MENYIKAPI BLOGGER YANG "NAKAL"

>> Tuesday, February 5, 2008

Ehm..ehmmm, Welcome to my blog, where democration is God and truth becomes the prophet.

Karena marque itu saya jadi enggan rasanya berkomentar tentang blog yang tengah booming saat ini, ihateindon.blogspot.com. Rasanya kuarang begitu perlu ya. Kan ada yang paling tahu tentang apa yang layak dan tidak layak. Apa yang patut dan tidak patut.

Bayangkan saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, saya pikir penulis itu cuma salah ngomong dan salah bahasa. Saya cuma tidak habis pikir, kenapa ya Malaysia, bangsa yang mengaku besar, tapi etikanya masih begitu low? Lagipula blog itu kan buat para indon, not us, Indonesia.

Jadi teman-teman, jangan terpancing sama emosi ya? Zaman sekarang banyak sekali usaha-usaha untuk melemahkan dan memprovokasi kita. Oleh karenanya, bijaklah. Karena ketika kita terpancing, maka itulah yang diinginkan pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab itu.

Saya sebenarnya hampir menangis membaca betapa bangsa saya dihina-hina. Tapi mengapa ini jadi begitu sakit? Ya karena ini beberapa bagian dari tulisan itu benar, meski sebenarnya hanya masalah yang dibahas cuma itu-itu saja. Tapi di sinilah kemampuan dan kedewasaan kita diuji. Mengapa kita harus bingung dan kebakaran jenggot? Kita tidak perlu banyak alasan.Yang kita perlukan hanyalah menunjukkan bukti.
Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang tidak cengeng. Bahwa kita bukan plagiat. Bahwa kita kreatif dan masalah yang kita hadapi membuat kita semakin kuat. Ingat, masih ada satu yang kita punya, harga diri.

I hope all of my friends who have a intention to make blog to againts this that blog, will realize that is not a proper way. Let’s defeat the blog with mature ways. Remember to give spirits to our contingen in SEA Games. It is the best answer for that humiliation.
At last, I just want to say, IHATEINDON.BLOGSPOT.COM, Oooo....Tidak!!! Usah Repot.

Read more...

Ketika Saya Tak Bisa Bicara

>> Monday, February 4, 2008

Komunikasi adalah bagian dari budaya manusia. Komunikasi terbagi menjadi dua bentuk, lisan dan tulisan. Meskipun tulisan adalah bentuk komunikasi yang tahan lama, namun komunikasi lisan atau berbicara tak bias dilepaskan dari kehidupan manusia. Hal ini disebabkan berbicara adalah komunikasi dasar yang menjadi kebiasaan manusia dan proses belajar pertama sejak dia lahir.”

Akan sangat menyakitkan ketika seseorang kehilangan kemampuan berbicara atau suara secara permanent atau sementara. Apalagi jika hal tersebut terjadi secara tiba-tiba.

Itulah yang saya alami semenjak dua hari lalu sepulang dari mengikuti PPM. Suara saya menghilang, “dicuri" oleh pergantian cuaca yang drastis, hujan dan panas. Apalagi di alam yang terbuka, perubahannya sangat terasa. Belum lagi angin yang mendera karena kemah kami berada di daerah dekat pantai. Semuanya berhasil mengganggu kemampuan saya berkomunikasi lisan dengan nyaman.

Kenyataan yang lebih menyiksa, saya adalah seorang yang talkative. Maka saat ini, saya harus puasa dari berbagi berbagai hal dengan orang-orang di sekitar saya. Bagi banyak orang yang mengenal saya pasti tahu betapa tersiksanya saya. Selama ini saya tak pernah diam lebih dari 10 detik pada saat saya sadar atau tidak tidur. Apabila tidak ada orang yang saya ajak bicara, saya bahkan bias bicara dengan diri saya sendiri.

Namun sekarang saya hanya bisa berbisik-bisik. Baru saja saya marah pada seorang teman. Bukan karena hal besar sebenarnya. Masalahnya, dia memaksa saya untuk menelepon dia. Akibatnya, saya harus berteriak-teriak karena suara saya hilang.

Yang lebih parah, saya kesulitan berbicara dalam bahasa Inggris. Teman saya yang lain, Yadi, menghubungi saya dan mengeluh tak mengerti apa yang saya bicarakan karena suara saya tidak jelas. Akhirnya saya terpaksa harus memutus sambungan telepon dan mengetik pesan untuknya diikuti ucapan maaf karena telah membuat dia tak bisa berkomunikasi dengan lancar.

Saya menyerah. Saya memilih bersabar dan menulis pada kertas yang ada sembari menunggu suara ini, nyawa kedua saya, “pulang”. Semoga saya bisa cepat berbicara pada dunia.

Read more...

Perkembangan Teknologi Komunikasi

Komunikasi adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia dalam kelangsungan hidupnya. Hal ini mengingat manusia adalah makhluk osial yang membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya. Manusia memiliki frekuensi komunikasi yang tinggi, lisan maupun tulisan. Padahal keterbatasan jarak dan waktu menjadi penghalang kelancaran manusia dalam berkomunikasi. Untuk itu, manusia dengan kecerdasan yang mereka miliki, terus memproduksi dan mengkonsumsi sejumlah piranti komunikasi.

Telepon genggam adalah salah satu piranti komunikasi yang dimaksud. Benda ini tentu bukanlah barang asing di era globalisasi ini. Untuk memenuhi nilai praktis dan efisien telepon genggam dan memudahkan aktivitas komunikasi para pengguna, saat ini telepon genggam dilengkapi dengan fitur SMS, MMS, Video Call, dan Internet.

Telepon genggam bahkan mampu membuat keajaiban. Dengan fasilitas Video Call, para tuna rungu dan wicara akhirnya dapat “berbicara lewat telepon genggam. Melalui layar telepon, mereka dapat mengirimkan isyarat kepada orang lain. Kemajuan ini dapat dikatakan signifikan dan positif karena mampu menjembatani keterbatasan manusia.

Sayangnya, teknologi masih terasa mahal. Selain tariff pemakaiannya, perangkat dengan fitur lengkap seperti yang telah disebutkan sebelumnya minimal berharga di atas 2 juta rupiah. Mengukur kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia, nilai yang harus dibayar agaknya terlampau tinggi. Oleh karena itu, dapat dikatakan teknologi dewasa ini masih menjadi “milik” masyarakat kelas menengah ke atas.

Read more...

LBSK IV SUKSES DIGELAR FMIPA UNTAN

>> Thursday, December 13, 2007

Lomba Bidang Studi Kimia (LBSK) IV diselenggarakan di Auditorium Untan kemarin, 12-13 Desember 2007. Ajang kompetisi yang mengusung tema “Membangun Jiwa Scientist Bersama Kimia” ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia (Himki) FMIPA Untan.

Semula acara ini menargetkan lebih dari 200 peserta untuk berpartisipasi dalam LBSK. Namun sayangnya menurut Heru Heryono, selaku ketua panitia, tahun ini hanya diikuti 67 peserta dari 17 sekolah. Jika diukur dari wilayah, hanya 4 kabupaten saja yang mendaftar yaitu kabupaten Landak, Sambas, Singkawang, dan Pontianak.

Tidak tercapainya target disebabkan banyak faktor. “Sekolah sebenarnya antusias terutama dari kabupaten tapi mereka terkendala akomodasi”, ujar Heru. Ia menolak jika kurangnya sosialisai dijadikan alasan karena sosialisaasi sudah diadakan jauh sebelum hari pelaksanaan.

“Kami juga kesulitan karena ada bentrokan jadwal sekolah dan LBSK. Mereka sedang ulangan semester dan remidial”, kata Heru. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Dra. Harlia Djuhardi, M.Si, Pembantu Dekan III FMIPA Untan. “Kami juga menjaga agar tidak berdekatan waktunya dengan Pilkada”. Baliau menambahkan, LBSK diharapkan menjadi ajang yang bergengsi sekaligus warming-up untuk olimpiade.

LBSK IV dimulai pukul 9.00 dan diawali penyerahan piala bergilir oleh SMA Negeri 1 Singkawang. Kemudian LBSK IV dibuka oleh Kepala Departemen Pendidikan Nasional yang diwakili oleh Drs. Suwarto. Panitia juga menyiapkan pertunjukkan berupa tarian yang ditampilkan oleh mahasiswa kimia angkatan 2007.

Acara kemudian dilanjutkan dengan babak penyisihan berupa tes tertulis yang wajib diikuti seluruh peserta. “Soalnya berjumlah 50 dan hanya berasal dari bidang studi kimia dari kelas X-XII” ujar Mahmud Jamroni selaku koordinator tim pembuat soal. Tes ini dimulai pukul 10.30-13.00. Hasil tes inikemudian diproses dan diumumkan padatanggal 13 Desember.
Dari seluruh peserta akan dipilih 27 orang dengan nilai terbaik. Mereka kemudian akan mengikuti babak cepat tepat.

“Dari 9, dikurangi lagi jadi 6 untuk bertanding dalam Chemistry in English”, jelas Heru. 3 peserta terbaik kemudian akan berkompetisi di final. Babak final terdiri dari babak pertanyaan dan analisis percobaan. Di babak inilah diperlukan pengetahuan dan wawasan luas tentang ilmu kimia.

Pada jam-jam istirahat, acara diisi oleh materi pelatihan karya tulis oleh dosen FMIPA sendiri, Ari Widoantoro, SSi, MSi. Selain itu juga diselingi hiburan berupa parodi, musik, modern dance, door price, dan musik kontemporer. Panitia juga menyiapkan makanan untuk peserta dan stiker sebagai kenang-kenangan.

Peserta sendiri mengaku acara ini lumayan baik. Olivia Johanna, dari SMAK St. Petrus, mengatakan soal dari tes tertulis cukup baik. “Hanya kurang valid dan kurang jelas”. Mengenai pelaksanaan, Olivia mengatakan tidak ada keterlambatan.

Di akhir acara, dilakukan pembagian sertifikat untuk setiap peserta dan pengumuman penerima PMDK untuk 10 peserta dengan nilai tertinggi. Setelahnya barulah diumumkan pemenang LBSK IV. Ternyata SMAK St. Petrus meraih dua peringkat yaitu juara II dan III atas nama Delia dan Pamela. Sedangkan juara I diraih oleh SMAK Immanuel oleh Lydia Natalia.

“Saya tidak menyangka bisa menang”, ujar Lidya yang mengaku baru saja mengikuti Olimpiade. Serupa dengan peserta lain, Delia mengaku tidak melakukan banyak persiapan. Pernyataan itu diperkuat oleh Pamela,“Saya hanya mengingat-ingat”.(B04)

Read more...

SMAN 1 SINGKAWANG, OPTIMIS MENANG KEMBALI TAHUN DEPAN

Meraih sesuatu memang lebih mudah daripada mempertahankannya. Jargon ini agaknya sesuai dengan keadaan yang dialami oleh SMA Negeri 1 Singkawang. Piala bergilir yang tahun lalu dibawa pulang dengan penuh perjuangan tampaknya harus diikhlaskan kepada SMAK Immanuel, peraih juara pertama tahun ini.

“Ini bukan kegagalan namun merupakan sukses yang tertunda”, ujar Asep Sarifudin, guru pembimbing SMA N 1 mengutip pepatah lama.

Ia menyatakan bahwa kali ini memang kurang dipersiapkan secara matang. Selain itu, siswa juga kurang memotivasi diri mereka. “Kadang saya agak terlambat untuk memberikan bimbingan, mereka bukannya belajar, malah sedang diskusi hal-hal lain”, ujar Asep sambil tersenyum.

Tapi ia menegaskan semuanya tidak serta merta harus ditimpakan pada para siswa. Waktu pelaksanaan yang bersamaan dengan ulangan semester juga membuat para siswa tidak fokus. Hal ini diutarakan pula oleh salah seorang peserta, Kurnamanto,”Kami sedang ujian jadi susah belajar dan bagi waktunya”.

Beberapa peserta lainnya mengaku tidak belajar banyak karena faktor yang sama. Tapi mereka menyatakan kali ini akan mereka gunakan untuk mencari pengalaman.

Kurnamanto juga menyayangkan kurangnya dukungan sekolah. “Untuk jatah dua hari kami cuma diberi makan sekali perhari”, kisahnya. Begitu pula tempat tinggal. Beberapa peserta harus menumpang di rumah atau kos kenalannya. Vera, salah seorang panitia mengatakan,”Mereka ada yang tinggal di kos saya sementara”.

Meskipun demikian, SMA Negeri 1 Singkawang tak kehilangan bibit. Robi Maulana Saputra adalah satu-satunya siswa dari SMA ini yang mampu menembus hingga 6 besar. “Sebenarnya soalnya tidak susah. Cuma saya ragu”, sesalnya. Untuk itu, Rio berencana akan ikut lagi tahun depan. Dia termotivasi untuk memboyong kembali piala bergilir dari Dekan FMIPA Untan tersebut. Dia mengatakan perlunya persiapan yang matang untuk kesempatan yang akan datang. “Kami sudah tahu dari sebulan yang lalu. Hanya saja kami tidak tanggap”, komentar Rio.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Asep. Beliau mengatakan tahun depan dia akan lebih mempersiapkan tim ini secara intensif. “Sebenarnya ada seorang siswa yang kami jagokan tahun ini. Sayangnya, sebelum sempat mengikuti kegiatan ini, dia sudah meninggal karena kecelakaan”, kata beliau prihatin.

Beliau juga mengharapkan dukungan lebih besar dari semua pihak seperti Pemda Singkawang, Dinas Pendidikan Nasional, atau sponsor. Mengenai kurangnya dukungan dari sekolah, beliau merasa tidak terlalu berpengaruh. “Intinya kami kurang persiapan”, ujar Asep menutup pembicaraan.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP