Warta Hari Ini

>> Monday, August 25, 2008

Hari ini hanya perlu beli satu Koran
Sebab headline-nya sama
Tentang seorang pria
Bukan artis, bukan pejabat, bukan koruptor
Hanya seorang tua
Usianya kira-kira 70
Keriput, dari dahi hingga leher
Kulitnya kendor bergelantungan
Mata dan jakun menonjol
Tambahan lagi, ceking
Tulang tangan dan kakinya timbul
Kulitnya yang hitam legam ogah-ogahan membungkus badan renta itu
Bukan paman Gober, bukan caleg, bukan pelaku sodomi
Ia hanya
(Kalau boleh dibilang hanya)
Seorang pria yang merajam dengan kata-kata

Pontianak, 24 Agustus 2008


Read more...

Hikayat Seorang Bisu

>> Monday, August 18, 2008

Ada seorang bisu,
Konon 10 tahun lalu
Ia memotong lidah
dan menjahit bibirnya sendiri

Setiap hari
Ia cuma memanjat pohon mangga,
mengendap-endap di parit belakang rumah,
pekarangan tetangga,
masuk ke kolong,
mengaduk tong sampah,
dan mengais-ngais tanah gambut
di dekat beranda

Kala petang
Ia selalu memanggul karung besar
Entah apa isinya

Para tetangga
Terutama nyonya-nyonya mulai resah
Mengira si bisu mencuri harta mereka
Lalu mereka delegasikan sang suami
Melongok ke dalam karung

"Apa isinya?" desak istri-istri itu saat mereka pulang
Suami yang malang itu tak menjawab
Hanya wajah mereka putih pucat
Tapi demi menghindar dari tatapan membunuh sang istri
Akhirnya menjawab juga
(dengan tampang hampir muntah)
"Kata-kata busuk punya dia!"

Read more...

180808 (01)


Aku akan tidur awal malam ini
Bukan karena lelah membebat tubuh
Atau kantuk memberati mata
Tapi menghindar dari tertusuk rindu
Sebab keinginan bertemu menyelinap teramat dalam
Hingga menggenapkan niat
Untuk menghilang dan mengadu nasib
Di alam mimpi

Kota Hantu

Read more...

Kasih, Aku Luka

>> Sunday, August 17, 2008

Aku masih tekun
Mengulang bait-bait cerita
Tentang kerinduanmu pada hujan, pada senja, pada wanita yang tercinta

Aku keluar dari bingkai kita
Membiarkan keindahan di tiap nyawa kalimatmu bersuara
Mengaguminya sebagai seorang perempuan
Sebagai seorang kawan

Tapi belati apa ini
Yang menusukku perlahan saat terbuai
Menyayatkan luka melingkar
Dalam dan merah dan berdarah dan nyeri dan linu dan perih dan lelah
Dan berairmata

Pontianak, saat mencintaimu


Read more...

Sore, Sajak

Tadi sore aku duduk di salah satu tempat makan favoritku bersama seorang penulis bernama Bang Wisnu. Suasana agak tenang dibarengi sejuk yang dibawa oleh hujan. Kami berbincang seolah teman lama. Selain itu, kami juga mengupas sajak-sajaknya yang tak usang meski ditulis hampir 10 sepuluh tahun lalu.

Aku tak melepaskan pandangan dari pria ini. Wajahnya yang jenaka membuat rasa segan yang kurasakan pada awal pertemuan menghilang. Dia tanpa ragu membuka satu demi satu topik menarik. Rasanya tak pernah kehilangan bahan yang menyenangkan untuk dibahas bila bersama penikmat sastra yang satu ini.

Perawakannya yang sedang-sedang saja dalam tinggi dan berat badan menjadi istimewa karena penampilannya. Bukan karena ia mengenakan jas atau kemeja. Tapi karena ia menggunakan celana pendek. Begitu santai dan sederhana. Padahal dia adalah salah satu penulis sastra yang cuku terkenal di Kalbar juga di negeri jiran Malaysia. Sungguh unik.

Baru beberapa menit duduk, dia segera membuka laptopnya. Tanpa ragu dia membacakan beberapa sajak sembari bercanda. Dia juga menunjukkan padaku sajak favoritnya. Tak lupa menjawab beberapa pertanyaan yang aku lontarkan.

Membaca dan berbincang mengenai karya Bang Wisnu membuat aku lapar batin. Ingin cepat pulang dan menulis puisi. Alhasil lahirlah puisiku berjudul “Menemanimu” yang memanglah tak sehebat tulisan puitik karya pria yang tak mau makan daging itu. Jauh sekali malah. Tapi mengingat ujaran Bang Wisnu,”Tulis saja semuanya, jangan sampai ada karya yang hilang”, segera aku tuangkan ideku yang masih mentah.

Semoga aku bisa belajar lagi di lain waktu pada pria satu ini, mengingat jadwalnya yang selalu padat. Mengikuti jejaknya menggaungkan kalimat Pram,"Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP