Perjalanan Menuju Halal

>> Sunday, August 5, 2012

Suatu malam tarawih saat aku SMP

Saat ini pertengahan Ramadhan. Shaf semakin sepi. Riuh rendah remaja berceloteh nyaris tak terdengar. Terganti dengan dar der dor bunyi petasan. Aku mengingatnya sebagai malam yang sendu. Di samping kiri kananku ibu-ibu paruh baya. Di shaf depan nenek-nenek semuanya. Saat berdiri dari sujud terdengar bunyi kretekan tulang lutut. Badan mereka tergopoh-gopoh untuk bangun.

Semuanya menjadi sebuah kejadian yang sangat lumrah. Di pikiranku semakin tua orang semakin terpacu mengejar pahala dan ridha Allah. Motivasi mereka, pikirku saat itu, karena umur telah menjadi sumbu yang kian pendek setelah dibakar jejak-jejak kemudaan.

Tak banyak ritual tarawih yang kuingat setelah malam itu. Mungkin karena semuanya menjadi biasa. Atau aku yang berhenti menjadi bagian di dalamnya.

Malam kedua Ramadhan 2012

Sesuatu membuatku tentram dan bahagia di awal Ramadhan ini. Entah apa tapi ada. Bisa jadi suasana dingin yang melembutkan perasaan. Bisa juga acara lamaran yang baru minggu lalu dilaksanakan. Yang jelas membuatku tergerak menumpahkannya di blog.

Malam ini aku memikirkan orang tua-orang tua yang kutemui tarawih dulu. Memandangnya dari perspektif yang berbeda. Bukan karena takut siksaan setelah kematian saja mereka bersusah payah jalan ke masjid. Tapi ada kesadaran dan ketenangan ketika mereka dekat dengan yang halal dan sejauh mungkin dari haram. Seperti ketenanganku ketika memutuskan untuk menikah.

Di usia ke 23 aku bisa merasakan banyak perubahan. Dulu aku banyak menuruti nafsu dan perasaan. Tak peduli apa jadinya hidup dan masa depan. Modal nekat dan berani saja. Aturan dan norma sering dihajar. Sekarang aku mau menjadi sebaik-baiknya untuk anak-anak dan keluargaku di masa depan. Hubungan yang membahagiakan rasanya semakin indah ketika sudah halal. Segala bentuk rasa cinta dan kebersamaan terasa bebas dari dosa ketika semua sudah halal.


Menuju Pernikahan

Pelan-pelan aku dan pasangan mencicil persiapan menikah. Di laptop aku siapkan folder sendiri untuk persiapan nikah. Yang paling berat tentu menyiapkan antaran bagi pihak perempuan. Antaran berupa perlengkapan mandi, perlengkapan kosmetik, perlengkapan pesta, pakaian tidur, alat shalat, perlengkapan kamar tidur, dan satu set emas. Antaran berbeda-beda di tiap budaya. Karena calonku dari Sambas maka ada tambahan kain benang emas Sambas dan kebayanya.

Aku hati-hati sekali memilih produk yang akan dibeli agar tidak mubazir. Terutama masalah kosmetik. Seringkali aku jerawat batu kalau salah memakai bedak. Untuk perlengkapan kosmetik nanti aku ingin gunakan Wardah karena lembut dan ramah kepada wajahku yang berminyak. Wardah tidak mengandung bahan-bahan yang bisa membuat pori-pori tersumbat sehingga terhindar dari jerawat.

     List belanja Wardahku:
  • Untuk bedakan di rumah, Luminous Face Powder. Dia dibuat dengan oil control jadi bisa menyerap kelebihan minyak.
  • Lalu untuk bepergian, Wardah Luminous Two Way Cake. Sebenarnya ada yang compact powder cuma kalau Two Way Cake tidak perlu lagi pakai foundation. Tinggal basahkan sedikit spons langsung menempel bedaknya.
  • Wardah Moisturizer Gel. Ini penting dipakai tiap pagi. Dengan cuaca yang kering sekarang ini, perlu pelembab yang membuat kulit lembut. Karena ada oil control, aku tidak khawatir menggunakan pelembab Wardah ini.
  • Karena aku pakai kacamata jadi tidak beli make up untuk wilayah mata. Budgetnya aku gunakan untuk wilayah bibir. Yang harus adalah Lip Balm Wardah untuk merawat kelembutan bibir. Lip Balm ini untuk dioleskan pagi dan malam.
  • Untuk di rumah, aku akan beli Lip Gloss Wardah. Produk ini bisa mengembalikan warna bibir yang kehitaman karena memakai lipstik terlalu sering tanpa cukup pelembabnya.
  • Untuk jalan-jalan biasa aku suka yang ringan. Ada produk Hydrogloss Wardah yang warnanya transparan tapi membuat bibir kelihatan segar dan cantik. Hydrogloss banyak vitaminnya seperti ekstrak lidah buaya, jojoba oil, dan vitamin E.
  • Untuk undangan, aku suka yang membuat bibir terlihat basah. Jadi aku pilih Exclusive Lipstick yang banyak vitamin E, jojoba, dan olive oil. Kandungan yang biasa diberikan untuk merawat kulit bayi.
Yang paling penting, Wardah terbuat dari bahan-bahan yang dijamin halal. Insya Allah, yang halal lebih baik.

Read more...

LDR dengan Ponsel Pintar

>> Thursday, June 14, 2012

Sepertinya sejak 1 Juni 2012 biaya komunikasi jadi mahal. Maklum tidak ada lagi SMS gratis ke semua operator. Makin susah kontak dengan ibuku dan saudara jauh. Apalagi sekarang aku LDR alias hubungan jarak jauh dengan ibuku. Kalau dulu tinggal SMS kalau habis masak nasi goreng enak. Sekarang SMS sering gagal karena kehabisan pulsa.

Sebenarnya murah juga kalau chat. Tapi artinya harus cari ponsel pintar baru yang cocok.
Buat aku ponsel pintar bukan ponsel yang mahal. Tidak mesti yang canggih dengan segala macam fitur seperti push-email yang akhirnya tidak pernah disentuh. Ponsel pintar itu harus gampang dioperasikan. Maklum, ibuku suka yang praktis. Lebih memilih model candy bar. Ukurannya jangan kebesaran seperti kebanyakan smart phone zaman sekarang.
 

Bagus untuk internetan. Soalnya kalau ada fitur internet tapi lambat, jadi malas juga. Waktu cari di Google ada Nokia Asha 202. Murah, di bawah 800 ribu. Tidak neko-neko. Unik juga karena dual sim card nya bisa diganti dari samping. Jadi tidak buka penutup belakang. Yang lebih keren lagi dia touch screen tapi ada keypad biasa juga. Yang buat ponsel ini makin menarik karena ada tawaran pintarnya.
 

Jadi di Nokia Asha 202, ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita. 

Kalau pakai paket Hebat Keluarga, komunikasi jadi murah. Jadi paketnya telpon gratis sepuasnya ke 4 nomor Indosat. Boleh pilih siapa saja. Syaratnya cuma isi 10 ribu sekali. Bisa dipakai sebulan. Kalau telpon-telponan dengan Nokia Asha 202 bisa tahan 5 jam bicaranya. Ada juga 200 SMS gratis ke semua operator setelah setelah pakai 500.
 

Enaknya juga karena ada bonus Layanan Info Wanita. Jadi ada fitur di ponsel Nokia Asha 202 itu yang bisa berikan info khusus untuk Wanita. Gratis setahun.
 

Indosat juga punya fitur Lacak. Cuma dengan masukkan nomor indosat, pengguna bisa tahu di mana lokasi yang punya kartu. Jadi kalau ada percobaan penipuan, ibuku bisa lebih pintar menghindarinya.
Nah, sudah ketemu solusinya. Tinggal beli Nokia Asha 202 yang ada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia yang kini hadir untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita.


*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes "Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia"  yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

Read more...

Macet di A. Yani : Pemuda Dayak?

>> Thursday, March 15, 2012

Langit senja menyepuh awan hingga menjadi keemasan. Sudah pukul 5 lewat 40 menit. Jalan A. Yani macet. Motor, mobil, pick-up, bis, dan truk nyaris tak bergerak. Kemacetan dimulai dari depan hotel Mercure. Beberapa pengendara motor memilih belok ke Jalan Perdana, samping Mega Mall, untuk menghindari kemacetan di depan. Banyak juga yang tetap lurus termasuk saya. Dengan perlahan-lahan menaikkan gas motor dan hati berdegup, saya terus maju. Bertanya-tanya apakah tidak salah memilih rute ini. Beberapa anak usia tanggung sampai berdiri dengan tangan masih memegang stang. Setengah ingin tahu, setengah waspada.

Makin dekat museum, macet makin parah. Kami hampir tak bergerak. Masih belum nampak apa penyebab kemacetan yang ada. Saya hanya melihat seorang pemuda mencopot banner Yamaha dan berjalan. Meski tegang, ada kilatan semangat di antara geraknya. Ternyata ia melintangkan banner yang di terikat pada kayu itu di jalan masuk menuju Jl. Sutoyo. Di sini jalan sudah macet total. Palingan hanya bisa mencuri satu dua meter kedepan, menyelip antara ruang-ruang yang renggang.

Suasana mulai tegang. Berduyun-duyun pemuda muncul. Ada yang berambut panjang dan bermuka sangar. Ada yang merengsek maju ke depan barisan. Mereka berjalan berdua-dua atau bertiga-tiga. Membentuk sebuah barisan panjang. Sebagian besar dari mereka memakai atribut merah. Kain merah yang diikat ke kepala atau lengan. Seorang pemuda menyandang mandau dalam sarungnya. Pemuda yang lain hanya membawa sarung tanpa mandau. Yang lain mengacung-acungkan kayu ke udara. Seorang pria tak berbaju berbadan legam berteriak,”Dayak, dayak.”

Rupanya barisan ini yang menyebabkan kendaraan tak bergerak. Bersumber dari jalan Veteran, mereka mengarah ke jalan Sutoyo. Kemungkinan menuju Rumah Betang, rumah adat Dayak, yang berada di jalan itu. Polisi nampak siaga mengatur lalu lintas dan mengarahkan para pemuda ini.

Suasana di jalan A. Yani walaupun cukup menegangkan tidak segawat cerita orang-orang. Setidaknya tidak seekstrim yang saya bayangkan. Tidak ada pertumpahan darah atau bayangan buruk yang mengikuti sebuah kerusuhan. Saat langit makin mendung dan matahari kian turun, saya sudah melaju pulang. Dari pengeras suara masjid mulai terdengar suara orang mengaji.

Saya menarik napas lega. Lagi-lagi baru tersadar betapa indahnya kedamaian yang tak pernah saya syukuri sampai sore tadi.

Read more...

Orang Sambas Pelit?

>> Friday, September 2, 2011

Saya kaget waktu dengar beberapa orang memberikan stereotipe pelit kepada orang Sambas. Padahal saya kenal beberapa orang Sambas dan tak satu pun yang mewakili stereotipe tersebut. Yang saya tahu orang Sambas itu ramah dan pemurah terutama kepada tamu. Kebetulan sekarang saya sedang menjalin hubungan dengan pria Sambas. Saat ke rumahnya, yang saya dapati adalah perhatian dan kehangatan dari segenap keluarga besar. Setiap pagi saya pasti dijamu dengan kroket hangat dan ditanya mau minum apa. Mamak, begitu ibu pacar saya disapa, kemudian sibuk di dapur mempersiapkan lauk-pauk untuk makan. Setelah itu, saya diajak makan.

“Tambahlah nasi’,” selalu mamak berujar seketika piring saya kosong.

Belum lagi jika ada penganan seperti kerupuk. Tidak pernah saya tidak dipersilahkan untuk makan. Tidak pernah pula mereka menahan-nahan makan cuma karena saya sedang menginap. Pokoknya, apa yang mereka makan, itulah yang saya makan.

Mengingatkan saya pada beberapa teman kampus yang asal wilayah Sambas. Satu teman saya, Hatifah. Dia mahasiswa nge-kos di dekat kampus. Dulu, waktu ada jam kosong, kadang saya mengungsi ke kosnya sampai mata kuliah berikutnya. Dia juga rajin berbagi terutama makanan meskipun kondisinya sendiri terbatas. Sering saya tahu dia cuma makan seadanya, terutama saat uang kiriman belum tiba. Tak jarang sarapan dan makan malam hanyalah mi instan yang dibagi dua. Itu pun jika ada teman lain di kos yang tidak makan, pasti akan dibagi.

Makanya, sekali lagi saya bilang, saya kaget mendengar ada stereotype bahwa orang Sambas itu pelit.

Itulah masalahnya dengan stereotipe. Seperti ramalan zodiak yang kadang kebetulan benar, ia terus dipakai untuk menyamaratakan karakteristik sebuah kelompok. Hal ini sudah berurat berakar dalam pemikiran masyarakat Indonesia. Meski terlihat sepele, ini adalah hal yang berbahaya di negara dengan keberagaman. Stereotype baik menimbulkan kekecewaan ketiap yang terjadi berlawanan. Stereotype buruk membuat orang enggan menjalin silaturahmi dengan suku tertentu karena sudah timbul prasangka atau prejudice.

Mungkin tidak semua orang begitu termakan dengan stereotipe. Terutama orang yang sudah berulangkali memiliki pengalaman bahwa tidak semua orang dalam satu suku itu sama walaupun dibesarkan dengan adat yang berbeda. Saya hanya bisa berharap bagi yang memiliki kejengahan pada stereotipe seperti saya bisa terus menularkannya kepada orang lain.

Read more...

And Who?

>> Monday, June 27, 2011

A shadow was lurking me
At first, I saw none
Though it's never gone
It kept me company

Day by day
This shadow looked more like me
a sense of familiarity
made us one entity

Yet the more we collided
the more fear grows inside

I ran
It followed
Well, after all it was my own shadow

One day, as if tired
This shadow started to vanish
And finally, I am able to breath
Though a strange feeling arises
That I am becoming more like it

Pontianak, 27 Juni 2011

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP