hampir menyerah mengajar siswa yang susah menerima materi. Atau tak juga mengingat kata dalam Bahasa Inggris, mata pelajaran yang saya pegang, sehingga sulit mencerna isi teks. Tak jarang keraguan ini tersampaikan kepada siswa tanpa sengaja. Saya mengatakan mereka banyak tertinggal dan butuh kerja keras untuk ujian. Menyiapkan diri untuk ujian dalam waktu singkat hampir mustahil. Sungguh sebuah pernyataan tak berguna. Ya, saya sadar sekarang.

Seharusnya saya mengatakan mereka harus tetap semangat belajar. Bahwa mereka pasti bisa sambil memberikan semampunya tips yang berguna. Penyesalan yang sekarang ditebus dengan memotivasi sepenuhnya siswa yang masih saya ajar. Saya mengatakan kata-kata yang meski klise tapi memang benar. Misalnya, ‘Jika orang lain bisa, mengapa ia tidak’, ‘Ia harus menunjukkan perbedaan dengan orang lain yang tidak ikut pelajaran tambahan Bahasa Inggris’, dan ‘Usaha yang keras memberikan hasil yang lebih baik’. Tentu dengan kerja sama dari orang tuanya yang memberi dukungan dan dengan narsis mengatakan ‘Kamu pasti bisa!’. 

Perlahan saya bisa melihat dia lebih termotivasi belajar Bahasa Inggris. Dia mengakui kalau ia makin suka dengan pelajaran ini. Terlihat juga dari kegemarannya memperbarui status Facebook dan BBM dengan bahasa Inggris. Pekerjaan yang lebih rapi dan teratur. Ia mulai mampu menjembatani perbedaan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia sehingga terbentuk pengertian yang lebih baik tentang isi sebuah teks. Hanya masih saja kesulitan menyerap kata-kata dalam bahasa asing. Tapi itu hanya masalah waktu. Sebagai pengajar, saya harus sabar dan terus narsis dengan siswa saya.  

Read more...

Giveaway Senangnya Hatiku: SeInchi dari S.Pd.

>> Thursday, January 17, 2013

Sebuah sore yang tenang. Aku tengah menulis dan melihat link Mas Akhman Muhaimin Azzet dibagi oleh bang Dwi. Ada ajakan menulis lagi tentang apa yang pernah membuat hatiku senang sekali. Aku tidak kenal Mas Azzet ini. Tapi supaya kenal, aku minat ikut kontesnya.
Subhanallah! Tak terkatakan banyaknya hal yang membuatku senang. Orang tua yang luar biasa, suami yang incredible, mertua dan adik-adik yang amazing, dan sahabat yang selalu ada. 

Namun ada satu hal yang baru-baru ini membuatku senang. Aku baru selesaikan sidang S1. 

Selama mengerjakan skripsi, aku ragu pada kemampuanku. Ibu suka bilang aku ”hangat-hangat tahi ayam”. Sebab aku sulit fokus dan sering meninggalkan sesuatu sebelum selesai. Aku punya satu folder tulisan yang tak selesai. Dulu pernah menulis tentang guru SMA, juga tak selesai. Cerpen juga macet. Les bahasa Prancis, belum lancar sudah berhenti. Keraguan ini berbisik terus di telinga. Skripsi jangan-jangan tidak selesai juga.

Tak terhitung sudah berapa kali aku menangis di tengah-tengah mengerjakan skripsi. Merasa tidak mampu, merasa gagal, merasa ini tidak bagus. Ada sensasi ingin muntah ketika mengelaborasi kalimat punya Vygostky dan McDermott, ahli yang kukutip. Pandangan orang yang meragukan dan membuat putus asa. Melihat teman-teman sudah selesai dan mengurus ijazah. Waaaah! Rasanya pengen terjun dari tugu Khatulistiwa!

Belum lagi kebutuhan ekonomi mendesak. Aku harus cepat dapat pekerjaan. Tapi tentu sulit karena aku harus bolak balik ratusan kilometer dari Sambas ke Pontianak seminggu sekali. Sampai di sana harus menunggu beberapa hari sampai dosen ada waktu. Tempat mana yang bolehin karyawan bolos hampir tiap hari?

Aku lawan semua ketakutan dan keraguan. Ketika aku merasa tertinggal, dengan enggan pun kusambangi keyboard. Mulai mengetik. Menangis lagi saat kelelahan. Tidur. Besok lanjut lagi. Alhamdulillah. Akhirnya selesai. Aku pun mengurus sidang tanggal 20 Desember 2012. Pas. Menutup tahun dengan sidang rasanya sesuatu sekali.

Rupanya cobaanku belum selesai. Pada tanggal 20 itu kedua dosen pengujiku diundang untuk seminar internasional dari pagi hingga sore. Lagi-lagi tak bisa menarik nafas lega. Air mataku luruh di depan ibu saat kami makan mi aceh. Malam itu juga aku ke kampus. Tak ada yang bisa dilakukan. Sidang harus diundur hingga 11 Januari 2013.

Aku memutuskan menikmati liburan. Tak banyak yang harus aku kerjakan lagi. Cuma tinggal menunggu. Hari sidang semakin dekat dan aku semakin tegang. Ditemani suami, aku berangkat ke Pontianak. Ketegangan mulai terasa sejak H-2. Ada kabar tak sedap lagi. Tanggal 11 dosen akan rapat jurusan. Pembimbing dan pengujiku harus menghadiri rapat itu. Lagi, air mataku jatuh di rumah makan Simpang Ampek. Aku sudah berpikir, kalau diundur lagi aku tidak mau sidang! Dalam kepasrahan, malamnya aku tetap belajar. Berdoa untuk yang terbaik.


Ruang sidangku: Calm before storm...
11 Januari 2013. Tegang minta ampun. Semua dosen datang kecuali pembimbing 1 yang sedang sakit. Penguji pertamaku bilang menurut aturan aku tidak boleh sidang. Tapi karena ini mendadak sidang boleh lanjut dengan catatan hasil sidang tidak bisa diumumkan. Aku lega. Dimulailah sidang. Kedua dosen penguji sangat baik dalam mengujiku. Pertanyaan-pertanyaannya juga bersifat mengarahkan bukan menjatuhkan. Sampai akhirnya aku diminta keluar saat semua pertanyaan telah dilontarkan.

Hari itu panas sekali. Di luar ruangan cukup ramai adik tingkat yang datang menonton dan teman-teman seangkatan yang memberi dukungan. Aku menyapa mereka tapi sebenarnya pikiranku kosong. Tak lama aku dipanggil masuk.


Pembimbingku membuka sesi kedua dengan bertanya tentang perasaanku.

“How do you feel now?”
“I am not sure, Mam.”

Aku seperti habis dibius oleh dokter gigi. Tak merasa apapun. Sidang akhirnya ditutup dengan pesan dan kesan dari dosen.aku masih tak merasa apapun. Sampai aku pulang. Suamiku tidur siang, kelelahan. Aku terdiam saja. Entah dari mana, aliran emosi meluap dari dada. Aku menangis tanpa bisa kukendalikan. Aku tak sedih karena nilaiku tak dibacakan. Aku tak sedih karena statusku masih belum S.Pd. setelah sidang. 

Aku bahagia. 

Bahagia karena menyelesaikan skripsi. Aku merasa ini sebuah pencapaian. Aku telah membuktikan pada diriku aku mampu menyelesaikan sesuatu. Aku telah mempersembahkan kelegaan pada ibu yang bekerja keras menguliahkanku. Aku telah menjawab semua ketakutan dan keputusasaan. Aku mau aku di masa depan mengingat hari ini ketika aku ragu akan kemampuanku. Bahwa aku bisa. Aku hanya harus terus melangkah. 

Read more...

Inspiring Teacher: Memberi Lebih, Lebih Memberi

>> Monday, November 12, 2012

  Berani kotor itu baik. Suamiku adalah bukti hidup dari slogan deterjen ini. 4 hari dalam seminggu dia bermotor bolak-balik melewati jalan yang berdebu saat panas dan berlumpur saat hujan. Bahkan kadang bergerilya saat jalanan banjir. Debu jalanan bisa membuat baju yang baru diganti kotor hingga di bagian kerah. Tas yang semula keren seperti barang usia puluhan tahun. Sebaliknya saat hujan, celana yang awalnya hitam mengkilat penuh lumpur hingga ke betis. Kadang sepercik dua percik nyasar ke baju, tas, dan segalanya. Sepatu? 

"Oleh-oleh dari sekolah"

"SMA tempat suamiku mengajar"
  Suamiku adalah guru. Dia bertugas di SMA Negeri 1 Galing. Galing adalah salah satu Kecamatan di Sambas, Kalimantan Barat. Ia satu-satunya guru bahasa Inggris di sekolah itu. Selama tiga tahun ini, kelelahan tidak pernah terasa berkurang. Sudah tidak heran melihat dia pulang, cuci muka, shalat, makan, langsung tidur. Dari pukul tiga sore sampai malam. Kalau kelelahan, sampai jam setengah 7. Kalau sangat kelelahan, sampai jam 10 malam. Lapar belum makan malam pun harus menunggu kelelahan berkurang. Mandi sore, hampir tak pernah.



   
Kadang aku mengeluh melihat efek kelelahannya. Kami pengantin baru. Belum sampai 3 bulan menikah. Tapi di hari kerja, dia terlalu lelah untuk canda tawa. Terlalu lelah untuk bermesra-mesra. Ini bukan pernikahan yang aku bayangkan dulu. Tapi keluhan ini berganti kecemasan. Miris melihat badannya yang makin kurus. Seringkali diguyur hujan, dia mulai bersin-bersin dan badannya panas. Besok harus ketemu jalan rusak lagi, mungkin diguyur hujan lagi.



“Yang, coba kamu minta pindah. Kan capek begini terus. Jalan jelek, motor hancur. Gaji habis buat betulin motor terus.”
“Mau pindah ke mana? Kalau semua guru mau mengajar di kota, siapa yang mengajar di daerah?”
“Tidak perlu di kota. Yang penting lebih dekat. Jalannya lebih bagus. Kenapa mau mengajar di sana terus? Kemarin sudah ada guru yang pindah ‘kan?”

Hening sejenak.

“Mana ada pekerjaan yang tidak capek. Lagipula, kalau saya pindah, siapa yang mau mengajar mereka. Kasihan. Mereka itu anaknya tidak nakal. Kalau ribut, dipandangi saja sudah diam. “
Aku menghela napas.
“Iyalah. Mudah-mudahan jalan cepat dibetulkan.”

Beginilah terus-menerus akhir percakapan kami. Cuma berharap perbaikan jalan yang dijanjikan bupati. Awalnya dijanjikan tahun 2012. Sekarang sudah penghujung tahun. Menunggu lagi. 

"Beginilah jalan sepanjang 41 KM yang harus ditempuh suamiku tiap harinya"

Semangatnya mengajar tak kendor. Dia sering duduk di sampingku, membuat materi presentasi. Mengantongi  Ben-Q adik ke sekolah untuk mengajar dengan presentasi. Dia sendiri tak punya laptop.

“Memangnya ada Infocus di sekolah?”
“Ada. Laptop yang tidak ada.”
“Kenapa perlu pakai presentasi. Biasa sajalah. Siswa Galing juga.”
“Pakai presentasi biar mereka tahu mengajar bisa seperti ini. Mereka tertarik. Mereka bisa belajar.”

Aku diam. Hatiku tersentuh. Kalau aku dengan lokasi kerja yang tidak mengenakkan seperti ini, energiku sudah tercecer di tengah jalan. Mengajar pun seadanya sajalah. Ogah memberat-beratkan diri dengan menenteng laptop sambil terguncang-guncang di jalanan sempit dan penuh petualangan begitu. Suamiku adalah pria yang cuek dan seringkali malas. Tapi rupanya ia punya satu hal yang tak pernah padam. Tanggung jawab pada pilihannya. 

     Kepeduliannya pada siswa tak selesai hanya di dalam kelas. Aku teringat lagi sarapan pagi di depan lembaran koran. Ketika hasil SPMB diumumkan. Dia mengecek huruf-huruf bertulisan kecil itu. Mencari siswa Galing yang lolos di universitas pilihan mereka. Aku melihat sekilas dan yakin tak ada nama mereka.

“Ada!”

      Mukanya bangga. Senyum lebar. Senyum hangat milik dia yang aku ingat. Senyum kebapakan yang membuat aku lekat. Secepat kilat dia SMS rekan guru yang tinggal di Galing untuk memberi tahu siswa yang lolos. Pengumuman kelulusan SNMPTN online juga tidak lantas membuat pengumuman ini mudah diakses siswa-siswa di Galing. Koneksi internet di sana buruk. Siswa paling-paling hanya bisa mengakses Facebook lewat ponsel dengan jaringan kartu GSM mereka. Itu yang mendorong dia juga membuat grup ‘English on Galing’ di Facebook untuk mengatasi sulitnya siswa di Galing memperoleh informasi. Selain SMS, lewat halaman Facebook inilah dia membagi informasi hasil tes SNMPTN. Merasakan kekecewaan siswa yang gagal dan ikut bahagia untuk siswa yang berhasil.

"Inspiring Teacher"
     Kurenungkan dalamnya kepedulian pria pilihanku ini. Ia tak mengayuh sampan untuk bisa tiba di sekolah. Ia tak membuat sekolah yang hampir tutup dibuka kembali. Dia bukan manusia super yang bisa diwawancara di Kick Andy. Tapi ia mau berkorban untuk orang lain. Dia gunakan teknologi yang akrab bagi siswanya untuk memberi manfaat lebih. 

Bagiku, dia inspirasi!







*)Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Gerakan Indonesia Berkibar 2012 


Read more...

Bulan Merah

>> Tuesday, October 2, 2012

jelang tengah malam
tinggal beberapa jam
masih terbayang bulan merah
di pagi hari
saat menuju pasar
kecantikan dan kengerian dalam satu hal
bahwa merah adalah pertanda
dan ia kerap berbahaya

jelang tengah malam
menjahit hati yang baret-baret
terjepit sana sini
oleh semua lakumu

jelang tengah malam
memangku laptop
tak mengindahkan bahaya radiasi
menelan bulat-bulat rasa kecewa
menyadari dalam hati cinta itu selalu ada

jelang tengah malam
memintal kemaafan
meski tak pernah terucap dari mulut yang menyesal
tapi demi ketenangan dan menghentikan air mata
aku harus memutuskan
mencoret setiap kesalahanmu
dengan pucuk pensil cinta yang kuraut
dengan keikhlasan

jelang tengah malam
jantung berdentam
pikiran tak bisa diam
aku memelukmu
sampai pagi
sampai berjumpa bulan merah lagi

Sambas, 2 Oktober 2012

Read more...

Perjalanan Menuju Halal

>> Sunday, August 5, 2012

Suatu malam tarawih saat aku SMP

Saat ini pertengahan Ramadhan. Shaf semakin sepi. Riuh rendah remaja berceloteh nyaris tak terdengar. Terganti dengan dar der dor bunyi petasan. Aku mengingatnya sebagai malam yang sendu. Di samping kiri kananku ibu-ibu paruh baya. Di shaf depan nenek-nenek semuanya. Saat berdiri dari sujud terdengar bunyi kretekan tulang lutut. Badan mereka tergopoh-gopoh untuk bangun.

Semuanya menjadi sebuah kejadian yang sangat lumrah. Di pikiranku semakin tua orang semakin terpacu mengejar pahala dan ridha Allah. Motivasi mereka, pikirku saat itu, karena umur telah menjadi sumbu yang kian pendek setelah dibakar jejak-jejak kemudaan.

Tak banyak ritual tarawih yang kuingat setelah malam itu. Mungkin karena semuanya menjadi biasa. Atau aku yang berhenti menjadi bagian di dalamnya.

Malam kedua Ramadhan 2012

Sesuatu membuatku tentram dan bahagia di awal Ramadhan ini. Entah apa tapi ada. Bisa jadi suasana dingin yang melembutkan perasaan. Bisa juga acara lamaran yang baru minggu lalu dilaksanakan. Yang jelas membuatku tergerak menumpahkannya di blog.

Malam ini aku memikirkan orang tua-orang tua yang kutemui tarawih dulu. Memandangnya dari perspektif yang berbeda. Bukan karena takut siksaan setelah kematian saja mereka bersusah payah jalan ke masjid. Tapi ada kesadaran dan ketenangan ketika mereka dekat dengan yang halal dan sejauh mungkin dari haram. Seperti ketenanganku ketika memutuskan untuk menikah.

Di usia ke 23 aku bisa merasakan banyak perubahan. Dulu aku banyak menuruti nafsu dan perasaan. Tak peduli apa jadinya hidup dan masa depan. Modal nekat dan berani saja. Aturan dan norma sering dihajar. Sekarang aku mau menjadi sebaik-baiknya untuk anak-anak dan keluargaku di masa depan. Hubungan yang membahagiakan rasanya semakin indah ketika sudah halal. Segala bentuk rasa cinta dan kebersamaan terasa bebas dari dosa ketika semua sudah halal.


Menuju Pernikahan

Pelan-pelan aku dan pasangan mencicil persiapan menikah. Di laptop aku siapkan folder sendiri untuk persiapan nikah. Yang paling berat tentu menyiapkan antaran bagi pihak perempuan. Antaran berupa perlengkapan mandi, perlengkapan kosmetik, perlengkapan pesta, pakaian tidur, alat shalat, perlengkapan kamar tidur, dan satu set emas. Antaran berbeda-beda di tiap budaya. Karena calonku dari Sambas maka ada tambahan kain benang emas Sambas dan kebayanya.

Aku hati-hati sekali memilih produk yang akan dibeli agar tidak mubazir. Terutama masalah kosmetik. Seringkali aku jerawat batu kalau salah memakai bedak. Untuk perlengkapan kosmetik nanti aku ingin gunakan Wardah karena lembut dan ramah kepada wajahku yang berminyak. Wardah tidak mengandung bahan-bahan yang bisa membuat pori-pori tersumbat sehingga terhindar dari jerawat.

     List belanja Wardahku:
  • Untuk bedakan di rumah, Luminous Face Powder. Dia dibuat dengan oil control jadi bisa menyerap kelebihan minyak.
  • Lalu untuk bepergian, Wardah Luminous Two Way Cake. Sebenarnya ada yang compact powder cuma kalau Two Way Cake tidak perlu lagi pakai foundation. Tinggal basahkan sedikit spons langsung menempel bedaknya.
  • Wardah Moisturizer Gel. Ini penting dipakai tiap pagi. Dengan cuaca yang kering sekarang ini, perlu pelembab yang membuat kulit lembut. Karena ada oil control, aku tidak khawatir menggunakan pelembab Wardah ini.
  • Karena aku pakai kacamata jadi tidak beli make up untuk wilayah mata. Budgetnya aku gunakan untuk wilayah bibir. Yang harus adalah Lip Balm Wardah untuk merawat kelembutan bibir. Lip Balm ini untuk dioleskan pagi dan malam.
  • Untuk di rumah, aku akan beli Lip Gloss Wardah. Produk ini bisa mengembalikan warna bibir yang kehitaman karena memakai lipstik terlalu sering tanpa cukup pelembabnya.
  • Untuk jalan-jalan biasa aku suka yang ringan. Ada produk Hydrogloss Wardah yang warnanya transparan tapi membuat bibir kelihatan segar dan cantik. Hydrogloss banyak vitaminnya seperti ekstrak lidah buaya, jojoba oil, dan vitamin E.
  • Untuk undangan, aku suka yang membuat bibir terlihat basah. Jadi aku pilih Exclusive Lipstick yang banyak vitamin E, jojoba, dan olive oil. Kandungan yang biasa diberikan untuk merawat kulit bayi.
Yang paling penting, Wardah terbuat dari bahan-bahan yang dijamin halal. Insya Allah, yang halal lebih baik.

Read more...

LDR dengan Ponsel Pintar

>> Thursday, June 14, 2012

Sepertinya sejak 1 Juni 2012 biaya komunikasi jadi mahal. Maklum tidak ada lagi SMS gratis ke semua operator. Makin susah kontak dengan ibuku dan saudara jauh. Apalagi sekarang aku LDR alias hubungan jarak jauh dengan ibuku. Kalau dulu tinggal SMS kalau habis masak nasi goreng enak. Sekarang SMS sering gagal karena kehabisan pulsa.

Sebenarnya murah juga kalau chat. Tapi artinya harus cari ponsel pintar baru yang cocok.
Buat aku ponsel pintar bukan ponsel yang mahal. Tidak mesti yang canggih dengan segala macam fitur seperti push-email yang akhirnya tidak pernah disentuh. Ponsel pintar itu harus gampang dioperasikan. Maklum, ibuku suka yang praktis. Lebih memilih model candy bar. Ukurannya jangan kebesaran seperti kebanyakan smart phone zaman sekarang.
 

Bagus untuk internetan. Soalnya kalau ada fitur internet tapi lambat, jadi malas juga. Waktu cari di Google ada Nokia Asha 202. Murah, di bawah 800 ribu. Tidak neko-neko. Unik juga karena dual sim card nya bisa diganti dari samping. Jadi tidak buka penutup belakang. Yang lebih keren lagi dia touch screen tapi ada keypad biasa juga. Yang buat ponsel ini makin menarik karena ada tawaran pintarnya.
 

Jadi di Nokia Asha 202, ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. 

Kalau pakai paket Hebat Keluarga, komunikasi jadi murah. Jadi paketnya telpon gratis sepuasnya ke 4 nomor Indosat. Boleh pilih siapa saja. Syaratnya cuma isi 10 ribu sekali. Bisa dipakai sebulan. Kalau telpon-telponan dengan Nokia Asha 202 bisa tahan 5 jam bicaranya. Ada juga 200 SMS gratis ke semua operator setelah setelah pakai 500.
 

Enaknya juga karena ada bonus Layanan Info Wanita. Jadi ada fitur di ponsel Nokia Asha 202 itu yang bisa berikan info khusus untuk Wanita. Gratis setahun.
 

Indosat juga punya fitur Lacak. Cuma dengan masukkan nomor indosat, pengguna bisa tahu di mana lokasi yang punya kartu. Jadi kalau ada percobaan penipuan, ibuku bisa lebih pintar menghindarinya.
Nah, sudah ketemu solusinya. Tinggal beli Nokia Asha 202 yang ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes "Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia"  yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

Read more...

Macet di A. Yani : Pemuda Dayak?

>> Thursday, March 15, 2012

Langit senja menyepuh awan hingga menjadi keemasan. Sudah pukul 5 lewat 40 menit. Jalan A. Yani macet. Motor, mobil, pick-up, bis, dan truk nyaris tak bergerak. Kemacetan dimulai dari depan hotel Mercure. Beberapa pengendara motor memilih belok ke Jalan Perdana, samping Mega Mall, untuk menghindari kemacetan di depan. Banyak juga yang tetap lurus termasuk saya. Dengan perlahan-lahan menaikkan gas motor dan hati berdegup, saya terus maju. Bertanya-tanya apakah tidak salah memilih rute ini. Beberapa anak usia tanggung sampai berdiri dengan tangan masih memegang stang. Setengah ingin tahu, setengah waspada.

Makin dekat museum, macet makin parah. Kami hampir tak bergerak. Masih belum nampak apa penyebab kemacetan yang ada. Saya hanya melihat seorang pemuda mencopot banner Yamaha dan berjalan. Meski tegang, ada kilatan semangat di antara geraknya. Ternyata ia melintangkan banner yang di terikat pada kayu itu di jalan masuk menuju Jl. Sutoyo. Di sini jalan sudah macet total. Palingan hanya bisa mencuri satu dua meter kedepan, menyelip antara ruang-ruang yang renggang.

Suasana mulai tegang. Berduyun-duyun pemuda muncul. Ada yang berambut panjang dan bermuka sangar. Ada yang merengsek maju ke depan barisan. Mereka berjalan berdua-dua atau bertiga-tiga. Membentuk sebuah barisan panjang. Sebagian besar dari mereka memakai atribut merah. Kain merah yang diikat ke kepala atau lengan. Seorang pemuda menyandang mandau dalam sarungnya. Pemuda yang lain hanya membawa sarung tanpa mandau. Yang lain mengacung-acungkan kayu ke udara. Seorang pria tak berbaju berbadan legam berteriak,”Dayak, dayak.”

Rupanya barisan ini yang menyebabkan kendaraan tak bergerak. Bersumber dari jalan Veteran, mereka mengarah ke jalan Sutoyo. Kemungkinan menuju Rumah Betang, rumah adat Dayak, yang berada di jalan itu. Polisi nampak siaga mengatur lalu lintas dan mengarahkan para pemuda ini.

Suasana di jalan A. Yani walaupun cukup menegangkan tidak segawat cerita orang-orang. Setidaknya tidak seekstrim yang saya bayangkan. Tidak ada pertumpahan darah atau bayangan buruk yang mengikuti sebuah kerusuhan. Saat langit makin mendung dan matahari kian turun, saya sudah melaju pulang. Dari pengeras suara masjid mulai terdengar suara orang mengaji.

Saya menarik napas lega. Lagi-lagi baru tersadar betapa indahnya kedamaian yang tak pernah saya syukuri sampai sore tadi.

Read more...

Orang Sambas Pelit?

>> Friday, September 2, 2011

Saya kaget waktu dengar beberapa orang memberikan stereotipe pelit kepada orang Sambas. Padahal saya kenal beberapa orang Sambas dan tak satu pun yang mewakili stereotipe tersebut. Yang saya tahu orang Sambas itu ramah dan pemurah terutama kepada tamu. Kebetulan sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan pria Sambas. Saat ke rumahnya, yang saya dapati adalah perhatian dan kehangatan dari segenap keluarga besar. Setiap pagi saya pasti dijamu dengan kroket hangat dan ditanya mau minum apa. Mamak, begitu ibu pacar saya disapa, kemudian sibuk di dapur mempersiapkan lauk-pauk untuk makan. Setelah itu, saya diajak makan.

“Tambahlah nasi’,” selalu mamak berujar seketika piring saya kosong.

Belum lagi jika ada penganan seperti kerupuk. Tidak pernah saya tidak dipersilahkan untuk makan. Tidak pernah pula mereka menahan-nahan makan cuma karena saya sedang menginap. Pokoknya, apa yang mereka makan, itulah yang saya makan.

Mengingatkan saya pada beberapa teman kampus yang asal wilayah Sambas. Satu teman saya, Hatifah. Dia mahasiswa nge-kos di dekat kampus. Dulu, waktu ada jam kosong, kadang saya mengungsi ke kosnya sampai mata kuliah berikutnya. Dia juga rajin berbagi terutama makanan meskipun kondisinya sendiri terbatas. Sering saya tahu dia cuma makan seadanya, terutama saat uang kiriman belum tiba. Tak jarang sarapan dan makan malam hanyalah mi instan yang dibagi dua. Itu pun jika ada teman lain di kos yang tidak makan, pasti akan dibagi.

Makanya, sekali lagi saya bilang, saya kaget mendengar ada stereotype bahwa orang Sambas itu pelit.

Itulah masalahnya dengan stereotipe. Seperti ramalan zodiak yang kadang kebetulan benar, ia terus dipakai untuk menyamaratakan karakteristik sebuah kelompok. Hal ini sudah berurat berakar dalam pemikiran masyarakat Indonesia. Meski terlihat sepele, ini adalah hal yang berbahaya di negara dengan keberagaman. Stereotype baik menimbulkan kekecewaan ketiap yang terjadi berlawanan. Stereotype buruk membuat orang enggan menjalin silaturahmi dengan suku tertentu karena sudah timbul prasangka atau prejudice.

Mungkin tidak semua orang begitu termakan dengan stereotipe. Terutama orang yang sudah berulangkali memiliki pengalaman bahwa tidak semua orang dalam satu suku itu sama walaupun dibesarkan dengan adat yang berbeda. Saya hanya bisa berharap bagi yang memiliki kejengahan pada stereotipe seperti saya bisa terus menularkannya kepada orang lain.

Read more...

And Who?

>> Monday, June 27, 2011

A shadow was lurking me
At first, I saw none
Though it's never gone
It kept me company

Day by day
This shadow looked more like me
a sense of familiarity
made us one entity

Yet the more we collided
the more fear grows inside

I ran
It followed
Well, after all it was my own shadow

One day, as if tired
This shadow started to vanish
And finally, I am able to breath
Though a strange feeling arises
That I am becoming more like it

Pontianak, 27 Juni 2011

Read more...

Amazing: Fried RIce for Rp 2000!

>> Friday, June 24, 2011

All my life, I have never felt so shocked before.


Well, I have experienced all kind of surprising events. For example, when a boyfriend turned up before my eyes unexpetedly. Or when someone prepared a birthday cake in my birthday. Or when my boyfriend (ex now) sent wrong SMS to his another girlfriend to me. Well, those things are really stung my heart, either in good or bad way.

But for food, it is different. I know a feeling when tasting a delicious food. But always I am kinda worry about myself financially or worry about my diet. This time, I did not only find a amazingly great food, it was also in my portion and under my budget.

I was feeling a bit hungry yesterday afternoon. I am in a diet program to lose about 3 kg this month so I have been cutting my eating portion and avoiding dinner. Usually I eat at 3 pm but yesterday I just so busy that only after 5, I realized I haven't eaten anything. So I took my key and started looking for food. Then, came my biggest problem. To find a small portion food but not the simple rice and veggies. And it should be near where I live.

I then picked a place. It sells Pecel Lele, Pecel Ayam, Nasi Goreng or Fried Rice. I remembered coming here for Pecel Lele and it had such a nice service. So I ordered a half portion of Fried Rice and when it's time to wrap my order, I stood near the chef and told him the exact portion that I desired. Thank God, he was willing to listen to me! When it was time to pay, I asked him in Javanese,"Piro Mas?" which loosely translated as,"How much?" Then he answered, Rp 3000. I only had two Rp 2000 bill, so I handed it to him. And to my amazement, he gave one of the bill back. So I practically paid only Rp 2000!

Now, with this simple thing, how could I be so happy? It was not about the money, but the service. That the man were willing to give me my desired portion. C'est bon, aussi. As a costumer, that what I want to buy and it was the one who made me satisfied. Now, when I thought about fried rice, I'll be damned if that place did not come first in my mind.

Read more...

Kisah Kecil di Balik Malam

>> Sunday, June 19, 2011

sekali lagi
malam menelan senja
lampu merkuri
menyulap beringin menjadi ramah
bintang mengernyit
bulan mengintip dari celah kabel listrik
malam lelap

seekor burung gereja tersesat
gamam, gagap membaca arah
tak pernah ibunya membekali kompas
atau menyuruhnya menebar biji timun emas
dan ia lelah
berharap pada keajaiban

Pontianak, 19 Juni 2011

Read more...

Ariel, Luna, dan Berita

>> Friday, December 31, 2010

Lagi-lagi kisah baru berkaitan dengan Ariel dan Luna, pasangan seleb yang katanya memiliki video asusila. Sudah ratusan berita mengenai mereka dalam beberapa bulan terakhir. Inilah yang mungkin membuat OkeZone kehabisan kata-kata dan kehabisan sudut pandang.


Lihat saja di berita berikut:

“Tersangkut kasus video porno tak membuat Ariel dan Luna Maya sepi peminat. Buktinya, produser Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat tertarik menyatukan pasangan kekasih itu dalam sebuah film.

"Saya tertarik juga mengajak Luna Maya dalam film saya. Malahan kalau bisa saya ajak Ariel main, akan saya ajak Ariel. Pasti itu akan lebih bagus lagi kalau mereka akting berdua," ujar Ody saat berbincang dengan Okezone via telepon, Kamis (30/12/2010).

Ody menuturkan, ide mengajak Ariel dan Luna bermula saat dirinya hendak menggandeng Olla Ramlan dalam film produksinya. Setelah melalui diskusi panjang, ternyata banyak yang menyambut positif rencana itu.

"Saya kemarin sempat ngobrol tentang tawaran ke Luna sama Olla Ramlan . Kebetulan Olla juga rencananya saya ajak dalam film drama. Saya memang sedang merencanakan hal itu. Apalagi tanggapan orang-orang juga baik," paparnya.

Namun, Ody belum bisa memastikan jenis film apa yang akan dimainkan Ariel dan Luna. Pasalnya, dia masih harus melihat cerita dan skenario yang cocok untuk pasangan yang saat ini dipisahkan teralis besi itu.

"Kalau Olla saya ajak di film drama. Nanti kalau Luna masih akan kita lihat lagi. Apakah cocoknya film drama juga atau film thriller," tandasnya.”

Kalau dicermati, berita ini sangat tidak enak dibaca. Bukan merujuk pada isi tapi pada penulisannya. Di paragraph pertama, ditulis penjelasan bahwa Ody akan mengajak Ariel dan Luna main film. Lalu dipertegas dengan kutipan langsung di paragraf kedua. Ini masih normal.

Tapi di paragraph ketiga dan seterusnya, ditulis dengan model yang sama. Sayangnya penjelasan dan kutipan langsung mengandung informasi sama dan terasa berulang-ulang. Kejadian ini bukan hanya terjadi dalam berita di atas. Ada berita-berita lain yang ditampilkan di Yahoo mengalami kasus sama. Kutipan langsung masih dijelaskan kembali.

Padahal, kutipan langsung hanya perlu dijelaskan jika kalimat yang digunakan sulit. Sebaliknya jika ingin menggunakan penjelasan, kutipan langsung dapat dihilangkan saja kecuali sangat penting melihat pernyataan dari narasumber.

Akhirnya kesan yang timbul saat membaca berita itu adalah keinginan mencukupkan jumlah kata. Pokoknya jangan sampai berita kelihatan pendek. Namun kenyaman pembaca yang jadi korban.

Jika berita tadi diedit, hasilnya kurang lebih seperti ini:

“Tersangkut kasus video porno tak membuat Ariel dan Luna Maya sepi peminat. Buktinya, produser Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat tertarik menyatukan pasangan kekasih itu dalam sebuah film.

"Saya tertarik mengajak Luna Maya dalam film saya. Malahan kalau bisa saya ajak Ariel main, akan saya ajak Ariel. Pasti itu akan lebih bagus lagi kalau mereka akting berdua," ujar Ody saat berbincang dengan Okezone via telepon, Kamis (30/12/2010).

Ody menuturkan, ide mengajak Ariel dan Luna bermula saat dirinya hendak menggandeng Olla Ramlan dalam film produksinya. Setelah melalui diskusi panjang, ternyata banyak yang menyambut positif rencana itu.

Namun, Ody belum bisa memastikan jenis film apa yang akan dimainkan Ariel dan Luna.
"Kalau Olla saya ajak di film drama. Nanti kalau Luna masih akan kita lihat lagi. Apakah cocoknya film drama juga atau film thriller," tandasnya.”

Read more...

TOEFL score, No Pain No Gain

>> Friday, December 10, 2010

For non-native students who want to apply for a scholarship in International universities, having TOEFL test is one of the requirements. Usually, the minimal score is 500. Some universities even target the minimal TOEFL score of 600.

Achieving those scores is not easy, though. There are three skills which must be mastered equally by the test takers. They are listening, structure, and reading comprehension. In the scoring, these three scores will be converted, added, multiplied by ten, and divided by three.
Thus, being good in one of the skill is not enough.

Many test takers complaint about how difficult it is to get good score from the test. Some people have experienced taking the same test for more than 10 times but nothing change. What is the real problem? One basic point to know about TOEFL test is it measures the knowledge of English from the test takers. Therefore, it is impossible to increase the score if the test takers did not enrich their knowledge about English. Merely learning from a book at a glance is not helping. Learning the materials altogether the night before the test is also futile effort.

The key is learning plan. Just like a football game needs game plan, TOEFL test does too. A student must have been aware of his own knowledge of English and his ability to absorb new material. Knowing this, only the person itself knows how long it takes to prepare for facing the TOEFL test. The next thing to do is searching as many materials to learn as possible. Internet provides many kinds of exercises from listening to reading comprehension. For listening, exposing self to English movies or radio talks, which are also available in the internet, improve learning ability.

Other than having good material sources, it is better to make dateline of learning. For example, I will master from page 1 to 30 in two days. Or I can finish reading ten texts and answer the questions in one day. Probably simple and everybody knows how to do it but only few who actually apply this method.

Finally, if a test taker is serious in doing those steps, undoubtedly the TOEFL score is going to increase. Good luck!

Read more...

Aku Bukan Rendra

>> Thursday, May 6, 2010

aku bukan Rendra
kalau aku mati
tak akan ada 1.200 orang mengantar jenazahku

tak ada puluhan karangan bunga
dunia akan berputar seperti biasa

maka aku tak boleh cepat mati
aku selalu melihat diriku sebagai narasi
memacu harapan terus abadi
maka aku tak boleh gantung diri

rendra tidak pernah mati
ia meninggalkan puisi*

maka aku terus menghitung berapa kali
aku menulis puisi


Pontianak, 28 Agustus 2009

*sebuah tulisan di karangan bunga untuk rendra dari komunitas sastra

Read more...

Mohon Dukungannya di Djarum Black Blog Competition Vol. 2

>> Saturday, February 13, 2010

Djarum Black Blog Competition adalah lomba blog yang menuntut peserta menjadi kreatif, ekspresif, dan peduli dengan sekitarnya. Dari pengalaman tahun lalu, cara penulisan bukan kriteria utama. Blog yang unggul terletak pada kecerdasannya memilih ide. Poin tambahan juga sepertinya diberikan pada desain yang kreatif dan catchy. Berbeda dengan tahun lalu, ada kategori juara favorit yang ditentukan dengan vote.

Dibanding tahun lalu, kompetisi kali ini menjanjikan hadiah yang lebih menarik. Juara 1 mendapatkan netbook DELL, Juara 2 mendapatkan Blackberry Javelin, Juara 3 mendapatkan Blackberry Gemini, Juara favorit mendapatkan iPOD Touch 8 GB, dan 7 blog terpilih lainnya mendapatkan voucher 500 ribu rupiah.


Hingga saat ini, peserta yang terdaftar sudah berjumlah sekitar 500 blog.


Salah satunya saya. Tahun lalu saya belum berkesempatan menang. Tapi saya yakin, tahun ini saya bisa berusaha lebih keras. Mudah-mudahan bisa menjadi satu di antara 10 blog terbaik. Mohon dukungannya untuk vote Yauma Yulida Hasanah dan kunjungan di blog Black Generation. Ada banyak info menarik yang layak dibaca.


Semoga lomba ini membuka kesempatan para blogger menjadi lebih bersahabat dan bersaing secara sehat.


Go Blogging!



Read more...

Di Balik Jendela

>> Wednesday, December 30, 2009

Tanggal 31 Desember. Seorang anak manusia di tengah tumpukan pekerjaannya berpaling ke jendela. Ia berhenti menuliskan laporan akhir tahun, memberikan sedikit celah untuk bertanya pada diri sendiri,”Apa yang telah kulakukan pada hidupku?”

Di luar, mobil ngebut seolah tak ada hari esok. Truk pembawa kembang api mengklakson-klakson seperti jam 12 malam tinggal sedetik lagi. Pengendara motor menggeleng-geleng pada pengemudi sepeda, mungkin bertanya-tanya kenapa di hari sesibuk ini masih ada yang mau pakai sepeda.

Kaca memantulkan ia juga. Garis matanya telah timbul, rambut acak-acakan, dan perut buncit seperti Santa. Ia menghela napas.

“Ini yang kuperbuat pada diriku. Entah apa lagi.”


Pontianak, 31 Desember 2009

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP