Note in Learning : My First Step

>> Wednesday, March 26, 2008

I want to start writing English but I’m too shy because my English is not good enough. Fortunately, soon I realized, to write is a way to improve my English. So then, I try to choose a theme.


Although I have tried so hard, I, however, still confuse to choose a theme. So I decide to write simple article about my procces in learning English.

Of course you, the readers, will see some mistakes (a lot, I’m sure).


Therefore, I need corrections for my next article. I believe that by facing mistakes bravely, I will find the truth, and overall I will always remember those mistakes.
Hopefully, in the future, my writing will be better.

Read more...

Sekelumit Kisah Pembelajaran

>> Monday, March 17, 2008

8 November 2007,

Saya mulai bekerja sebagai wartawan magang di Borneo Tribune, harian yang menurut saya sangat sesuai dengan idealisme saya. Suatu kebanggaan & pencapaian. Saya bangga karena ini adalah sebuah kemajuan. Dengan pengalaman yang saya dapatkan, saya dapat melebarkan sayap & wawasan saya terbuka. Bahwa dunia tak sekecil ruang yang saya sebut ingatan & menghadiahkan saya portal ke dunia luar.

Anyway, tentang idealisme, saya ingin bercerita sedikit. Tanpa bermaksud muluk-muluk, saya memang memiliki ketetapan hati mengenai hal ini. Saya sudah berniat belajar dari media yang mengusung kejujuran dan demokrasi serta komersil dalam batas kewajaran. Mengapa demikian? Sebab setiap yang saya pelajari hari ini, itulah yang mendasari pikiran saya ke depan, visi & misi saya.

Ibarat menumpang, saya harus sangat hati-hati. Tujuan harus sama agar tidak tersesat dan berhenti di tengah jalan.Akhirnya, saya merasakan bahwa menulis adalah upaya pembunuhan waktu yang paling jitu. Semoga membaca tulisan ini juga membuat Anda tetap produktif.

Read more...

Sepatah Dua Patah Kata Untuk Sang Guru

Belakangan ini rasanya ada yang kurang. Saya baca blog kok ada yang mengganjal. Rasanya ada yang luapa saya lakukan atau saya lupa nyatakan dalam blog ini.

Hmmm.

Hmmm.

Oooh iya, saya lupa menyatakan saya sudah selesai alias lulus magang di Borneo Tribune. Walaupun saya tak berkesempatan menjadi wartawan (hiks..hiks) karena saya masih mahasiswa semester 2 FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Untan, Pontianak, saya tetap berbangga hati. Bayangkan bekerja di tengah orang-orang yang sungguh dahsyat seperti Bang Mering, Mbak Fitri, Bang Akim, Bang Muhlis, Bang Tanto, dan tentu wartawan lain yang sulit didiktekan satu persatu. Senangnya.... Dan tentu saja atas arahan langsung dari Pak Nur Is. Saya harus banyak bersyukur sepertinya.

Ada yang lupa saya dokumentasikan pada penutupan program Borneo Institute waktu itu.

Saya dan teman-teman berkesempatan bertemu seorang murid langsung dari Bill Kovach (maaf bila salah menuliskan nama), Bang Andreas yang tidak suka dipanggil Bang. Sayang sekali waktunya terlalu singkat. Mudah-mudahan saya diberi kempatan lagi belajar jurnalistik.

Ada satu hal yang paling saya ingat dari acara itu. Saya ditegur Andreas karena berkata dimulai dengan "Eng..Eng..".

"Jangan berbicara dengan embel-embel ehmm..karena itu menandakan kita ragu-ragu", ujarnya.

Hingga sekarang bila saya mulai menggunakan kata-kata hantu itu (kebiasaan buruk memang sulit diubah), saya langsung insyaf dan berhenti berbicara sejenak.

Terakhir saya ingin sekali berterimakasih pada Borneo Tribune yang telah memberi kesempatan pada saya belajar dan berkenalan dengan para wartawan. Semoga satu saat nanti saya bisa menjadi manfaat bagi Borneo Tribune dan Borneo.

Read more...

Mengapa Huesca?

>> Sunday, March 2, 2008



Banyak sekali yang complain belakangan ini dengan kata-kata yang sering saya gunakan untuk e-mail dan alamat blog. Mereka bilang nama yang saya gunakan sangat susah untuk diingat. Beberapa bertanya,"Apa sih artinya?"

Kata yang jadi sasaran protes-protes itu adalah huesca atau saya juga sering menuliskannya, Huesc4. Apa sebenarnya alasan saya hobi untuk menggunakan kata-kata aneh ini?

Sebelumnya saya ingin memperkenalkan makna Huesca terlebih dahulu. Sesuai yang dilansir oleh http://www.wikipedia.com/, Huesca (dibaca:Uesca, dalam bahasa Aragon;Osca dalam bahasa Katalan) ialah sebuah kota di Aragon, Spanyol timur laut. Huesca sekaligus ibukota provinsi dengan nama yang sama. Gambar di atas adalah gambar sebuah taman di kota Huesca. Huesca sendiri juga menjadi tujuan wisata karena merupakan sebuah kota yang unik dan indah.

Pertama kali saya bertemu dengan kata itu adalah dari sebuah buku puisi. Penulis kemudian mengutip bagian terakhir puisi Huesca, terjemahann Chairil Anwar. Entah sedang demam Chairil Anwar atau demam nama pena, saya mencomot kata itu.
Sederhana saja alasannya. Pertama, karena unik dan saya sendiri juga tak mengetahui kata itu sebelumnya. Kedua, karena ketika saya buat nama e-mail dengan kata Huesca, tidak ada embel-embel nama itu sudah terpakai oleh pelanggan Yahoo lain.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan yang kuat dalam pemilihan nama ini. Namun, berhubung sudah menjadi Trademark, maka saya teguhkan hati untuk tetap menggunakan nama ini.

Read more...

DILEMA KEPENTINGAN : DOSEN DAN MAHASISWA

>> Wednesday, February 27, 2008

Alhamdulillah, akhirnya nilai semester keluar juga. Setelah lama menunggu dengan perasaan ketar-ketir, akhirnya beberapa dosen berbaik hati untuk segera mengisi daftar database nilai di layanan akademik. Mahasiswa angkatan 2007 tentu saja tak sabar untuk segera melihat dan mengevaluasi sistem belajar yang telah dijalaninya selama 1 semester. Baik dari diri sendiri maupun proses belajar yang ada di kampus. Mereka juga ingin menyusun rencana kuliah untuk semester depan.

Sebenarnya para mahasiswa agak kecewa. Apalagi mereka yang berkeinginan untuk mengajukan beasiswa di fakultas masing-masing. Tentu saja hal itu terhambat apabila nilai lambat keluarnya. Bukan bermaksud egois, tapi para mahasiswa juga mengharapkan kepedulian dari para pengajar yang terhormat agar para mahasiswa ini lebih mudah dalam proses perkuliahan selanjutnya.

Mahasiswa 2007 sendiri memang masih hijau. Masih merasa asing dengan sistem akademik dan sebagainya di lingkungan kampus. Masih semangat pada hal-hal baru seperti itu. Sayangnya, agak pupus harapannya karena kendala-kendala yang klise seperti keterlambatan nilai dan seringnya tidak masuknya dosen pada saat kuliah.

Masalah-masalah tersebut memang dapat dikatakan dilematis. Ketika dipandang dari aspek para mahasiswa, mereka mengharapkan dosen untuk mengajar dan mendidik, bukan sekadar masuk 15 menit dan menandatangani DHK. Dosen yang sering absen, sejujurnya, membuat semangat para mahasiswa turun dan menimbulkan keengganan untuk kuliah. Satu pikiran yang terlintas adalah,”Palingan nggak masuk lagi dosennya, percuma aja datang”.

Para dosen juga tidak mau disalahkan sepenuhnya. Mereka beralasan bahwa dengan menjadi dosen, mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga di zaman yang serba mahal ini. Gaji dosen yang berkisar antara 1-2,5 juta dengan berbagai potongan hanya cukup untuk paling lama seminggu. Tentu saja keadaan ini memaksa mereka untuk mencari pendapatan alternatif di sela-sela kesibukannya mengajar. Bahkan kadangkala di menyita waktu mengajar. Tentu saja apabila pendapatan alternatif dirasa lebih besar, mereka memilih pendapatan alternatif itu.

Tapi tentu saja masih ada dosen-dosen yang profesional. Beliau-beliau itu yang memiliki etos kerja dan tanggung jawab tinggi. Semoga saja para wisudawan, para pengajar di masa yang akan datang, dapat menjadi dosen yang lebih baik. Dengan demikian masalah-masalah seperti ini tidak akan terulang kembali.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP