Merunut Jalan Djarum Menuju Sukses

>> Monday, March 16, 2009


Kesuksesan hanya datang dari inovasi, keyakinan, dan kerja keras yang tiada henti."
Itulah kunci sukses PT Djarum. Jurus pamungkas yang membawa dua Hartono bersaudara sebagai pemilik PT Djarum, menempati posisi ke-430 sebagai orang terkaya versi Forbes. Juga menobatkan perusahaan ini sebagai produsen rokok terbesar ketiga setelah Gudang Garam dan HM Sampoerna

PT Djarum memiliki kisah panjang untuk menuju puncak.

Berawal dari sebuah perusahaan swasta yang dirintis Oei Wie Gwan pada tahun 1951. Merk rokoknya Djarum adalah Djarum Gramofon. Arti harafiahnya, jarum gramofon—pemutar musik zaman dahulu. Dari sini, perusahaan Djarum terus berkembang dengan berbagai perubahan. Mulai dari pemendekan nama menjadi “Djarum” saja sampai sebuah tragedi kebakaran menimpa perusahaan ini tahun 1963 diikuti wafatnya sang pendiri, Oei Wie Gwan.

Djarum nyaris runtuh. Meski demikian, kedua putra mendiang, mengambil alih pengurusan perusahaan. Mereka adalah Bambang dan Budi Hartono. Merka melakukan berbagai upaya memajukan PT Djarum. Salah satunya dengan penelitian pada tahun 1970 untuk pencampuran rokok kretek baru. Kemudian mereka mulai melihat peluang ekspor pada tahun 1972. Puncaknya pada tahun 1976, PT Djarum berhasil menciptakan rokok filter pertama sekaligus memproduksi jenis rokok dengan brand baru, Djarum Super.

Langkah Djarum tidak berhenti sampai disitu. Umur Djarum berlanjut puluhan tahun. Hingga saat ini, PT Djarum mampu mempekerjakan 75.000 orang karyawan. Perusahaan ini juga tak pernah berhenti berkreasi. Sekitar tahun 2001, Djarum memvariasikan campuran baru.

Hasilnya? Djarum Black!

Djarum Black dikatakan unik sebab dia memiliki aroma dan rasa yang unik. Terbagi menjadi Djarum Black Tea dan Djarum Black Cappucino. Produk baru ini diterima baik di pasaran. Tidak cukup sampai disitu. Meski baru, Djarum Black telah mejadi brand Internasional, berbarengan dengan Djarum Super yang lebih tua 33 tahun.*referensi utama Wikipedia.

Read more...

Telat Baca


Blog mulai menjadi komoditi yang marak diperlombakan dewasa ini. Tujuan, persyaratan, dan hadiahnya bermacam-macam. Mulai dari domain gratis, voucher PayPal, sampai hadiah jutaan rupiah.

Djarum Black rupanya tak mau ketinggalan. Menyusul berbagai lomba dan kegiatan lainnya seperti Djarum Blackinnovationawards, Djarum Black Motodify, sampai Djarum Black Slimznation. Hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan, 1 Mini Notebook, 2 Blackberry Curve, dan 10 voucher senilai Rp 200 ribu.

Sebenarnya sayembara ini sudah digaungkan sejak tanggal Desember 2008. Malang, saya baru membacanya pertengahan Maret. Padahal di syaratnya, artikel yang dimuat di blog dengan kata kunci tertentu harus lebih dari 20 buah. Berarti saya harus ‘ngebut’ menulis.

Lucunya waktu pertama saya melihat ada lomba ini, saya langsung semangat daftar. Sampai-sampai saya tak melihat apa hadiahnya. Jarang-jarang saya begini. Alasannya, saya seudah sering melihat Djarum mengadakan kegiatan. Bukan hanya yang di bidang-bidang teknologi dan life style, tapi yang saya ingat juga beasiswanya.

Kegiatan-kegiatan Djarum makin mengemuka setelah menelurkan Djarum Blackinnovationawards. Lalu dilajutkan dengan gawe-gawe yang berhubungan dengan hobi terutama kaum Adam (namun bukan berarti tidak ada perempuan yang berpartisipasi). Contohnya Djarum Black Night Slalom, Black Car Community, dan sebagainya.

Kegiatan Djarum Black memang inovatif dan memiliki segmentasi tersendiri. Meskipun berupa rangkaian promosi dan branding, beberapa kegiatan tertentu berdampak positif bagi masyarakat luas. Misalnya Djarum Black Slimznation, yang ikut meramaikan dunia pariwisata di Indonesia. Tapi memang tetap bergulat di segmen life style.

Agak rancu, saat saya mengecek daftar peserta, saya agak bingung. Mengapa blog Djarum juga terdaftar. Agak aneh menurut saya. Awalnya saya kira, ada peserta yang menyiapkan blog tersendiri untuk lomba ini. Termasuk menyiapkan nama yang mirip-mirip dengan blog Djarum. Ini biasa sebagai bagian dari strategi. Namun saat saya buka blognya, saya langsung tersambung dengan blog Djarum Black. Sampai di sini saya tidak punya argumentasi lanjutan. Semoga saya salah paham.*foto: dari sumber umum.

Read more...

Mengajak Ibu Belajar “Surfing”

>> Saturday, March 14, 2009


IPTEK semakin hari makin berkembang. Jika dulu informasi didapat dengan menekuri ribuan buku dan literatur, sekarang tinggal mengetik sejumlah kata kunci. Ribuan tulisan yang sesuai akan muncul. Malang bagi orang-orang yang keduluan lahir atau orang-orang yang tidak mau belajar. Saya mendengar seorang dosen berkata,”Kalian beruntung hidup di zaman Internet.” Yang lain mengatakan, mereka bukannya gaptek (gagap teknologi), hanya mereka tidak lahir di era ini.

Apapun alasannya, saya yakin belajar adalah portal. Belajar adalah jembatan dari era ke era. Buktinya banyak juga yang bisa mengimbangi kemajuan internet dengan belajar terus-menerus. Atau merintis jalan belajar secepatnya.

Ibu saya misalnya. Beliau adalah seorang pegawai negeri di Kanwil Pontianak. Sejak lima tahun lalu, internet sudah diinstal di kantornya. Fasilitas ini dipakai terutama untuk mengirim data pusat dan sebagainya. Sayang, masih banyak karyawan hingga saat ini masih belum fasih dengan internet. Termasuk ibu saya tercinta.

Tapi beliau tidak menyerah. Hari ini begitu saya install internet di rumah, beliau langsung menyatakan ingin belajar. Maka saya langsung semangat dan mengajaknya membuat akun di Yahoo!.

Saat pendaftaran berlangsung, beliau bertanya,”Kita udah masuk internet kah?”

Saya tak mampu menahan senyum. “Sudah dari tadi kan, Bu’?” saya bilang.

Kami kemudian menekuni laptop selama satu jam. Saya yang mula-mula mendaftarkan. Beliau melihat. Saya minta ia mencatat alamat e-mail dan password, khawatir dia lupa. Kebetulan Yahoo! Sedang tak lancer. Belajar kami agak tersendat-sendat. Sambil menunggu akunnya terdaftar, kami membuka beberapa situs. Saya menunjukkan kepadanya blog saya. Lalu kami mengunjungi kompas.com dan google tentunya. Beliau ingin membaca berita-berita keuangan. Saya rasa ini pun untuk belajar.

Setiba di kompas.com, beliau terpukau dengan data-data yang luar biasa banyak. Ia membuka rubrik keuangan. Berita yang pertama dibacanya adalah “inilah Orang-orang Kaya Indonesia”. Beritanya tentang lima pengusaha di Indonesia yang “terselip” ke jajaran orang kaya dunia versi Forbes.

Seperti yang dilansir situs Tempo, pemilik perusahaan rokok Djarum, Budi Hartono dan Michael Hartono, menjadi dua dari tiga orang Indonesia--satu lagi Peter Sondakh-- yang sukses merangsek ke dalam daftar manusia berkocek paling tebal versi Forbes ini. Duo Hartono itu menempati posisi 430, sekaligus menjadi orang terkaya di Tanah Air.

Lalu kami kembali ke Yahoo! Akun sudah terdaftar. Mulailah beliau belajar membuka e-mail. Kami keluar dulu, lalu masuk lagi. Pelan dan tergagap-gagap beliau mengetik. Pertama, karena beliau tak akrab dengan anatomi laptop saya. Kedua, karena belajar membuat e-mail sama sekali asing baginya. Kami ulang prosedur membuka e-mail sampai tiga kali. Makin lama beliau makin paham dan lancar.

“Udah dulu ya Nak. Ibu sampai keringatan.”

Saya melihat wajahnya. Nampak butir-butir keringat mengantri di atas bibir dan di daerah dagu. Rupanya ibu saya gugup sekali.

Kami tertawa.

“Terima kasih ya Nak,” ibu saya berlalu sembari mengelus rambut saya.

*foto:simplemom.net

Read more...

Akhirnya...

>> Saturday, March 7, 2009

Hore! Hore! Hore!

Akhirnya tulisanku terbit. Meski bukan di Kompas edisi cetak, tapi lumayan diterbitkan di Kompas.com.

Tulisannya pendek saja. Hanya mengenai seorang perempuan yang menulis surat pada kekasihnya. Kekasihnya seorang wartawan yang meliput ke “daerah perang”.

Aku sangat suka cerpen ini sebab entahlah jika orang mengatakan tentang “soul”, nah di karyaku yang ini ada soul yang unik. Mungkin hanya perasaanku. Tapi ada rindu yang kuat sekali dalam cerita ini.

Wuih, aku tak bisa banyak komentar tentang tulisan ini sebab jatuh-jatuhnya narsis. Jika berminat membaca, kunjungi saja Kompas.com di rubric Oase. Ceritanya berjudul “Senja Untuk Wisnu”.


Read more...

Takdir "Taktektaktektak"

>> Monday, February 16, 2009


“Setiap karya memiliki takdirnya sendiri. Ingat itu.”


Begitulah ujar seorang sahabat. Mungkin ucapan itu sudah saya dengar hampir sepuluh kali. Belum lagi yang saya bisikkan pada diri sendiri. Saat itu saya baru saja mengirim sebuah cerpen ke Kompas. Malam minggu pulang mengajar les, saya singgah ke warnet. Dengan nekad, setelah mengedit semaksimal mungkin, karya itu saya kirim ke alamat yang tertera di situs kompas.com. Tepatnya oase@kompas.com. Ini kali pertama saya mengirim ke media nasional. Pesimis, saya hampir yakin akan ditolak. Setelah ada laporan email terkirim, baru saya menyesal, kenapa harus Kompas? Cari mati memang!

Teringat lagi ucapan seorang teman saya. Katanya honor dari Kompas lumayan. Saya memang sedang butuh uang untuk uang muka laptop. Minimal jika lama baru dimuat, mungkin bisa buat bayar cicilannya. Nah, setelah email terkirim, saya teringat kalimat kedua yang diucapkan teman saya itu. “Persaingannya ketat, 1;1000, sama penulis kelas Seno dan Sapardi Djoko Damono lagi.” Sekarang nyali saya ciut.

Dua hari kemudian saya kembali lagi ke warnet. Jantung saya berdebar-debar. Tangan dan kaki dingin. Satu pesan baru. Pelan-pelan saya membuka kotak masuk sambil menyiapkan mental. Lama saya terdiam. Dua kali email itu saya baca.

Rupanya salah kirim. Usut punya usut, alamat email itu sudah diganti ke jodhi@kompas.com. Alamat ini pun bukan kompas cetak, tapi onlinenya. Dan untuk online, tidak ada honorarium. Bung Jodhi membalas email saya, menyarankan untuk mengirim ke kompas@kompas.com. Saya juga mengecek ke Kompas online edisi cetak. Tapi alamat yang tertera, opini@kompas.com.

Mana yang benar? Lantas saya kirim ke dua-duanya.

Saya beli laptop. Uang muka hasil tabungan mengajar sebulan dan beberapa kerja sampingan. Totalnya 3 juta. Harga Acer 2930 kalau dirupiahkan 8.120.000. Lumayan. Dihitung-hitung cicilan selama 18 bulan, 372.000. Masih bisa dibayar dengan gaji mengajar. Sekalian saya juga membeli printer Canon Pixma MP145.

Beberapa minggu sebelum membeli laptop, ponsel saya hilang. Nokia 5200. Tak terlalu mahal memang. Tapi sulit untuk dibeli lagi. Niat saya, jika dapat honor, bisa mengganti ponsel ini. Harapan saya makin tinggi. Doa semakin banyak. Kaki dan tangan sering dingin saat buka email.

Tapi dua minggu berlalu, belum ada jawaban.Beberapa hari kemudian, baru sebuah email dari redaksi Kompas datang. Isinya mengabarkan cerpen saya sudah diterima dengan baik. Saya akan diberitahu apakah diterbitkan atau tidak. Saya juga diberitahu untuk tidak mengirim ke kompas@kompas.com lagi.

Saya senang sekali. Meski sempat nyasar dua kali, tapi cerpen sudah sampai ke tempat yang tepat. Sekarang tinggal menunggu dimuat atau tidak. Perkiraan saya, sekitar dua minggu.

Minggu pertama. Saya bangun pagi-pagi. Berniat langsung ke lapak untuk membeli koran. Ternyata di Pontianak, Kompas baru tiba sekitar pukul tiga sore. Saya pulang. Malamnya berburu lagi. Hampir kehabisan. Di lapak yang saya kunjungi, Kompas sisa dua. Buru-buru pulang. Saya membuka koran pelan sekali. Pura-pura tak peduli, apakah cerpen saya dimuat atau tidak. Tapi hati saya berteriak-teriak, “Kalau dimuat, akan saya bingkai, pajang di rumah!” Lima menit berlalu. Barulah saya sampai di halaman Seni. Saya menatap halaman itu lama. Tak ada kata-kata keluar dari bibir saya.

Cerpen yang dimuat Cerita Tentang Hujan.Bukan cerpen saya.

Berarti saya harus menunggu lagi. “Setiap karya ada takdirnya sendiri.” Ini ketiga kalinya dalam seminggu teman saya berkata begitu. Dia agak khawatir sebab saya tiap hari bolak-balik warnet. Lalu pulang dengan wajah cemberut. Kadang menggeleng. Masuk ke minggu ketiga, saya mulai tak “agresif”. Jarang mengecek email. Kalaupun belum ada balasan, saya hanya tersenyum. Menghibur diri sebenarnya. Setiap malam sebelum tidur, saya bergumam,”Setiap karya ada takdirnya sendiri.” Juga sebelum mandi. Juga sebelum mengecek email. Nyaris seperti doa.

Rabu. Tanpa harap saya mengecek email Yahoo. Sekalian mengecek Gmail karena seorang sahabat meninggalkan pesan yang tampaknya penting. Saya agak kaget. Dua-duanya ada satu pesan baru.Seperti biasa, saya menunda membaca email Yahoo, yang mungkin dari Kompas. Saya membuka pesan yang di Gmail dulu. Dari sahabat saya. Barulah setelah tak bisa menghindar lagi—dari rasa penasaran sekaligus takut kecewa—saya membuka kotak masuk Yahoo. Sambil mengatakan dalam hati,”Kalau ditolak, harus kuat!”.

Subjeknya singkat dan jelas. “Pengembalian Artikel”. Yang mengirim Bre Redana, Redakturnya. Saya menguat-nguatkan hati. Selama tiga minggu saya memikirkan bagaimana kalimat yang akan dikirimkan kepada saya nanti. Pernah membuat saya tak tidur semalaman. Saya punya firasat akan ditolak. Tapi seperti yang biasa saya katakana,”Kita tahu. Tapi tak benar-benar paham sebelum terjadi.”

Teman saya menghibur.“Wah, bangga dong dikirimi email oleh Bre Redana. Tak apa tak dimuat. Yang penting, Bre Redana tahu ada penulis cerpen namanya Yauma. Ya?”Saya tak berkata apa-apa

Melihat saya diam, dia melanjutkan,”Jarang patah arang ya? Kita kirim ke Playboy!”

Esoknya saya jadi penasaran, bagaiman cerpen yang Bre Redana kehendaki dan sesuai kompas. Mulailah saya bergerilya di Google. Saat saya ketik Bre Redana untuk melihat cerpen yang dia tulis, malah terbuka beberapa biografi singkat tentangnya.

Yang pertama di situs Djarum Black Innovation Awards. Di sana tertulis, Bre Redana adalah juri Djarum Black Innovation Awards. Kemudian, biografi lebih lengkap dimuat di Laman Pusat Bahasa. Bre Redana mulai menulis sejak kelas 2 STM, yang dikirim ke berbagai media. Karangannya juga coba dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka-lah ia berjodoh. Tulisannya banyak dimuat.

Ia beroleh honor yang memadai sebagai penulis di harian ibu kota itu.

Ironisnya, baru saja lulus sarjana muda dari Satya Wacana, tahun 1981, Bre Redana malah diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya. Bahkan sekarang beliau adalah editor desk non-berita Kompas.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP