Showing posts with label Finger Note. Show all posts
Showing posts with label Finger Note. Show all posts

Di Balik Jendela

>> Wednesday, December 30, 2009

Tanggal 31 Desember. Seorang anak manusia di tengah tumpukan pekerjaannya berpaling ke jendela. Ia berhenti menuliskan laporan akhir tahun, memberikan sedikit celah untuk bertanya pada diri sendiri,”Apa yang telah kulakukan pada hidupku?”

Di luar, mobil ngebut seolah tak ada hari esok. Truk pembawa kembang api mengklakson-klakson seperti jam 12 malam tinggal sedetik lagi. Pengendara motor menggeleng-geleng pada pengemudi sepeda, mungkin bertanya-tanya kenapa di hari sesibuk ini masih ada yang mau pakai sepeda.

Kaca memantulkan ia juga. Garis matanya telah timbul, rambut acak-acakan, dan perut buncit seperti Santa. Ia menghela napas.

“Ini yang kuperbuat pada diriku. Entah apa lagi.”


Pontianak, 31 Desember 2009

Read more...

Impoten, Lu!

>> Saturday, July 4, 2009

Bagaimana rasanya jadi seorang tukang tahu yang tak lagi mampu membuat tahu? Atau tukang becak yang enggan mengayuh?


Begitulah yang saya rasa saat ini. Banyak sekali kisah yang menarik untuk dituliskan tapi tetap saja otak malas berpikir. Seperti atlet lari yang kehabisan tenaga.

Bagi penulis, karya adalah nyawa. Ketika berhenti melahirkannya, saat itu juga nafas akan terhenti dan hidup seperti tak punya arti.

Ini bukan dramatisir, tapi nyata, sebagaimana senja.

Habis sudah waktu saya. Sekarang saya dapat libur sekitar dua bulan. Tapi tak satupun tulisan yang rampung. Bahkan liputan pun tersendat-sendat. Waktu saya habiskan membaca buku tapi tidak menulis. Yah, seperti mengisi gelas hingga tumpah tapi tak memberi manfaat apa-apa.

Saya seperti zombi.

Semoga, dengan menulis ini, otak saya bisa ereksi.

Read more...

Asik! Kalah Lagi..

>> Monday, April 6, 2009

"Yakinlah, bahwa suatu keberhasilan memang butuh waktu, tenaga, ketekunan dan kesabaran."

Saya menemukan secercah kata dalam e-mail autoreplay dari Internet Sehat. Entah karena kehadirannya yang tiba-tiba atau karena saya sedang sensitif, kata-kata ini terasa mengena sekali.

Kebetulan saya baru saja mengalami kekalahan berturut-turut.

Kekalahan memang bukan terjadi sekali dua pada saya. Dari awal 2009 saja, saya sudah gencar mengirim cerpen dan puisi ke beberapa perlombaan. Misalnya lomba penulisan cerita anak yang diadakan FISIP UI. Atau Lomba Penulisan Puisi Radar Bali Literary Award 2009. Lalu lomba debat tingkat universitas pada, 3-5 April lalu.

Dalam ketiga lomba tersebut, saya tidak berhasil.

Tim saya, FKIP 2, gugur di perdelapan final. Lumayan, masih masuk perdelapan.

Di pengumuman Radar Bali Literary Awards, puisi saya tidak terlihat.

Apalagi Lomba cerita anak FISIP UI, pengumumannya saja saya tak terima.

Inilah yang dinamakan proses belajar.

Tiba-tiba saya teringat kata 'mental ksatria'. Mental seseorang yang berjiwa besar dan siap mengakui kekalahan.

Mungkin, mungkin setiap orang harus melatih mental ksatrianya sebelum menjadi pemenang. Agar kemenangan kelak pun lebih manis karena bagian yang berat telah mampu dilampaui. Kemampuan telah ditingkatkan. Kualitas diri bisa dipertanggungjawabkan.


Read more...

Mengajak Ibu Belajar “Surfing”

>> Saturday, March 14, 2009


IPTEK semakin hari makin berkembang. Jika dulu informasi didapat dengan menekuri ribuan buku dan literatur, sekarang tinggal mengetik sejumlah kata kunci. Ribuan tulisan yang sesuai akan muncul. Malang bagi orang-orang yang keduluan lahir atau orang-orang yang tidak mau belajar. Saya mendengar seorang dosen berkata,”Kalian beruntung hidup di zaman Internet.” Yang lain mengatakan, mereka bukannya gaptek (gagap teknologi), hanya mereka tidak lahir di era ini.

Apapun alasannya, saya yakin belajar adalah portal. Belajar adalah jembatan dari era ke era. Buktinya banyak juga yang bisa mengimbangi kemajuan internet dengan belajar terus-menerus. Atau merintis jalan belajar secepatnya.

Ibu saya misalnya. Beliau adalah seorang pegawai negeri di Kanwil Pontianak. Sejak lima tahun lalu, internet sudah diinstal di kantornya. Fasilitas ini dipakai terutama untuk mengirim data pusat dan sebagainya. Sayang, masih banyak karyawan hingga saat ini masih belum fasih dengan internet. Termasuk ibu saya tercinta.

Tapi beliau tidak menyerah. Hari ini begitu saya install internet di rumah, beliau langsung menyatakan ingin belajar. Maka saya langsung semangat dan mengajaknya membuat akun di Yahoo!.

Saat pendaftaran berlangsung, beliau bertanya,”Kita udah masuk internet kah?”

Saya tak mampu menahan senyum. “Sudah dari tadi kan, Bu’?” saya bilang.

Kami kemudian menekuni laptop selama satu jam. Saya yang mula-mula mendaftarkan. Beliau melihat. Saya minta ia mencatat alamat e-mail dan password, khawatir dia lupa. Kebetulan Yahoo! Sedang tak lancer. Belajar kami agak tersendat-sendat. Sambil menunggu akunnya terdaftar, kami membuka beberapa situs. Saya menunjukkan kepadanya blog saya. Lalu kami mengunjungi kompas.com dan google tentunya. Beliau ingin membaca berita-berita keuangan. Saya rasa ini pun untuk belajar.

Setiba di kompas.com, beliau terpukau dengan data-data yang luar biasa banyak. Ia membuka rubrik keuangan. Berita yang pertama dibacanya adalah “inilah Orang-orang Kaya Indonesia”. Beritanya tentang lima pengusaha di Indonesia yang “terselip” ke jajaran orang kaya dunia versi Forbes.

Seperti yang dilansir situs Tempo, pemilik perusahaan rokok Djarum, Budi Hartono dan Michael Hartono, menjadi dua dari tiga orang Indonesia--satu lagi Peter Sondakh-- yang sukses merangsek ke dalam daftar manusia berkocek paling tebal versi Forbes ini. Duo Hartono itu menempati posisi 430, sekaligus menjadi orang terkaya di Tanah Air.

Lalu kami kembali ke Yahoo! Akun sudah terdaftar. Mulailah beliau belajar membuka e-mail. Kami keluar dulu, lalu masuk lagi. Pelan dan tergagap-gagap beliau mengetik. Pertama, karena beliau tak akrab dengan anatomi laptop saya. Kedua, karena belajar membuat e-mail sama sekali asing baginya. Kami ulang prosedur membuka e-mail sampai tiga kali. Makin lama beliau makin paham dan lancar.

“Udah dulu ya Nak. Ibu sampai keringatan.”

Saya melihat wajahnya. Nampak butir-butir keringat mengantri di atas bibir dan di daerah dagu. Rupanya ibu saya gugup sekali.

Kami tertawa.

“Terima kasih ya Nak,” ibu saya berlalu sembari mengelus rambut saya.

*foto:simplemom.net

Read more...

Akhirnya...

>> Saturday, March 7, 2009

Hore! Hore! Hore!

Akhirnya tulisanku terbit. Meski bukan di Kompas edisi cetak, tapi lumayan diterbitkan di Kompas.com.

Tulisannya pendek saja. Hanya mengenai seorang perempuan yang menulis surat pada kekasihnya. Kekasihnya seorang wartawan yang meliput ke “daerah perang”.

Aku sangat suka cerpen ini sebab entahlah jika orang mengatakan tentang “soul”, nah di karyaku yang ini ada soul yang unik. Mungkin hanya perasaanku. Tapi ada rindu yang kuat sekali dalam cerita ini.

Wuih, aku tak bisa banyak komentar tentang tulisan ini sebab jatuh-jatuhnya narsis. Jika berminat membaca, kunjungi saja Kompas.com di rubric Oase. Ceritanya berjudul “Senja Untuk Wisnu”.


Read more...

Yang Tak Terbahasakan--1

>> Wednesday, January 21, 2009

Saya menulis sebenarnya karena iri. Ini juga ditulis karena cemburu. Pasalnya, beberapa teman plus pengampu Pelatihan Jurnalisme Sastrawi sudah mendokumentasikan momen ini. Saya belum.

Sebenarnya bingung juga mau menulis apa. Bukannya karena tidak penting tapi ada peristiwa tertentu yang tak terbahasakan. Kalau dibilang senang, lebih dari itu. Kalau dibilang antusias, ke sana lagi antusias. Begitulah.

Yang jelas, siapa sih tak bangga ikut pelatihan yang diadakan Tribune Institute ini. Pelatihan pertama Jurnalisme Sastrawi di Kalimantan Barat. Yang mengajar, murid langsung Bill Kovach, Andreas Harsono. Peserta lain, ada yang dari Jerman, ada yang pengacara, ada dari NGO, ada redaktur, ada wartawan. Dahsyat.

Saya? Mahasiswa.

Kesempatan emas yang sangat berharga. Lain kali lanjut cerita lagi.

Read more...

Warnet dan Pembantaian

>> Monday, January 12, 2009

Saya masih duduk di warnet saat itu. Mengerjakan tugas yang menumpuk menjelang ujian akhir.
“Eh, Grammar udah selesai belum?”
“Belum. Banyak soalnya! Tapi ramai yang belum.”
“O.. baguslah, ada kawan”.
Bukannya kabar, setiap baru sampai di kampus, malah tugas yang ditanyakan.

Sedang serius mencari artikel tentang Cooperative Learning, tiba-tiba seorang pria menyeletuk,”Kenapa ya Hitler dulu tak habiskan saja Yahudi?” Saya baru sadar ternyata yang dibicarakan invasi Israel ke Palestina.

Mereka bertiga. Dua orang di antaranya penjaga warnet. Yang seorang tampaknya teman mereka. Mendengar temannya bicara begitu, dua penjaga warnet tak menanggapi. Khawatir dua teman bicaranya tak paham soal sejarah Nazi dan Holocaustnya, ia menjelaskan sedikit. Tapi lagi-lagi tak ada tanggapan. Ia berlanjut tentang saham.

Saya nyengir sendiri. Tak bisa dibayangkan sebuah pembantaian merasionalisasikan pembantaian lain. Padahal sejatinya, pembantaian itu sinting. Israel membantai Yahudi, karena tanah, itu sinting. Apapun alasannya. Dulu Hitler membantai Yahudi juga gila. Tapi meski sekarang Yahudi yang jadi pelaku, tak pernah ada celah untuk pembenaran.

Perang selalu menyakitkan. Selalu meyisakan penyesalan. Selalu membunuh harapan. Dalam perang, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.

Read more...

Ketika Berita Ber-Striptease Ria

>> Wednesday, December 10, 2008

Berita. Sebuah karya jurnalistik mengenai suatu peristiwa yang lazimnya aktual dan akurat. Orang yang menulis berita disebut pewarta atau wartawan.

Sejalan dengan reformasi dan kebebasan pers di Indonesia--katanya sih bebas--berita dan media makin marak dan beragam. Semua yang bisa dibuka, dibuka. Malah makin vulgar. Misalnya liputan-liputan kriminal di media cetak dan elektronik. Sebagian besar sarat nuansa kekerasan fisik dan seksual.

Etika pemberitaan pun diabaikan. Seperti kerahasiaan identitas korban dan pelaku, gambar atau deskripsi yang terlalu detail tentang modus kejahatan, dan sebagainya.

Perlahan, berita pun menjadi penari telanjang. Dia benar-benar kehilangan fungsi. Dulu memberi informasi, sekarang memberi hiburan. Sebab media lupa untuk siapa dia lahir. Atau memang media bukan lahir untuk memihak kebenaran, seperti dulu. Atau sekarang media lahir untuk menambah kekayaan kaum kapitalis?

Bahkan posisi berita sekarang makin tidak jelas. Berita ada yang sebenarnya gosip. Gosip juga disamakan dengan berita. Lalu apa bedanya gosip dan berita? Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, sebuah buku yang menjadi acuan wartawan, untuk menghindari adanya bias dari diri wartawan dan untuk mendapatkan berita yang mendekati yang objektif, harus dengan metode objektif. Hanya satu. Disiplin verifikasi. Itulah beda berita dan gosip.

Jadi, berita hanya dari satu sumber--korban atau pelaku--haram diterbitkan. Berita itu belum memenuhi syarat utama jurnalisme. Kecuali pihak kedua buron atau terbunuh. Lagi, setiap karya yang tidak memenuhi verifikasi dan delapan elemen lain, tidak termasuk jurnalisme. Gosip apalagi. Makanya sangat mencengangkan ketika Cek&Ricek dengan bangga memproklamirkan diri sebagai:"pelopor jurnalime infotainment". Ironis.

Terakhir, berita tidak menyumpal pembaca dengan kebenaran. Hanya memberi jendela atau pandangan baru atas apa yang terjadi. Maka, jangan pernah percaya suatu peristiwa dari satu koran. Lebih baik memiliki banyak batu dan bisa memilih mana yang terbaik.

Read more...

Suatu Senin

>> Monday, December 1, 2008

"Git...aku chatting ama Gilang".

"Hmmm..."

"Aku chatting ama Gilang, aku suruh dia cepat-cepat".

Begitu kalimat-kalimat yang keluar dari bibir seorang remaja. Ia duduk di sebuah bilik warnet, tepat di seberangku.

Bahagianya mereka yang dapat bertemu dengan orang-orang yang mereka sayang. Menatap, menyentuh, memeluk. Satu cara untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Sebab rindu itu membunuh. Sebab ia mengiris-iris dan membuat gila. Perasaan yang tak pernah kenal negoisasi. Perasaanku yang terlalu rindu.

Benarkah aku bisa terbunuh?
Tidak. Jelas tidak.
Aku hanya tidak bisa tidur berhari-hari.
Kebal dari lapar berhari-hari.
Jatuh dari motor karena tidak konsentrasi.
Menulis dengan mata yang basah.
Yah, aku tidak akan terbunuh.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP