Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Firaun-Soekarno-?

>> Wednesday, April 29, 2009

Oleh: Yauma Yulida H.

Bagi pemimpin Mesir Kuno, buku bisa senilai dengan wilayah kekuasaan. Julius Caesar yang konon pernah membuktikannya.

Dalam suatu ekspansi kerajaan Romawi ke Mesir, ia pernah terjebak dalam sebuah perpustakaan. Tentara Mesir sudah menutup semua jalan keluar. Namun para tentara kemudian melepaskannya. Mereka memilih melindungi perpustakaan negara yang berisi himpunan karya tulis para cendikiawan.

Keputusan yang tepat sebab literatur tersebut kini menjadi investasi Mesir. Negara ini menjadi tujuan utama para peneliti karena Alexandria, salah satu perpustakaannya, terkenal kaya dengan berbagai dokumen kuno. Selain itu, pelajar dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menimba ilmu pengetahuan di negeri piramid ini.

Tindakan pemimpin Mesir, atau yang biasa disebut Firaun, ternyata diulangi beberapa para pemimpin di negara maju. Entah mereka pernah mendengar cerita ini atau tidak. Yang jelas, upaya mereka meningkatkan budaya baca seolah menguatkan fakta bahwa budaya baca suatu bangsa berbanding lurus dengan kemajuan negaranya.

Di Jepang, misalnya, ada kebijakan untuk mendorong generasi muda rutin membaca sejak dini. Bahkan kepada anak-anak yang belum mengenal aksara. Di Amerika, budaya membaca sangat didukung pemerintah. Dalam dua tahun, buku-buku yang digunakan harus didaur ulang. Tentu ini berkaitan dengan pembaruan ilmu.

Keberhasilan kebijakan dua negara tersebut menjadi bukti bahwa budaya membaca berkaitan dengan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Perkembangan Jepang selama 64 tahun setelah kehancuran dua kota utama di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, sangat signifikan. Mereka bisa mengejar ketinggalan dalam berbagai aspek. Sekarang mereka bahkan bisa disejajarkan dengan Amerika dari segi IPTEK.

Pentingnya budaya baca dalam masyarakat didukung sebuah penelitian UNESCO. Mereka mulai dengan hipotesa minat baca yang tinggi muncul karena dipupuk sejak kecil.
Hasilnya, mahasiswa di negara industri maju rata-rata membaca delapan jam sehari. Sedangkan di negara berkembang hanya dua jam tiap harinya.

Di Indonesia, di mana kebiasaan membaca masih menjadi sebuah kemewahan, semakin mengiyakan data dari UNESCO tersebut.

Ironis, mengingat upaya meningkatkan minat baca masyarakat bahkan sudah dimulai sejak pendudukan Belanda.

Sejarah Baca Bangsa Indonesia

Putu Laxman Pendit mengisahkan, di awal abad ke-20, Belanda membangun 680 perpustakaan umum demi memenuhi tuntutan Politik Etis. Perpustakaan-perpustakaan ini dikoordinasi Komisi Bacaan Rakyat (Comissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) yang kemudian menjadi Balai Pustaka. Hingga tahun 1930, pemerintah kolonial telah membangun 2.686 perpustakaan untuk umum.

Hasilnya tidak memuaskan. Masyarakat Indonesia tidak berkembang. Minat bacanya pun masih rendah. Belanda lepas tangan dengan dalih telah melakukan berbagai upaya seperti mendirikan perpustakaan dan sekolah rakyat.

Upaya yang dilakukan Belanda ini terhenti seiring semakin tidak stabilnya kondisi Indonesia akibat penjajahan. Cita-cita ini digaungkan kembali tahun 1950-an. Proyek ini berawal dari keyakinan Presiden Soekarno, pemimpin Indonesia masa itu. Baginya, buku adalah teman bertukar pikiran. Buku juga memberikan banyak ide baru, terlepas dari batasan waktu dan jarak.

Maka beliau menginstruksikan dimulainya proyek ini. Ribuan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dikembangkan hingga ke pelosok nusantara. Ia sendiri mengambil berperan aktif mendukung para penerbit buku dan surat kabar dengan memerintahkan pemberian subsidi kertas. Setiap kali ada pameran buku, Bung Karno selalu berusaha datang dan memberi dorongan kepada para penerbit.

Lagi-lagi usaha ini tidak membawa banyak perubahan. Sekitar tahun 1960-an, animo masyarakat pada bacaan serius terus menurun. Peran TBM di berbagai kecamatan berganti menjadi perpustakaan swasta yang menyediakan komik dan novel picisan. Jelas bukan pilihan bacaan yang tergolong mendidik.

Keadaan menjadi sangat kontras pada masa-masa pemerintahan Presiden Soeharto. Para pustakawan bukannya sibuk meningkatkan minat baca masyarakat malah mereka ditugaskan menyortir dan mengendalikan arus informasi. Itu adalah program pemerintah demi pencitraan Presiden Soeharto.

Pembodohan ini terus berlanjut hingga reformasi pecah di Indonesia. Kebebasan pers dan jumlah media cetak membengkak tahun 1998 seolah bisul pecah. Peningkatan jumlah berbagai jenis surat kabar sangat mencolok. Jumlah surat kabar harian pada tahun 1998 sebanyak 172 buah. Berarti naik 93 buah dari tahun 1997. Padahal media dari tahun 1995 sampai 1997, hanya bertambah dua buah dari 77 menjadi 79 surat kabar. Pada tahun 1998, tercatat juga penerbiatan 425 buah surat kabar mingguan, 55 buah majalah mingguan , dan 104 buah majalah tengah bulanan. Jumlah media cetak terus bertambah hingga saat ini.

Tapi benarkah Indonesia telah bebas?

Versi UNDP, Indonesia masih berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname dalam hal minat baca masyarakat. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada dua tingkat saja di atas Kamboja dan Laos. Sedangkan dari segi tingkat kemampuan membaca (reading literacy) masyarakat, Indonesia berada di urutan 39 dari 41 negara. Selain itu, pada tahun 2003, negara ini masih menempati peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Hasil publikasi UNDP tersebut mengukur tingkat melek huruf sebagai salah satu indikator.

Tidak ada yang benar-benar berubah di Indonesia.

Tanya Kenapa?

Perkembangan teknologi dan media elektronik selalu menjadi kambing hitam. Jelas sekali bahwa masyarakat rata-rata lebih memilih menonton televisi dan mendengar radio daripada membaca. Lebih aktual sekaligus menghemat waktu dan energi. Tambahan lagi, pikiran mereka sudah dibebani berbagai masalah dari kenaikan harga sembako, minyak, meningkatnya kriminalitas, hingga teroris dan UU Pornografi yang kontroversial. Tak ada cukup waktu untuk membaca. Jadi, selamat tinggal buku!

Namun apa bedanya dengan Jepang yang menjadi begitu maju di bidang IPTEK? Atau Amerika yang memiliki industri film terbesar di dunia? Mengapa peringkat minat baca mereka tidak melorot?

Satu perbedaan utama adalah politisasi. Ternyata di Indonesia, usaha meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus dalam artian mencerdaskan, selama ini gagal karena terlalu banyak muatan politis di dalamnya. Faktor kegagalan pada masa penjajahan Belanda terletak pada satu aspek yang tidak mereka ungkapkan. Pemerintah kolonial memang menyediakan sarana, tapi tidak memberi ruang dan waktu kepada masyarakat untuk membaca. Masyarakat disibukkan berbagai kekacauan dan masalah saat itu—minimnya ketersediaan sandang dan pangan. Alhasil, perpustakaan hanya menjadi milik para cendikia dan bangsawan.

Pola ini terus berulang hingga sekarang. Kesannya, bangsa tidak boleh cerdas sebab membahayakan “stabilitas” kedudukan para penguasa. Masyarakat yang cerdas jelas lebih mandiri. Semakin mandiri masyarakatnya, semakin kecil ketergantungan mereka pada pemerintah. Artinya, jangkauan tangan penguasa semakin pendek. Hal ini ditulis David Icke dalam bukunya The Biggest Secret (1999: xi-xii):

“When we give our minds and our responsibility away, we give our lives away…. The foundation of that control has always been the same: keep the people in ignorance, fear and at war with themselves. Divide, rule and conquer while keeping the most important knowledge to yourself. Once the people are in fear of being burgled, mugged or bombed, they will demand that you take their freedom away to protect them from what they have been manipulated to fear.”

“Ketika kita malas berpikir dan menghindar dari tanggung jawab, saat itu jugalah kita menggadaikan hidup kita… Metode dasar pengontrolan selalu sama: biarkan orang-orang menjadi acuh tak acuh, ketakutan, dan berperang dengan diri mereka sendiri. Pecahkan kekuatan massa, atur, dan kuasai sekaligus menyimpan informasi yang paling penting untuk dirimu sendiri… Sekali masyarakat terjebak dalam ketakutan akan perampokan, penodongan atau pemboman, mereka akan memintamu mengambil kebebasan mereka agar dilindungi dari apa yang sebenarnya sudah diatur penguasa untuk mereka khawatirkan.”

Lebih spesifik, politisasi dapat dipecah ke dalam tiga aspek, man, money, dan management. Man mengarah pada individu atau kelompok yang terlibat langsung dalam menentukan kebijakan atau mereka yang berkiprah di lapangan. Termasuk dalam kategori ini pemimpin, menteri pendidikan, wakil rakyat, dan pustakawan. Semua pelaku tersebut saling mempengaruhi secara hirarkis.

Kebijakan menungkatkan minat baca masyarakat sering menjadi alat politis untuk menarik simpati. Sehingga tidak ada komitmen yang kuat untuk menyukseskannya.
Memang ada beberapa inovasi dalam hal ini, namun tingkat keefektivisannya belum terbukti. Keberadaan rumah baca, perpustakaan keliling, maupun perpustakaan umum tidak lantas bisa diakses secara merata.

Padahal ada cara untuk melampaui keterbatasan. Tidak terlaksananya upaya ini adalah salah satu indikasi ketidakseriusan para pencetus program. Pemerintah bisa saja kembali mengupayakan bahan bacaan berkualitas dan murah, perpustakaan umum, dan taman bacaan di desa. Bukan hanya di kota-kota besar atau di Pulau Jawa dan sekitarnya tapi di seluruh nusantara.

Tentu pernyataan ini akan lagi-lagi dijawab pemerintah dengan dalih lemahnya Indonesia di faktor money atau uang. Pernyataan yang sangat janggal karena Indonesia mestinya berkaca pada India yang bisa mencetak berbagai buku teks di kertas koran sehingga harganya jauh lebih murah. Atau Jepang yang menggalakkan penerjemahan buku-buku asing dan jurnal ilmiah. Lagipula faktor keuangan tidak akan menjadi kendala jika pemerintah bisa menekan angka korupsi. Sebab dalam pelaksanaannya, banyak sekali kasus penggelapan dana baik untuk pendidikan maupun dalam program meningkatkan budaya baca masyarakat.

Jadi, sebenarnya kelemahan terbesar dalam program ini adalah management. Seperti dilansir Republika Online, setelah puluhan tahun, dari 7000 TBM yang telah dibina sejak tahun 1950-an, 5500 diantaranya tidak berfungsi lagi.

Di samping itu, sebagian besar pustakawan dan pustakawati sebagai perpanjangan tangan pemerintah di lapangan tidak professional. Salah satu penyebabnya komitmen dan antusiasme pemimpin yang rendah. Akhirnya pemimpin-pemimpin tersebut tidak antusias memberi motivasikan dan pengarahan kepada mereka.

Wajar. Sesuatu yang tidak diprakarsai secara maksimal tentu membuahkan hasil yang setengah-setengah.

Maaf, Hanya Inilah yang Kita Dapat

Seandainya semua pemimpin seperti Sun Kang.

Pria ini terlahir di zaman dinasti Jin (317-420) dalam sebuah keluarga yang miskin. Saking miskinnya keluarga ini, mereka sampai tidak mempunyai uang untuk penerangan saat malam tiba.

Sun Kang adalah orang yang gila membaca. Ia tidak bisa membeli, maka ia meminjam buku-buku dari kenalannya. Sayangnya, etiap hari ia harus bekerja sampai malam. Ketika pulang, ia tak bisa lagi membaca karena tidak ada cahaya sama sekali. Kadang ia terpaksa mencari sinar dari tetangga atau dari rembulan. Cahaya yang redup ini membuatnya cepat lelah.
Suatu hari di musim salju ketika sinar rembulan bersinar terang, ia segera keluar untuk membaca.

Saat pulang, ia tersandung dan bukunya jatuh. Meski kakinya terluka, ia tetap menyelamatkan buku itu. Tanpa sengaja ia melihat dengan jelas tulisan dalam buku tersebut. Ternyata, salju yang padat dapat memantulkan cahaya bulan.

Dengan gembira, setiap malam ia keluar untuk membaca. Padahal udara saat itu dingin sekali. Tubuh Sun Kang tak bisa bertahan. Ia kemudian menderita borok di kulit yang biasa disebut penyakit dong chuang. Uniknya, penyakit itu tidak menghentikan semangat membacanya.

Usaha Sun Kang berbuah manis. Akhirnya ia tumbuh menjadi ahli pikir yang brilian dan penasihat kerajaan. Seandainya Cina saat itu tidak memakai sistem kerajaan, Sun Kang bisa saja menjadi seorang pemimpin yang dapat diandalkan untuk memajukan Cina.

Ada apa sebenarnya di dalam sebuah buku?

Djoko Pitono, seorang jurnalis dan editor, menulis sebuah pengantar buku berjudul “Bung Karno, Buku, dan Lidahnya”. Ia mengutip catatan Howard Palfrey Jones dalam buku “Indonesia: The Possible Dreams”. Kepada mantan duta besar AS di Indonesia ini, Presiden Soekarno penah bercerita tentang pengalamannya membaca buku-buku saat diasingkan Belanda.

“…Aku bertemu dan berbicara dalam alam pikiran dengan para pemimpin Revolusi Prancis,…aku bertemu para pemimpin revolusi wanita di Paris. Dan dalam alam pikiran, aku bertemu para pemimpin Jerman…Marx, Karl Marx….Adolf Berstein…Friedrich Engels…dengan Jose Rizal Mercado, yang ditembak mati oleh Spanyol pada tahun 1903. Aku bertemu Thomas Jefferson dan Abraham Lincoln.''

''Begitulah setelah bertemu -setelah berbicara dengan semua pemimpin besar itu- aku menjadi yakin bahwa manusia itu satu (sama),'' kata Bung Karno.

Karena buku juga, banyak masalah di Indonesia yang sebenarnya bisa terselesaikan.

Banyak rentetan kasus besar akibat mayarakat yang tidak berbudaya baca. Rendahnya minat baca melahirkan generasi dengan mutu SDM rendah. Hal ini berakibat langsung dalam masalah ketidakmampuan Indonesia mengelola sumber daya alam, masalah ketenagakerjaan, konflik antar agama/etnis, dan masih banyak lagi.

Tampaknya buku juga yang membedakan pola kepemimpinan seseorang. Misalnya Soekarno dan Soeharto.

Dulu saat diasingkan oleh Presiden Soeharto, semua akses Presiden Soekarno terhadap buku ditutup. Sebagai reaksi, seorang wartawan Belanda yang sahabat Bung Karno, Willem Oltmans, mengirim surat kepada Presiden Soeharto pada tahun 1990-an. Dalam suratnya yang juga dikirimkan ke berbagai pihak di Indonesia, Oltmans mengkritik Soeharto yang dinilainya tak pernah berbicara tentang buku-buku.

''Banyak pemimpin Indonesia adalah orang-orang yang membaca buku, kecuali Tuan...,'' tulis Oltmans.

Sedangkan pemimpin Soekarno selalu berpesan agar pemimpin harus banyak membaca, tidak hanya buku tapi membaca hidup.

Ungkapan Soekarno ini sejalan dengan Multatuli,“Ik ken zeer weinig mensen die lezen kunnen”—“Saya mengenal sedikit sekali jumlah orang yang bisa membaca.”

Bisa membaca tidak hanya mengacu pada buku.

Pemimpin dengan kekuasaan yang sangat besar harus mampu membaca “negara” dan “masyarakat”. Dengan membaca “negara”, pemimpin menganalisa peluang dan tantangan di daerah kepemimpinannya sendiri. Mengingat sistem desentralisasi yang sudah diterapkan di Indonesia. Namun sedikit sekali pemimpin dengan optimal berusaha membangun daerahnya. Malah rata-rata program kerja dan keputusan yang diambil masih berkiblat pada keputusan klise di pusat. Lebih parah, tak jarang pemimpin mengadopsi mentah-mentah kebijakan dari negara lain.

Selanjutnya, membaca “masyarakat”. Dengan upaya ini, pemimpin berusaha membangun jembatan komunikasi dengan rakyat.

Selama ini saluran komunikasi antara pemerintah dan masyarakat “tersumbat”. Banyak gejala sosial yang tidak diperhatikan para pemimpin. Misalnya apa masalah yang tengah dihadapi masyarakat, apa implikasi dari keputusan yang dibuat, dan apa yang sebenarnya rakyat inginkan.

Sudah saatnya pemimpin tak jadi “raja”, tapi “pion” yang berada di garis depan.

Hmm…
Tapi maaf, sampai sekarang, hanya “inilah” yang kita dapat.

Read more...

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

>> Sunday, November 23, 2008

Ini judul cerpen baru SGA. Terbit di KOMPAS edisi Minggu, 16 November 2008. Ceritanya tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya. Katanya diculik. Tapi hingga bertahun-tahun kemudian tak juga jelas sebab musabab hilangnya anak itu. Satria.

Anak yang tak beruntung itu meninggalkan keluarga dan pacarnya. Saras. Satria hilang, Saras tak juga bisa melupakan. Malah hubungan ia dan keluarga Satria makin dekat. Ia setelahnya juga sibuk mencari-cari fakta di balik penculikan Satria.

Sang ibu yang kehilangan tetap bertanya-tanya:"Benarkah putranya diculik?" Sesekali diwarnai makian, hujatan, dan sumpah-serapah. Bertanya jawab dengan sang suami. Tapi hingga suaminya meninggal, tak juga jawaban itu hadir. Sampai suatu malam yang penuh kesendirian dan penantian, Saras menelepon.

”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.

”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”


Demikianlah Sebuah karya yang peka meski tak sedalam dan seunik biasanya. Disajikan dalam dialog-dialog layaknya drama. Seperti biasanya, sebagai seorang supir, Seno "menabrak" dengan lihai.

Cerpen ini seolah menjawab pertanyaan saya.

Saya ingat beberapa hari lalu di sebuah rumah makan, saya berbincang dengan seorang teman. Mengeluh bersama-sama tentang para "penculik" yang memakai jurus lama Suharto.
"Rakyat perlu makan"
"Rakyat perlu sekolah"
Slogan.

Saya ingat kata Andreas Harsono pada pelatihan narrative reporting Tribune Institute
angkatan pertama,"Jangan pakai slogan, tidak menarik".
Berbeda memang konteksnya. Yang satu tulisan, yang satu propaganda. Tapi yang jelas, rakyat sudah kenyang makan slogan.

Tapi sejujurnya slogan dan aksi-aksi branding ini cukup mengkhawatirkan. Mayoritas masyarakat Indonesia awam. Pendidikan politik begitu rupa belum masuk. Mereka masih mudah diperdaya.

Itu yang menjadi akar keluhan saya dan teman malam itu. Bagaimana jika masyarakat jatuh ke lubang yang sama? Memilih calon yang rupanya titisan Suharto?

Teman saya mengusulkan solusi. Tulis dengan berimbang siapa kandidat itu. Baik dan buruk sekaligus. Pernah menculik atau pernah menyumbang. Semuanya. Transparan. Minimal branding-branding di televisi punya balancing. Sebab kita tahu, iklan itu hasutan halus. Tak sadar terbujuk juga.

Saya bertanya lagi,"Siapa yang bisa?"

Saya lupa jawaban teman saya itu.

Yang jelas tak terbayangkan jika negara ini jatuh ke titisan Suharto.
Mimpi buruk lagi. Mimpi buruk lagi.

Read more...

Sudahkah KIta Merdeka?

>> Friday, September 19, 2008

Sudah satu dekade sejak kita berteriak-teriak menuntut reformasi. Sejak kita mengganyang Suharto dari kursi yang betah ia duduki selama 32 tahun. Kekuasaan dan feodalisme. Kasta dan hubungan kekerabatan.

Yah, kata Seno dalam karya pemberontakannya, iblis memang tak akan pernah mati hingga manusia habis binasa dari dunia ini. Sebab manusia itulah yang membawa iblis dalam diri mereka. Seperti juga membawa malaikat di bagian yang lain.

Kita minta merdeka. Tapi kita memang tidak merdeka. Hanya bergeser dari satu penjajahan ke penjajahan lain. Kemarin oleh kumpeni, hari ini bahkan oleh institusi pendidikan.

Bukan. Tipenya bukan dengan menodongkan bayonet—senapan dengan pisau di ujungnya—ke dada atau digebuk dengan pangkal senapan di kepala. Cara itu sudah kuno, basi. Tambahan lagi, tidak manjur. Maka, penjajahan itu dimulai dari kepala, paradigma, dari pemikiran.

Penjajahan masuk ke sekolah-sekolah. Penyeragaman dari mata pelajaran, kurikulum, bahkan sepatu hitam dan kaos kaki. Itu sudah tertanam dalam pemikiran masyarakat awam sehingga menjadi sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan. Padahal apalah sangkut pautnya warna dan keberhasilan penyampaian. Atas nama kedisplinan? Lebih banyak yang bisa digunakan untuk mengajarkan itu. Tepat waktu, misalnya. Hal yang tak pernah sukses dipahami dan dimiliki manusia Indonesia, bahkan oleh guru yang mengaku pendidik dan pengajar.

Tapi sistem tak pernah salah apalagi dirubah. Hanya memunculkan topeng-topeng baru, moral dan norma.

Seperti ditulis Seno, “Sudah terlalu banyak kata-kata rusak dan tak bermakna”. Luber di papan, ubin, bertebaran di udara. Sudah banyak janji untuk kebebasan. Tapi sebenarnya hanya perangkat untuk menjebloskan manusia di kubangan yang dulu-dulu lagi.

Sejak dini, siswa mulai dibentuk mengikuti sistem. Pemikirannya dibakukan. Mereka didorong menjadi kritis bukan untuk menemukan sesuatu yang logis. Tapi untuk memblokade argumen-argumen liar yang bercokol di kepala siswa tersebut. Untuk diarahkan agar mengikuti jalur yang “lurus” sesuai sistem.

Intinya, siswa diajarkan pola pendidikan yang monoton. Dikendalikan pemikiran ala kapitalis. Di mana sekolah dikomersialkan (buktinya sekolah mahal) dan hanya sebagai pabrik pencetak calon tenaga kerja. Hidup itu hanya berjalan dari lahir, TK, SD, SMP, SMA, kuliah cepat selesai, kerja, dan seterusnya sampai mati. Padahal dunia ini luas. Perlu dieksplorasi. Namun itulah kehebatan sistem kapitalisme hingga tak ada yang sadar. Semua jadi boneka-boneka baru.

Sejak kecil, anak-anak diracuni: Betapa tidak pentingnya berorganisasi. Untuk apa? Tidak dapat uang, hanya menghabiskan waktu. Lebih baik cepat-cepat selesai sekolah. Biar cepat dapat kerja. Lalu apalah arti ilmu dan pengalaman?

Berlanjut ke perguruan tinggi. Dulu katanya mahasiswa itu ditakuti penguasa yang paling puncak sekalipun. Berani memperjuangkan cita-cita bangsa, negara, rakyat apalagi mereka sendiri. Kritis dan ilmiah. Cerdas. Apalagi teknologi dan mudahnya penyebaran informasi saat ini yang harusnya bisa membuka wawasan mahasiswa. Namun karena sudah diantisipasi dari awal agar generasi berikut “main aman”, maka para pemegang kekuasaan di tingkat mana pun boleh tenang. Ibarat selang yang sudah dibocorkan dalam perjalanan alirannya, di ujung mereka tidak akan menyembur kuat lagi. Itulah politik penjajahan saat ini.

Sejarah berulang. Hanya modus yang berbeda. satu dasawarsa lalu mata kita terbuka dengan segala penculikan mahasiswa yang vokal dan pembredelan media yang dianggap tidak loyal. Sekarang semua yang kritis dipatahkan argumentasinya, dirusak reputasi, dan diserang secara personal. Apa yang disuarakan penguasa adalah mutlak.

Alangkah bosan hidup di dunia seperti itu.

Maka pelan-pelan ada sekelompok orang yang bangun. Lalu dengan hati-hati membangunkan temannya yang terlelap. Sayangnya ketahuan para algojo sistem. Diam-diam dari dalam gelap, algojo muncul untuk memotong lidah dan tangan mereka yang bangun itu agar kembali ke barisan, berjalan “lurus”, lagi-lagi demi sistem.

Apalah arti merdeka kita?

Read more...

Ketika Wanita Membaca Wanita

>> Sunday, September 7, 2008

Nah, ini himbauan bagi para suami dengan jam kerja tinggi. Artinya bukan pegawai negeri dengan jam pulang teratur. Sekolahkan tinggi-tinggi istri Anda. Tahukah Anda betapa bahayanya wanita yang tidak bekerja atau hanya melulu berurusan dengan rumah tangga dan tetangga?

Wanita memang terlahir dengan otak dan tingkat empati yang tinggi. Mereka biasa mengandalkan intuisi, rumor, dan jaringan cerita dari para teman. Dalam menghadapi masalah, mereka biasanya bahu-membahu dengan wanita lainnya. Kaum hawa ini lemah dalam menggolong-golongkan, mengontrol emosi, dan orientasi kerja.

Tingkat pendidikan dan rutinitas sehari-hari juga sangat menentukan kemampuan wanita mengontrol emosi. Ambil contoh seorang wanita berpendidikan tamat SMA dengan wanita lulusan universitas. Cara menyikapi masalah akan berbeda. Porsi berpikir dan merasa lebih imbang pada wanita lulusan universitas.

Selain itu, rutinitas sehari-hari juga menentukan kadar kematangan wanita dalam menghadapi masalah. Wanita bekerja cenderung mengenal lingkungan dan komunitas kerja sehingga mampu mengendalikan pikiran-pikiran negatif tentang pasangannya. Sedangkan wanita yang hanya mengurus rumah tangga kecuali yang mempunyai bisnis rumahan, biasanya agak kolot karena berkecimpung dalam ruang dan lingkungan sosial yang sempit. Betapa bahayanya wanita yang tidak bekerja. Waktu senggang mereka begitu luas sehingga intuisi yang tidak mutlak 100% kebenarannya itu menjadi lebih tajam. Lalu menjelma menjadi pikiran negatif, posesif, dangkal. Kalau sudah begini, mereka bisa jadi kucing betina garang yang baru melahirkan.

Jika sudah begini, rutinitas dan kesibukan Anda, suami, akan terganggu. Stress meningkat. Sering terjadi pertengkaran. Oleh karena itu, jangan biarkan para istri menganggur. Biarkan para istri punya kegiatan selama tidak mengganggu perannya sebagai seorang istri. Dijamin! Suasana rumah jadi lebih kondusif. Hati lebih tenang dan jiwa lebih bahagia karena jarang bertengkar.

Read more...

Indonesia Raya, Tidak Merdeka-Merdeka

>> Sunday, August 31, 2008










Agustus sudah habis.

Kemerdekaan sudah tandas. Bersamaan dengan redamnya beragam lomba di RT-RT. Bersama robohnya batang pinang yang telah dikeruk hadiahnya.

Indonesia pun demikian. Telah dikeruk hingga habis demi kepentingan pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan kemajuan.

Sawit mengusung niat kepedulian pada masyarakat sekitar dengan membangun sarana dan prasarana. Tapi membabat hutan, membiarkan eksesnya untuk ditanggung masyarakat nanti. Banjir, longsor. Puluhan tahun kelak, tanah sudah gersang dan tandus. Mesti megais-ngais sisa-sisa apa yang dijanjikan sebagai kesejahteraan. Bahkan mengemis ke negeri orang, negeri tetangga(negeri yang dituduh sebagai pencuri, tapi ternyata dicuri balik slogannya).

Hukum adat yang jujur dan tegas tapi menghalangi jalan kaum kaya, dicerabut dan tidak diakui keabsahannya. Akhirnya adalah cerita yang sama. Penjahat perut buncit akan memikul karung profit, meninggalkan jejak kesengsaraan lainnya. Tinggal menitipkan beberapa amplop agak tebal atau transfer lewat bank, jalan akan mulus. Belum lagi cerita tambang emas, minyak bumi, dan hutan. Terlalu banyak kata dan tenaga yang terbuang percuma rasanya.

Itulah Indonesia dan filosofi kemerdekaannya. Filosofi yang terlalu sempit. Bagi Indonesia, kemerdekaan segelintir orang adalah kemerdekaan bagi seluruh rakyat. Padahal tidak.

Kenyataannya rakyat memang sengaja dibuat bodoh. Agar tak banyak omong. Agar ikut dan manut. Sehingga hanya bisa diam atau bahkan tak sadar:"bahwa sesungguhnya kita hanya berpindah tangan dari satu penjajah lainnya. Yang dengan pelan-pelan, senyap-senyap, mencari celah meletakkan tanga-tangan kuasanya di atas Indonesia.”

Kemarin kekuasaan bernama Nasionalisme bertopeng Majapahit menjadi Indopahit (filosofi Andreas dan Sapariah—Pantau). Hari ini dicengkeram lengan industri dan kapitalis.

Jadi sebenarnya apa yang kita rayakan?

Gelar kita: negara miskin yang terlalu banyak berhura-hura. Mengandalkan nama nasionalisme dan sejarah yang dibuat-buat agung.

Seperti ujaran A. Alexander Mering dalam hampir setiap pembicaraannya mengenai Indonesia dan Kemerdekaan,”Negeri tanpa Nabi yang begitu bangga menyebut dirinya Indonesia”.

Foto Bendera (r124lblog.blogspot.com)
Foto Anak (albertjoko.files.wordpress.com)

Read more...

DILEMA KEPENTINGAN : DOSEN DAN MAHASISWA

>> Wednesday, February 27, 2008

Alhamdulillah, akhirnya nilai semester keluar juga. Setelah lama menunggu dengan perasaan ketar-ketir, akhirnya beberapa dosen berbaik hati untuk segera mengisi daftar database nilai di layanan akademik. Mahasiswa angkatan 2007 tentu saja tak sabar untuk segera melihat dan mengevaluasi sistem belajar yang telah dijalaninya selama 1 semester. Baik dari diri sendiri maupun proses belajar yang ada di kampus. Mereka juga ingin menyusun rencana kuliah untuk semester depan.

Sebenarnya para mahasiswa agak kecewa. Apalagi mereka yang berkeinginan untuk mengajukan beasiswa di fakultas masing-masing. Tentu saja hal itu terhambat apabila nilai lambat keluarnya. Bukan bermaksud egois, tapi para mahasiswa juga mengharapkan kepedulian dari para pengajar yang terhormat agar para mahasiswa ini lebih mudah dalam proses perkuliahan selanjutnya.

Mahasiswa 2007 sendiri memang masih hijau. Masih merasa asing dengan sistem akademik dan sebagainya di lingkungan kampus. Masih semangat pada hal-hal baru seperti itu. Sayangnya, agak pupus harapannya karena kendala-kendala yang klise seperti keterlambatan nilai dan seringnya tidak masuknya dosen pada saat kuliah.

Masalah-masalah tersebut memang dapat dikatakan dilematis. Ketika dipandang dari aspek para mahasiswa, mereka mengharapkan dosen untuk mengajar dan mendidik, bukan sekadar masuk 15 menit dan menandatangani DHK. Dosen yang sering absen, sejujurnya, membuat semangat para mahasiswa turun dan menimbulkan keengganan untuk kuliah. Satu pikiran yang terlintas adalah,”Palingan nggak masuk lagi dosennya, percuma aja datang”.

Para dosen juga tidak mau disalahkan sepenuhnya. Mereka beralasan bahwa dengan menjadi dosen, mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga di zaman yang serba mahal ini. Gaji dosen yang berkisar antara 1-2,5 juta dengan berbagai potongan hanya cukup untuk paling lama seminggu. Tentu saja keadaan ini memaksa mereka untuk mencari pendapatan alternatif di sela-sela kesibukannya mengajar. Bahkan kadangkala di menyita waktu mengajar. Tentu saja apabila pendapatan alternatif dirasa lebih besar, mereka memilih pendapatan alternatif itu.

Tapi tentu saja masih ada dosen-dosen yang profesional. Beliau-beliau itu yang memiliki etos kerja dan tanggung jawab tinggi. Semoga saja para wisudawan, para pengajar di masa yang akan datang, dapat menjadi dosen yang lebih baik. Dengan demikian masalah-masalah seperti ini tidak akan terulang kembali.

Read more...

HIdup Itu Seperti

>> Sunday, December 2, 2007

Dua hari yang lalu saya mengikuti sebuah event yang sangat baru bagi saya. event ini bernama Borneo Hard Rock Festival (BHRF). Kali ini adalah kali ketigabelas semenjak tahun 1994 BHRF mulai diadakan.

Saya tidak menyangka acara penuh hingar-bingar ini dapat membawa saya kepada renungan yang mendalam. Di sela-sela dahsyatnya raungan gitar dan gebrakan drum, saya berpikir tentang kehidupan.

Saya mengibaratkan kehidupan seperti genre musik Hard Rock. Seperti namanya, "Hard" yang berarti keras dan "Rock" yang berarti batu, menggambarkan kehidupan sebagai ladang yang cadas dan berbatu. Di setiap sisi, ada tekanan-tekanan yang muncul.

Tapi setiap kesulitan itu mengantarkan memiliki ritmenya sendiri. Mereka mengatur kapan waktunya gebrakan dan jeritan. Mereka masing-masing memiliki warna yang menghiasi kehidupan. Dan jangan lupa, ada pula nyanyian yang melambangkan kebahagiaan.
Memang begitulah hidup. Setiap elemen menganugerahkan setiap melodi yang kemudian membuat kehidupan lebih berarti.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP