LDR dengan Ponsel Pintar

>> Thursday, June 14, 2012

Sepertinya sejak 1 Juni 2012 biaya komunikasi jadi mahal. Maklum tidak ada lagi SMS gratis ke semua operator. Makin susah kontak dengan ibuku dan saudara jauh. Apalagi sekarang aku LDR alias hubungan jarak jauh dengan ibuku. Kalau dulu tinggal SMS kalau habis masak nasi goreng enak. Sekarang SMS sering gagal karena kehabisan pulsa.

Sebenarnya murah juga kalau chat. Tapi artinya harus cari ponsel pintar baru yang cocok.
Buat aku ponsel pintar bukan ponsel yang mahal. Tidak mesti yang canggih dengan segala macam fitur seperti push-email yang akhirnya tidak pernah disentuh. Ponsel pintar itu harus gampang dioperasikan. Maklum, ibuku suka yang praktis. Lebih memilih model candy bar. Ukurannya jangan kebesaran seperti kebanyakan smart phone zaman sekarang.
 

Bagus untuk internetan. Soalnya kalau ada fitur internet tapi lambat, jadi malas juga. Waktu cari di Google ada Nokia Asha 202. Murah, di bawah 800 ribu. Tidak neko-neko. Unik juga karena dual sim card nya bisa diganti dari samping. Jadi tidak buka penutup belakang. Yang lebih keren lagi dia touch screen tapi ada keypad biasa juga. Yang buat ponsel ini makin menarik karena ada tawaran pintarnya.
 

Jadi di Nokia Asha 202, ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. 

Kalau pakai paket Hebat Keluarga, komunikasi jadi murah. Jadi paketnya telpon gratis sepuasnya ke 4 nomor Indosat. Boleh pilih siapa saja. Syaratnya cuma isi 10 ribu sekali. Bisa dipakai sebulan. Kalau telpon-telponan dengan Nokia Asha 202 bisa tahan 5 jam bicaranya. Ada juga 200 SMS gratis ke semua operator setelah setelah pakai 500.
 

Enaknya juga karena ada bonus Layanan Info Wanita. Jadi ada fitur di ponsel Nokia Asha 202 itu yang bisa berikan info khusus untuk Wanita. Gratis setahun.
 

Indosat juga punya fitur Lacak. Cuma dengan masukkan nomor indosat, pengguna bisa tahu di mana lokasi yang punya kartu. Jadi kalau ada percobaan penipuan, ibuku bisa lebih pintar menghindarinya.
Nah, sudah ketemu solusinya. Tinggal beli Nokia Asha 202 yang ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes "Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia"  yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

Read more...

Macet di A. Yani : Pemuda Dayak?

>> Thursday, March 15, 2012

Langit senja menyepuh awan hingga menjadi keemasan. Sudah pukul 5 lewat 40 menit. Jalan A. Yani macet. Motor, mobil, pick-up, bis, dan truk nyaris tak bergerak. Kemacetan dimulai dari depan hotel Mercure. Beberapa pengendara motor memilih belok ke Jalan Perdana, samping Mega Mall, untuk menghindari kemacetan di depan. Banyak juga yang tetap lurus termasuk saya. Dengan perlahan-lahan menaikkan gas motor dan hati berdegup, saya terus maju. Bertanya-tanya apakah tidak salah memilih rute ini. Beberapa anak usia tanggung sampai berdiri dengan tangan masih memegang stang. Setengah ingin tahu, setengah waspada.

Makin dekat museum, macet makin parah. Kami hampir tak bergerak. Masih belum nampak apa penyebab kemacetan yang ada. Saya hanya melihat seorang pemuda mencopot banner Yamaha dan berjalan. Meski tegang, ada kilatan semangat di antara geraknya. Ternyata ia melintangkan banner yang di terikat pada kayu itu di jalan masuk menuju Jl. Sutoyo. Di sini jalan sudah macet total. Palingan hanya bisa mencuri satu dua meter kedepan, menyelip antara ruang-ruang yang renggang.

Suasana mulai tegang. Berduyun-duyun pemuda muncul. Ada yang berambut panjang dan bermuka sangar. Ada yang merengsek maju ke depan barisan. Mereka berjalan berdua-dua atau bertiga-tiga. Membentuk sebuah barisan panjang. Sebagian besar dari mereka memakai atribut merah. Kain merah yang diikat ke kepala atau lengan. Seorang pemuda menyandang mandau dalam sarungnya. Pemuda yang lain hanya membawa sarung tanpa mandau. Yang lain mengacung-acungkan kayu ke udara. Seorang pria tak berbaju berbadan legam berteriak,”Dayak, dayak.”

Rupanya barisan ini yang menyebabkan kendaraan tak bergerak. Bersumber dari jalan Veteran, mereka mengarah ke jalan Sutoyo. Kemungkinan menuju Rumah Betang, rumah adat Dayak, yang berada di jalan itu. Polisi nampak siaga mengatur lalu lintas dan mengarahkan para pemuda ini.

Suasana di jalan A. Yani walaupun cukup menegangkan tidak segawat cerita orang-orang. Setidaknya tidak seekstrim yang saya bayangkan. Tidak ada pertumpahan darah atau bayangan buruk yang mengikuti sebuah kerusuhan. Saat langit makin mendung dan matahari kian turun, saya sudah melaju pulang. Dari pengeras suara masjid mulai terdengar suara orang mengaji.

Saya menarik napas lega. Lagi-lagi baru tersadar betapa indahnya kedamaian yang tak pernah saya syukuri sampai sore tadi.

Read more...

Orang Sambas Pelit?

>> Friday, September 2, 2011

Saya kaget waktu dengar beberapa orang memberikan stereotipe pelit kepada orang Sambas. Padahal saya kenal beberapa orang Sambas dan tak satu pun yang mewakili stereotipe tersebut. Yang saya tahu orang Sambas itu ramah dan pemurah terutama kepada tamu. Kebetulan sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan pria Sambas. Saat ke rumahnya, yang saya dapati adalah perhatian dan kehangatan dari segenap keluarga besar. Setiap pagi saya pasti dijamu dengan kroket hangat dan ditanya mau minum apa. Mamak, begitu ibu pacar saya disapa, kemudian sibuk di dapur mempersiapkan lauk-pauk untuk makan. Setelah itu, saya diajak makan.

“Tambahlah nasi’,” selalu mamak berujar seketika piring saya kosong.

Belum lagi jika ada penganan seperti kerupuk. Tidak pernah saya tidak dipersilahkan untuk makan. Tidak pernah pula mereka menahan-nahan makan cuma karena saya sedang menginap. Pokoknya, apa yang mereka makan, itulah yang saya makan.

Mengingatkan saya pada beberapa teman kampus yang asal wilayah Sambas. Satu teman saya, Hatifah. Dia mahasiswa nge-kos di dekat kampus. Dulu, waktu ada jam kosong, kadang saya mengungsi ke kosnya sampai mata kuliah berikutnya. Dia juga rajin berbagi terutama makanan meskipun kondisinya sendiri terbatas. Sering saya tahu dia cuma makan seadanya, terutama saat uang kiriman belum tiba. Tak jarang sarapan dan makan malam hanyalah mi instan yang dibagi dua. Itu pun jika ada teman lain di kos yang tidak makan, pasti akan dibagi.

Makanya, sekali lagi saya bilang, saya kaget mendengar ada stereotype bahwa orang Sambas itu pelit.

Itulah masalahnya dengan stereotipe. Seperti ramalan zodiak yang kadang kebetulan benar, ia terus dipakai untuk menyamaratakan karakteristik sebuah kelompok. Hal ini sudah berurat berakar dalam pemikiran masyarakat Indonesia. Meski terlihat sepele, ini adalah hal yang berbahaya di negara dengan keberagaman. Stereotype baik menimbulkan kekecewaan ketiap yang terjadi berlawanan. Stereotype buruk membuat orang enggan menjalin silaturahmi dengan suku tertentu karena sudah timbul prasangka atau prejudice.

Mungkin tidak semua orang begitu termakan dengan stereotipe. Terutama orang yang sudah berulangkali memiliki pengalaman bahwa tidak semua orang dalam satu suku itu sama walaupun dibesarkan dengan adat yang berbeda. Saya hanya bisa berharap bagi yang memiliki kejengahan pada stereotipe seperti saya bisa terus menularkannya kepada orang lain.

Read more...

And Who?

>> Monday, June 27, 2011

A shadow was lurking me
At first, I saw none
Though it's never gone
It kept me company

Day by day
This shadow looked more like me
a sense of familiarity
made us one entity

Yet the more we collided
the more fear grows inside

I ran
It followed
Well, after all it was my own shadow

One day, as if tired
This shadow started to vanish
And finally, I am able to breath
Though a strange feeling arises
That I am becoming more like it

Pontianak, 27 Juni 2011

Read more...

Amazing: Fried RIce for Rp 2000!

>> Friday, June 24, 2011

All my life, I have never felt so shocked before.


Well, I have experienced all kind of surprising events. For example, when a boyfriend turned up before my eyes unexpetedly. Or when someone prepared a birthday cake in my birthday. Or when my boyfriend (ex now) sent wrong SMS to his another girlfriend to me. Well, those things are really stung my heart, either in good or bad way.

But for food, it is different. I know a feeling when tasting a delicious food. But always I am kinda worry about myself financially or worry about my diet. This time, I did not only find a amazingly great food, it was also in my portion and under my budget.

I was feeling a bit hungry yesterday afternoon. I am in a diet program to lose about 3 kg this month so I have been cutting my eating portion and avoiding dinner. Usually I eat at 3 pm but yesterday I just so busy that only after 5, I realized I haven't eaten anything. So I took my key and started looking for food. Then, came my biggest problem. To find a small portion food but not the simple rice and veggies. And it should be near where I live.

I then picked a place. It sells Pecel Lele, Pecel Ayam, Nasi Goreng or Fried Rice. I remembered coming here for Pecel Lele and it had such a nice service. So I ordered a half portion of Fried Rice and when it's time to wrap my order, I stood near the chef and told him the exact portion that I desired. Thank God, he was willing to listen to me! When it was time to pay, I asked him in Javanese,"Piro Mas?" which loosely translated as,"How much?" Then he answered, Rp 3000. I only had two Rp 2000 bill, so I handed it to him. And to my amazement, he gave one of the bill back. So I practically paid only Rp 2000!

Now, with this simple thing, how could I be so happy? It was not about the money, but the service. That the man were willing to give me my desired portion. C'est bon, aussi. As a costumer, that what I want to buy and it was the one who made me satisfied. Now, when I thought about fried rice, I'll be damned if that place did not come first in my mind.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP