Warnet dan Pembantaian

>> Monday, January 12, 2009

Saya masih duduk di warnet saat itu. Mengerjakan tugas yang menumpuk menjelang ujian akhir.
“Eh, Grammar udah selesai belum?”
“Belum. Banyak soalnya! Tapi ramai yang belum.”
“O.. baguslah, ada kawan”.
Bukannya kabar, setiap baru sampai di kampus, malah tugas yang ditanyakan.

Sedang serius mencari artikel tentang Cooperative Learning, tiba-tiba seorang pria menyeletuk,”Kenapa ya Hitler dulu tak habiskan saja Yahudi?” Saya baru sadar ternyata yang dibicarakan invasi Israel ke Palestina.

Mereka bertiga. Dua orang di antaranya penjaga warnet. Yang seorang tampaknya teman mereka. Mendengar temannya bicara begitu, dua penjaga warnet tak menanggapi. Khawatir dua teman bicaranya tak paham soal sejarah Nazi dan Holocaustnya, ia menjelaskan sedikit. Tapi lagi-lagi tak ada tanggapan. Ia berlanjut tentang saham.

Saya nyengir sendiri. Tak bisa dibayangkan sebuah pembantaian merasionalisasikan pembantaian lain. Padahal sejatinya, pembantaian itu sinting. Israel membantai Yahudi, karena tanah, itu sinting. Apapun alasannya. Dulu Hitler membantai Yahudi juga gila. Tapi meski sekarang Yahudi yang jadi pelaku, tak pernah ada celah untuk pembenaran.

Perang selalu menyakitkan. Selalu meyisakan penyesalan. Selalu membunuh harapan. Dalam perang, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.

Read more...

Ketika Berita Ber-Striptease Ria

>> Wednesday, December 10, 2008

Berita. Sebuah karya jurnalistik mengenai suatu peristiwa yang lazimnya aktual dan akurat. Orang yang menulis berita disebut pewarta atau wartawan.

Sejalan dengan reformasi dan kebebasan pers di Indonesia--katanya sih bebas--berita dan media makin marak dan beragam. Semua yang bisa dibuka, dibuka. Malah makin vulgar. Misalnya liputan-liputan kriminal di media cetak dan elektronik. Sebagian besar sarat nuansa kekerasan fisik dan seksual.

Etika pemberitaan pun diabaikan. Seperti kerahasiaan identitas korban dan pelaku, gambar atau deskripsi yang terlalu detail tentang modus kejahatan, dan sebagainya.

Perlahan, berita pun menjadi penari telanjang. Dia benar-benar kehilangan fungsi. Dulu memberi informasi, sekarang memberi hiburan. Sebab media lupa untuk siapa dia lahir. Atau memang media bukan lahir untuk memihak kebenaran, seperti dulu. Atau sekarang media lahir untuk menambah kekayaan kaum kapitalis?

Bahkan posisi berita sekarang makin tidak jelas. Berita ada yang sebenarnya gosip. Gosip juga disamakan dengan berita. Lalu apa bedanya gosip dan berita? Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, sebuah buku yang menjadi acuan wartawan, untuk menghindari adanya bias dari diri wartawan dan untuk mendapatkan berita yang mendekati yang objektif, harus dengan metode objektif. Hanya satu. Disiplin verifikasi. Itulah beda berita dan gosip.

Jadi, berita hanya dari satu sumber--korban atau pelaku--haram diterbitkan. Berita itu belum memenuhi syarat utama jurnalisme. Kecuali pihak kedua buron atau terbunuh. Lagi, setiap karya yang tidak memenuhi verifikasi dan delapan elemen lain, tidak termasuk jurnalisme. Gosip apalagi. Makanya sangat mencengangkan ketika Cek&Ricek dengan bangga memproklamirkan diri sebagai:"pelopor jurnalime infotainment". Ironis.

Terakhir, berita tidak menyumpal pembaca dengan kebenaran. Hanya memberi jendela atau pandangan baru atas apa yang terjadi. Maka, jangan pernah percaya suatu peristiwa dari satu koran. Lebih baik memiliki banyak batu dan bisa memilih mana yang terbaik.

Read more...

Suatu Senin

>> Monday, December 1, 2008

"Git...aku chatting ama Gilang".

"Hmmm..."

"Aku chatting ama Gilang, aku suruh dia cepat-cepat".

Begitu kalimat-kalimat yang keluar dari bibir seorang remaja. Ia duduk di sebuah bilik warnet, tepat di seberangku.

Bahagianya mereka yang dapat bertemu dengan orang-orang yang mereka sayang. Menatap, menyentuh, memeluk. Satu cara untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Sebab rindu itu membunuh. Sebab ia mengiris-iris dan membuat gila. Perasaan yang tak pernah kenal negoisasi. Perasaanku yang terlalu rindu.

Benarkah aku bisa terbunuh?
Tidak. Jelas tidak.
Aku hanya tidak bisa tidur berhari-hari.
Kebal dari lapar berhari-hari.
Jatuh dari motor karena tidak konsentrasi.
Menulis dengan mata yang basah.
Yah, aku tidak akan terbunuh.

Read more...

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

>> Sunday, November 23, 2008

Ini judul cerpen baru SGA. Terbit di KOMPAS edisi Minggu, 16 November 2008. Ceritanya tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya. Katanya diculik. Tapi hingga bertahun-tahun kemudian tak juga jelas sebab musabab hilangnya anak itu. Satria.

Anak yang tak beruntung itu meninggalkan keluarga dan pacarnya. Saras. Satria hilang, Saras tak juga bisa melupakan. Malah hubungan ia dan keluarga Satria makin dekat. Ia setelahnya juga sibuk mencari-cari fakta di balik penculikan Satria.

Sang ibu yang kehilangan tetap bertanya-tanya:"Benarkah putranya diculik?" Sesekali diwarnai makian, hujatan, dan sumpah-serapah. Bertanya jawab dengan sang suami. Tapi hingga suaminya meninggal, tak juga jawaban itu hadir. Sampai suatu malam yang penuh kesendirian dan penantian, Saras menelepon.

”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.

”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”


Demikianlah Sebuah karya yang peka meski tak sedalam dan seunik biasanya. Disajikan dalam dialog-dialog layaknya drama. Seperti biasanya, sebagai seorang supir, Seno "menabrak" dengan lihai.

Cerpen ini seolah menjawab pertanyaan saya.

Saya ingat beberapa hari lalu di sebuah rumah makan, saya berbincang dengan seorang teman. Mengeluh bersama-sama tentang para "penculik" yang memakai jurus lama Suharto.
"Rakyat perlu makan"
"Rakyat perlu sekolah"
Slogan.

Saya ingat kata Andreas Harsono pada pelatihan narrative reporting Tribune Institute
angkatan pertama,"Jangan pakai slogan, tidak menarik".
Berbeda memang konteksnya. Yang satu tulisan, yang satu propaganda. Tapi yang jelas, rakyat sudah kenyang makan slogan.

Tapi sejujurnya slogan dan aksi-aksi branding ini cukup mengkhawatirkan. Mayoritas masyarakat Indonesia awam. Pendidikan politik begitu rupa belum masuk. Mereka masih mudah diperdaya.

Itu yang menjadi akar keluhan saya dan teman malam itu. Bagaimana jika masyarakat jatuh ke lubang yang sama? Memilih calon yang rupanya titisan Suharto?

Teman saya mengusulkan solusi. Tulis dengan berimbang siapa kandidat itu. Baik dan buruk sekaligus. Pernah menculik atau pernah menyumbang. Semuanya. Transparan. Minimal branding-branding di televisi punya balancing. Sebab kita tahu, iklan itu hasutan halus. Tak sadar terbujuk juga.

Saya bertanya lagi,"Siapa yang bisa?"

Saya lupa jawaban teman saya itu.

Yang jelas tak terbayangkan jika negara ini jatuh ke titisan Suharto.
Mimpi buruk lagi. Mimpi buruk lagi.

Read more...

MONOLOG KEPERGIAN

>> Friday, September 19, 2008

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan bagi semua orang. Ya kan?! Aku sudah lelah menunggumu sendirian dan punya waktu luang untuk bercerita denganku meskipun setiap minggu kau tak pernah alpa mengunjungiku. Barulah sekarang kita bisa bertemu dan akan kumulai sebuah kisah untukmu. Boleh ya? Tapi ingat, kau harus dengar baik-baik cerita ini. Dan sebelumnya aku ingatkan kita harus kembali ke masa dua bulan lalu sebelum aku berada di sini.

***

Saat itu aku berusia 17 tahun. Ya, gadis berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh sedang yang tengah mengalami fase menuju kedewasaan. Identik dengan kebiasaan mendramatisir masalah. Entah itu masalah keluarga, teman-teman, bahkan yang berbasis cinta. Padahal, harusnya saat itu kuinsyafi bahwa kehidupan tak pernah lepas dari yang namanya masalah. Kehidupanku adalah kehidupan ala sinetron saat prime time. Hanya saja lebih realistis.

Masalah pertama adalah tentang hubunganku dengan keluargaku yang tak pernah harmonis. Di rumahku ada sembilan orang yang tinggal termasuk sepupu-sepupu yang sedang mondok. Setiap hari selalu saja ada yang menjadi pemicu perang bahkan soal gelas sekalipun. Semuanya berkeras pada ego masing-masing sehingga dalam setiap pertengkaran, aku yang paling kecil, harus terus menyerah kalah. Tak ada yang membelaku. Orangtua? Mereka sudah terbang ke surga.

Dalam pergaulan aku juga tak lebih beruntung. Teman-temanku sering meninggalkan aku sendirian sehingga aku merasa kesepian meskipun mereka berseliweran di sekitarku. Baiklah, aku akui ada alasan yang membuat mereka menjauhiku. Watakku yang sensitif dan temperamental adalah hal sulit mereka terima. Bukannya aku tak pernah berusaha berubah. Sudah. Sayangnya setiap aku mulai berhasil, semuanya menjadi mentah seperti awalnya karena teman-temanku tetap tak percaya. Akhirnya aku lebih memilih diam dan membangun citra individualis dan introvert yang membuatku lebih merasa aman.

Namun, tentu saja aku juga manusia biasa yang membutuhkan muara untuk berkeluh kesah. Untungnya waktu itu aku memiliki seorang kekasih bernama Yoga yang berusia delapan tahun di atasku. Ia khas dengan kedewasaan, berkulit sawo matang, tinggi dan penyayang. Kepadanyalah aku mengadukan masalahku dan setelahnya aku merasa lebih tenang. Begitu terus seolah Yoga adalah candu bagiku. Wajar kan? Dia adalah satu-satunya orang bisa menerimaku apa adanya, mengerti keluhan-keluhanku, juga tak pernah berhenti menyemangatiku. Darinya aku tahu arti kebahagiaan. Saking bahagianya, aku mulai sering mendengar suara-suara yang kadang sangat keras dan menggangu. Suara itu terus memprovokasiku. “Dia” berkata jika Yoga pergi, siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku. Dan aku tersugesti. aku berubah menjadi orang yang posesif. Aku berusaha membatasi akses pergaulannya apalagi dengan teman wanita. Kemana dia pergi, aku pasti memaksa ikut dan jika aku tidak diperbolehkan (meski dikatakan secara halus), aku akan terus-menerus menghubungi telepon genggamnya.

Alhasil, Yoga merasa “gerah”. Bahkan dia sudah bosan. Menurutnya ini sudah berlebihan dan aku harus berubah (Huh, aku sudah jengah dengan kata itu). Dia berjanji akan berada di dekatku dan membantuku memindahkan beban berat dari kepalaku. Tapi sekali lagi, aku harus berubah. Kala itu aku berjanji. Namun, seperti yang sudah bisa kutebak, semua terjadi hanya untuk beberapa saat. Setelahnya, rasa khawatir lebih mendominasi daripada rasa percaya. Akhirnya, cinta Yoga menguap dan perlahan dia mulai meninggalkanku.

***

( Seseorang menepuk pundakku perlahan )

Aduh, maaf ! Kutunda dulu ceritanya sebab ada orang yang memanggilku. Dia minta izin untuk duduk di sampingku. Tentu saja aku perbolehkan. Kau bertanya siapa dia? Oh, dia Pak Harjo. Usianya 75 tahun. Profesinya adalah seorang seniman. Dulu saat aku sekolah, dia adalah pelatih teater. Bagiku, teater adalah dunia yang bisa membuatku menghargai diri sendiri. Tapi kemudian aku bosan dan berhenti. Walaupun begitu, aku tetap menyenangi dunia itu.

Wajah Pak Harjo sekarang masih terlihat segar meskipun beliau sudah bungkuk dan rapuh fisiknya termakan usia. Mungkin karena wajahnya yang selalu terlihat ramah ya? Apa katamu? Bagaimana dia bisa berkesenian di usia setua ini? Tuh dengar sendiri jawabannya:
“Bagiku kesenian adalah proses kehidupan. Berkesenian tidak mutlak hanya dalam bentuk membuat puisi, menulis, bermusik, atau berteater tapi juga dalam penerapan nilai etis dan estetika kesenian itu sendiri dalam kehidupan kita”.

Yah, memang begitulah pandangan Pak Harjo tentang kesenian. Dari dulu beliau sangat menghargai seni terutama teater karena teater adalah kesenian yang kompleks dan sebuah paket yang berisi beragam bentuk seni. Katanya, teater adalah miniatur kehidupan dan realitas. Jadi bukan hanya sebuah pentas dengan judul yang berbeda di tiap kesempatan. Itulah yang pernah juga beliau tanamkan padaku dan itu tercermin dari perilakunya sehari-hari. Jadi bukan hanya teori yang dicetuskan dan kemudian jadi omong kosong untuk menambah wibawa. Aku sendiri kagum padanya dan terus mencoba merefleksikannya dalam hari-hariku. Tapi mungkin aku bisa dibilang gagal karena aku tak dapat terus menjunjung konsep tersebut dan melaksanakannya secara ideal dalam hidupku.

Sepertinya nama Pak Harjo sudah dipanggil. Padahal masih ada hal yang ingin kutanyakan. Tapi aku tak ingin merepotkannya. Langsung saja kubantu beliau bangkit dan dapat kita lihat dari sini bahwa dia berjalan tertaih-tatih menuju sebuah ruangan besar berwarna putih tepat di belakang kita. Eh, sebelum ke sana, beliau berbisik mengucapkan salam bagi kita berdua. Beliau bilang mengapa kau tak kuajari sastra. Kujawab saja dengan senyum. Kurasa dia pun tahu bahwa waktu sudah tak lagi memberikan kelapangan untuk itu.

Nah, sekarang kita tinggal berdua lagi. Apa katamu? Baiklah, tadi sampai di mana ya? O iya, lalu ....

***

Yoga mulai bekerja di sebuah perusahaan yang besar sebagai supervisor. Aku juga tidak tahu bagaimana bentuk pekerjaannya, tapi yang kutahu sejak saat itu dia sibuk sekali hingga tidak sempat memanjakanku, seperti janjinya setiap kami bertemu. Ritual malam minggu dan jalan-jalan di hari minggu sudah tak pernah lagi dilakukan. Selain itu, belum tentu kami bisa bertemu sekali dalam satu bulan.

Dia tidak pernah lagi memikirkan kemampuan yang merajaiku ketika aku sendiri, menunggu kabar yang jarang dia berikan. Aku letih dengan kesepian, kesendirian, dan takut kehilangan. Rindu menggigitku setiap malam layaknya dingin yang menyusup ke tulang. Sungguh tak bisa kuceritakan perasaanku yang campur aduk saat itu. Bahkan kalaupun aku bisa, tidak akan ada yang mau mendengar.

Namun kemudian aku berkenalan dengan berbagai merk obat tidur untuk menjinakkan insomnia dan kegelisahan yang sangat hebat pada tengah malam. Dalam tidurku yang lelap itu, aku bisa bertemu dengan mas Yoga dan berbagi keluhan tentang hari ini. Dia selalu mendengarku lalu mengajakku berpikir positif. Sejak saat itu, kehidupanku sepertinya menjadi lebih baik. Obat tidur membantuku terlelap dan menggantikan pelukan seorang ibu dan senandung nina bobo. Pada keluargaku kukatakan aku sakit pada minggu pertama kebiasaan ini. Makanan dan obat generik terus diantar ke kamar, tempat aku bermanja dengan peraduan. Tapi hanya sedikit yang kusentuh. Aku lebih membutuhkan air. Masalah mandi dan lainnya apalagi sekolah adalah urusan keenambelas. Obat tidur terus meracuniku. Anehnya aku tidak merasa takut. Malah aku merasa lebih ceria dan bisa tertawa.

Dalam kehidupan nyata, Yoga tidak pernah menghubungiku. Kabar terakhir yang kudengar adalah dia sudah berpacaran dengan wanita lain dan sebentar lagi akan menikah. Wah, cepat sekali dia melupakanku. Hanya dalam hitungan bulan. Terserahlah! Mimpi pun sudah memuaskanku. Memang aku merasa agak aneh karena aku tak lagi bisa membedakan dunia nyata, mimpi, atau khayalan. Yang kuinginkan adalah semua kejadian bisa berjalan sesuai keinginanku. Tidak ada lagi kesedihan, hanya kebebasan terindah yang kurasakan dalam dunia di mana cuma ada aku dan bayang-bayang Yoga.

Tapi mengapa mimpi buruk yang ada di dunia nyata harus menginterupsi mimpi yang selama ini kunikmati? Bermula dari mimpi di suatu waktu (entah siang, entah malam karena aku tak pernah lagi memperhatikan waktu). Dalam mimpi itu, Yoga tidak lagi menghiraukan ceritaku, mungkin ia sudah bosan. Dia tak peduli dan hanya menulisi kertas yang berasal dari map-map yang menggunung di atas mejanya. Ketika aku ingin protes, aku terbangun.

Yang ada dalam pikiranku hanya satu, obat tidurku kurang aku melanjutkan tidur lagi untuk memperbaiki mimpi tadi setelah sebelumnya aku meminum tiga pil tidur yaitu dosis yang kuminum jika aku tak bisa tidur. Tapi kali ini mimpi itu datang lagi. Kali ini aku melihat Yoga melangkah pergi menuju sebuah pelaminan. Di sana, seorang wanita dengan pakaian adat jawa telah menunggu. Aku mengejarnya dengan ragu dan belum sampai sepuluh langkah aku sudah terjerembab.

Ketika itulah, untuk kedua kalinya, aku terbangun dengan keringat dingin mengucur. Aku mengutuk mimpi tadi dan membalik bantal aku aku tak lagi bermimpi buruk. Aku dengan sangat kesal meneguk obat tidur dengan dosis dua kali dari sebelumnya. Kemudian apa yang kutemui? Seorang wanita cantik berkulit putih menyilahkan aku duduk untuk menunggu giliran bertemu Tuhan. Seketika aku merasa nafasku sesak dan suara detak jantungku tak terdengar lagi. Dingin dan kaku merambah ke seluruh tubuh karena darah sudah berhenti mengalir. Aku berteriak dan mencoba bangun dari mimpi ini.
Gagal.
Gelap.

***

Nah, begitulah kisahku. Sejak kemarin aku menunggu bersama orang-orang yang ada di ruangan ini termasuk Pak Harjo tadi. Kau dengar tidak suara barusan? Ya, aku sudah dipanggil. Tenang saja, jangan bersedih. 40 hari lagi aku akan menemuimu dan bercerita tentang Tuhan
Ingat, jangan pernah berhenti menziarahi makamku.

Pontianak, Mei 2007

*Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen PSP SMA 4 Batam sebagai juara II Lomba Cerpen PSP II.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP