Pemilunya Siapa?

>> Tuesday, March 31, 2009

Black In News,


Aduh-aduh bisa gila
Punya pacar berhati dua
Aku ini punya siapa
Ku putuskan saja tali cintanya

Mau marah percuma
Paling hanya mengulang juga
Daripada naik darah
Ku putuskan saja tali cinta


(Yuni Shara, Aku Ini Punya Siapa)


“Penurunan angka golput pada Pemilu mendatang terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adanya ketidakpahaman (ketidaksepahaman) administrasi. Karena ternyata, masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang tata cara mencoblos atau memberikan suara. Bahkan masih banyak yang belum tahu kapan sebenarnya Pemilu Legislatif atau Pileg akan dilaksanakan.”

(Indobarometer)

Masyarakat

“Buat apa memilih caleg kalau akan menjadi jelek, apalagi kenal nggak. Ibarat kucing tikus lapar dalam karung, belum apa-apa udah mau menggigit”
(bmbg—member forum.detik.com)

“Nggak tahu siapa yang harus dipilih.”
(Umum)

“Kalau saya memilih di Pemilu nanti *kalau* saya sih ga akan memilih mereka mereka yang masang foto dimana-mana dan bikin jelek kota…Masih lebih menghargai mereka yang masuk ke TV dan menyatakan visi misinya dengan jelas…”
(http://natazya.wordpress.com/2009/03/15/caleg-gilagolput-haram)

“Kalau nanti pilihan saya terpilih, lalu korupsi, saya kan ikut dosa. Bagusan nggak milih”.
(Umum)

“Pinginnya golput saja, tapi kok nggak fair ya. Ntar kalau ada ganjelan dan mau protes (demo) jadi nggak punya hak (secara moral), kan golput itu pada dasarnya melepaskan hak pilih - jadi lepas pula hak hak politik yg lain. Kalau mau jujur harusnya seperti itu.”
(Mila Kania Dewi—Opini pembaca di news.okezone.com)

“Bila dari pihak penyelenggara pemilu sendiri tidak menyaring dengan benar para bakal calon wakil rakyat yang akan duduk dan mewakili serta menjadi panutan bagi rakyat bagaimana penyelenggaraan pemilu akan sukses dan mewakili seluruh suara dan inspirasi rakyat.”
(Wiwid, Surat pembaca di detik.com)

“Horeeeeeeeee. peste domokrasi se indonesia tinggal 17 hari lagi.”
(Gus Tiar, Facebook)

Calon Legislatif dan Partai Politik

“Fanshurullah Asa mengundang semua kawans FB tuk menghadiri acara launching buku saya di aula Politeknik Negeri pontianak (Polnep), hari ini Senin (30/3) pukul : 19.30-selesai. setiap yang datang akan mendapatkan 1 buah buku. bagi yg belum mendapatkan undangan, pemberitahuan ini sebagai undangan resmi. salam.. “
(Fanshurullah Asa, caleg PAN Daerah Pemilihan Kalimantan Barat)

“PDI Perjuangan-Official Website, Website ini sedang mengalami perbaikan. Kunjungi kami beberapa saat lagi.”

“PARTAI GERINDRA-SITUS RESMI PARTAI GERINDRA-REPUBLIK INDONESIA. This site is temporarily unavailable. Please notify the System Administrator”

“Apabila tahun 2009 ini pendidikan masih bayar, maka seluruh wakil rakyat PKS yang ada di DPRD Kota, Kabupaten, Provinsi dan Pusat akan menelusuri hal tersebut guna mencari siapa yang "bermain-main" atau telah mengkorupsi biaya pendidikan".

(Jazuli, Caleg DPR RI dari PKS)

“Partai Golkar akan berupaya merangkul pemilih yang diprediksi tidak akan menggunakan hak suaranya atau "golput" (golongan putih) pada pemilu tahun ini. Jangan 'berburu' di lokasi yang sudah banyak pemburunya, tetapi mari kita cari lokasi lain yang masih banyak target 'buruan' seperti mereka yang berniat golput."

(Aburizal Bakrie, Anggota Dewan Penasihat DPP Partai Golkar)

Komisi Pemilihan Umum

“Persiapan 99 persen sudah selesai. Insya Allah tidak akan ada perubahan jadwal, waktu pemilihan legislatif tetap dilaksanakan hari Kamis tanggal 9 April 2009.”
(Abdul Hafiz Anshary, Ketua Komisi Pemilihan Umum)

“Logistik pemilu ternyata banyak yg harus dipikul karena jalan rusak dan truk tak bisa lewat ....luar biasa mereka para pendistribusi logistik di lapangan....benar2 pahlawan pemilu!”

(A.r. Muzammil, Ketua KPU Kalimantan Barat)

"Kalau menurut saya, dibandingkan Pemilu 2004, sistem TI KPU di pemilu 2009 ini mengalami kemunduran. Kalau bisa sama saja sudah bagus,"

(Dr. Bambang Edi Leksono, Ketua Teknologi Informasi KPU)



“My country, right or wrong, if right to be kept right, if wrong to be put right.”

(Stephen Decatur)


*foto: KPU Kalbar

Read more...

"The Secret": Buku Manual Kehidupan

>> Friday, March 27, 2009

Black In News,


“Manusia adalah bagian dari Tuhan”—The Secret


Manusia selalu cemas. Mulai dari bangun tidur, mereka merubah semua aspek kehidupan menjadi beban. Entah itu masalah uang, karir, percintaan, persahabatan, sampai kesehatan. Akibatnya, jumlah penderita stres bertambah dalam hitungan detik. Di Jakarta saja, menurut Kompas, pada tahun 2007, 1,4 juta orang stres. Pasien sakit jiwa di Jakarta juga terus bertambah. RSJ Soeharto Heerjan pada tahun yang sama tengah menangani 1.000 pasien. Belum lagi RSJ lain di seluruh Indonesia.

Di mana masalahnya dan bagaimana cara penanggulangan yang terbaik?

“The Secret” berusaha mengajukan jawaban.

Kata Secret atau rahasia mengacu pada Ilmu ketertarikan atau Law of Attraction. Para ahli filosofi, fisika kuantum, psikolog, dan beberapa penulis yang menganut teori ini percaya bahwa alam semesta berpengaruh besar dalam hidup manusia. Bahwa manusia adalah bagian dari seluruh alam semesta. Tubuh hanya medium yang selama ini menipu pemikiran manusia sehingga merasa terpisah dari alam. Karena pada dasarnya alam dan manusia adalah satu hal yang sama, energi.

Dengan demikian, manusia dan alam disimpulkan memiliki ketertarikan. Ketika manusia menginginkan, memikirkan, dan mempercayai sesuatu, alam menjadi katalog. Dengan caranya sendiri alam akan membawa manusia itu sampai pada apa yang dia inginkan.

Proses konkretnya seperti dalam kisah Jack Canfield. Ia hanyalah penulis kecil saat ia mulai memimpikan berpenghasilan 100.000 dolar. Angan-angan ini ia pilih sebagai ukuran dari saran seorang teman, W. Clement Stone. Stone berpendapat, angan-angan apapun yang ada dalam pikiran seseorang, dapat dicapai. “Whatever the mind of man can conceive, it can achieve”. Artinya, ketika Jack menginginkan sesuatu, ia pasti bisa meraihnya.

Jumlah 100 ribu dolar adalah keinginan yang nyaris mustahil. Penghasilan Jack saat itu hanya 8 ribu dolar setahun. Dia tak memiliki rencana bahkan sama sekali tak ada bayangan bagaimana cara mewujudkan keinginan tersebut. Namun dengan nekat, ia menulisi selembar pecahan satu dolar dengan menambahkan 5 nol di belakang angka satu. Lembaran itu kemudian ia tempel di langit-langit. Dengan begitu, saat bangun, ia akan kembali mengingat angan-angannya. Tak cukup sampai di situ, ia juga membayangkan seolah-olah telah mendapatkannya. Apa yang terjadi setelah empat minggu berlalu?

Tak ada!

Tapi beberapa minggu setelah itu, Eureka! Saat mandi, ia tiba-tiba menemukan ide yang brilian. Dia belakangan ini telah menyelesaikan sebuah buku. Dia mulai berpikir untuk menerbitkannya. Jika ia berhasil menjual 400.000 kopi dari buku itu dengan harga masing-masing 25 sen, maka impiannya akan terwujud. Lalu ia pergi ke sebuah supermarket dan melihat National Enquirer, sebuah majalah terkenal dan memiliki banyak pembaca.

Ia mulai berpikir seandainya majalah itu dapat mempublikasikan bagi bukunya. Jalan mulai terbuka. Tapi ia tak dapat serta-merta meminta majalah tersebut mewawancarainya. Hingga suatu hari, setelah memberi kuliah di suatu universitas, ia didatangi seorang wanita muda. Jack tak tahu apakah ini kebetulan atau bukan. Wanita itu ingin mewawancarainya. Ia adalah penulis lepas untuk berbagai media, salah satunya National Enquirer.

Jack berhasil menerbitkan bukunya dan tahun itu ia berhasil mengumpulkan 92.327 dolar. Nampaknya sang pemimpi tak berhasil mencapai cita-citanya. Tepatnya belum.

Jack diajak istrinya berangan-angan untuk jumlah yang lebih besar. 1 juta dolar. Beberapa waktu berlalu, Jack akhirnya menerima sebuah cek bernilai 1 juta dolar dengan gambar senyum. Pengirimnya adalah penerbit yang memberikan royalti untuk buku Jack, “Chicken Soup for The Soul”. Buku ini termasuk jajaran buku terlaris di seluruh dunia. Tapi gambar senyum tersebut bukan karena keberhasilan buku itu di pasaran. Tapi karena baru pada Jack, penerbit tersebut menulis cek sebesar 1 juta dolar.

Ini hanya satu contoh dari aspek kehidupan yang dibahas dalam The Secret. Masih banyak lagi solusi permasalahan yang dikupas. Apapun itu, semua bersumber dari keyakinan dan kekuatan berpikir positif.

Read more...

Small is Beautiful

>> Thursday, March 26, 2009

Black In News,

Kualitas tak bisa diukur dari segi jumlah. Dalam beberapa hal tertentu, semakin sedikit jumlahnya, semakin intensif peningkatan kualitasnya. Sebagai contoh nyata adalah English Study Club (ESC).

ESC masih seumur jagung. Klub Bahasa Inggris SMA Negeri 4 Pontianak ini didirikan akhir tahun 2008. Perintisnya adalah seorang alumni, Arfandi, S.Pd. Latihan diadakan sekali seminggu yaitu pada hari Sabtu. setiap kali pertemuan, anggota yang aktif hadir berkisar antara 5-9 orang. Antara lain Yovita, Anggi, Ruth, dan Lelly.

Kekurangan pengalaman dan latihan, wajar saja anggota ESC mengalami kesulitan menyamai kemampuan siswa dari sekolah negeri lainnya. Hal ini terlihat ketika ESC ikut berkompetisi dalam lomba seperti Speech, Debate, dan lain-lain.

Namun, bagi yang berkecimpung dalam ESC, terutama saya sebagai pelatih, para anggota telah mengalami kemajuan yang signifikan.

Saya ingat dua bulan lalu, saat saya pertama melatih, saya meminta tiap siswa membuat pidato singkat. Waktu yang diberikan dua minggu. Pada hari yang ditentukan, mereka saya minta maju dan menyampaikan pidato di depan kelas. Hasilnya kurang baik. Faktor penyebabnya antara lain mereka tidak menyiapkan diri dengan baik dan mungkin karena tidak memiliki motivasi yang jelas.

Hari ini, 26 Maret 2009, 5 anggota ESC dihadapkan pada peristiwa yang sama. Mereka mengikuti perlombaan yang diadakan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak. Lomba pidato bahasa Inggris ini diadakan dalam rangkaian festival bahasa.

Para anggota ESC mengadakan latihan sebanyak 5 kali. Dua diantaranya internsif. Berbagai metode saya gunakan. Mulai dari membaca hingga maju satu per satu dengan teks kemudian tanpa teks. Sepanjang latihan, mereka menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Mulai dari pengucapan sampai body languagenya.

Ruth. Kelemahannya adalah kebiasaan memandang ke atas agar tidak kehilangan hafalan. Hari ini dia bisa melihat ke seluruh penonton untuk mempraktikkan teori eye contact, di mana seorang pembicara harus berkomunikasi dengan penonton melalui pandangan.

Anggi. Sejak awal, saya lihat ia memiliki bakat. ia juga tekun dan berkemaun keras juga bertanggung jawab. Kekurangannya saat pidato terletak pada intonasi yang monoton dan kurang menggali topik yang dipilih. Tapi di STAIN tadi, ia adalah peserta dari SMA 4 yang paling baik intonasinya.

Yovita. Ia cenderung pemalu dan terlalu cemas. Bahkan dari awal ia sudah cemas tidak akan mampu mengikuti lomba ini. Memang dia agak lupa pada saat menyampaikan pidatonya tentang pengobatan tradisional, tapi saya tahu semua hanya karena gugup. Karena saat latihan ia sangat lancar dan meyakinkan.

Saya tidak begitu mengenal dua anggota lain, Aristia dan Rifda. Mereka hampir tidak pernah latihan. Tapi saya melihat bakat yang besar dalam diri mereka. Sayang jika tidak digali dan dikembangkan melalui latihan.

Yang jelas, Anggi, Ruth, dan Yovita punya kesimpulan yang sama. Mereka ingin terus latihan dan ingin ikut dalam perlombaan serupa.

Ini membuat saya bangga. Bahkan ketika mereka bukanlah unggulan pada lomba tersebut, masih tertinggal semangat yang luar biasa. Saya semakin yakin, biarpun anggota ESC sedikit, totalitas dan efektivitas latihan tidak terpengaruh.

Read more...

Menang? Kalah?

>> Wednesday, March 25, 2009

Black In News,


Debat Bahasa Inggris I dan Bahasa Inggris 2 kurang terarah. Sementara Bahasa Inggris 1 sebagai tim negative melontarkan berbagai opini dan data, Bahasa Inggris 2 tidak merespon dengan baik.

Affirmative kira-kira berkata begini,“…One of the technology is internet. We know…internet…pornography”.

Negative menjawab,”Internet is only one kind of technology….Pornography is not technology, so it does not prove that technology is more foe then friend.”

“22 percent teenage see porn sites in the internet…”

“So, how about the 78 percent? They must be reading something.”

Itu kira-kira argumen yang terlontar selama debat. Masih ada beberapa argumen lain yang seolah tidak ditangkap tim positif.

Tim negative juga melakukan beberapa kesalahan. Misalnya saya sebagai pembicara kedua mengatakan,”Technology can cure Global Warming.”

Pernyataan ini dibantah tim affirmative,”Global Warming can not be cured.”

Kesalahan saya langsung dikoreksi Tetty sebagai pembicara ketiga.

Suasana persaingan terasa. Benar juga pendapat Faris, intrik memang membuat debat lebih bersemangat. Beberapa kali pembicara dari dua belah pihak nampak emosi. tapi hanya sebatas itu.

Syukurlah, debat berlangsung lancar.

Juri akhirnya memutuskan kami sebagai pemenang dan Faris sebagai pembicara terbaik.

***

Kami berhadapan dengan tim Bahasa Inggris 5. Mereka adalah lawan terkuat dari penyisihan. Untung kami tidak bertemu dari awal. Bisa-bisa kami tereliminasi.

Tak ada istirahat. Bahasa Inggris 1 harus berhadapan langsung setelah pengumuman masuk ke final. Mosi yang terundi pun aneh. Tak jauh beda dengan mosi sebelumnya. Cuma mosi ini lebih spesifik,”Internet does more harm than good”. Kami menjadi tim afirmatif pula.

“Wah, nggak bisa gini dong. Masa aku meng-counter argumenku sendiri tadi. Tukar ya,” kata Faris.

Kami setuju dengan Faris. Masalahnya, opini dan data untuk modern technology dan interent beda-beda tipis. Malah argument dan bantahan kami di pertandingan sebelumnya tinggal dicomot tim negative.

Panitia bingung melihat reaksi Faris. Mereka awalnya setuju untuk menukar.

Tiba-tiba Dini, seorang panitia, berseru,”Nggak! Nggak usah tukar! Nggak pa-pa sama, kan biar mudah, udah ada bahannya.”

Kami kesal sekali. Bagaimana tidak! Untuk final, mosi ini sangat tidak layak karena mirip dengan mosi lain dan tidak up to date. Padahal masih ada mosi yang lebih baik dan berbobot, misalnya Indonesian should not be involved in Palestinian war.

Tapi keputusan panitia adalah harga mati. Dengan sedikit kesal, kami menjalankan prosesi case building. Tapi segera kami sadar, kami harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Di tengah diskusi kami, saya teringat, banyak argumentasi lain yang bisa dipakai. Dan akan sangat membantu kami.

***

“internet cause many critical problem in our country.”

“Pornography site on internet reach the number of billion. 75 million times the word ‘sex’ is being type in a day. The numbers of free sex are rising since 1995, the approximate time when the internet came to Indonesia.”

“Game Online cause many students being absent.”

“Invalid information are easily believed by Indonesian reader because of the level of education. This condition is written by Bill Kovach, a professional in journalism, as tsunami information.”

“Piracy in internet breaks the law. It cause loss to the producer.”

Itu argumen yang kami kemukakan. Data yang lebih konkrit kami sampaikan dengan jelas. Mungkin kami kalah dalam bidang kelancaran berbahasa. Dalam hal argument, kami sebenarnya sangat yakin.

Dugaan kami benar. Argument yang kami ucapkan di pertandingan sebelumnya digunakan tim negative sebagai bantahan. Hanya saja, bisa kami minimalisir sebab kami memiliki berbagai ide dan data baru.

Namun juri berkata lain. Meski mereka mengatakan kami mengalami banyak peningkatan, saat penutupan, diumumkan Bahasa Inggris 1 sebagai juara dua. Berarti Bahasa Inggris 5 adalah juara satunya. Kami menerima dengan lapang dada. kekalahan membuat kami semakin terpacu.

Meski kalah, kami masih semangat. Kami masih berjuang di tingkat universitas. juara satu dan dua memang mewakili fakultas ke universitas.

Kami malah tampak lebih antusias. Karena kami sudah mengalami perkembangan yang baik. Tak lupa, kami mengabadikan momen kemenangan ini.

Benar-benar kekalahan yang manis.

Saya ingat ucapan Faris di babak final tadi,”Eventhough we lose, we already made it hard.”
Ya! Setidaknya usaha kami membuat orang harus bekerja keras untuk mengalahkan kami.

Read more...

Sesaat Sebelum Semifinal

>> Tuesday, March 24, 2009

Black In News,

Debat. Walau dalam kegiatan ini tiap tim berusaha mengalahkan tim lain, bukan berarti tak ada etika yang berlaku.

Poin utama dalam debat bukan menjatuhkan lawan secara personal, tapi argumentasi. Ini yang sering disalahartikan dalam praktiknya. Pemula yang kelewat senang karena bisa unggul dari lawan tanpa persiapan, bisa saja jumawa. Mereka menganggap keberuntungan itu sebagai kemampuan terpendam. Alhasil, mereka berlaku tak sopan pada tim lain. Mulai dari menertawakan, menghina, sampai mengecilkan.

Tak melulu oleh pemula. Tak jarang peserta yang telah lama berkecimpung di dunia debat, juga berbuat serupa. Motifnya lebih sering sebagai akibat perasaan superior daripada yang lain.

Apapun alasannya, meremehkan itu tidak etis. Kadang bisa jadi bumerang bagi diri sendiri.

***

“Modern technology is more foe than friend”. Itulah mosi yang kami dapat. Kali ini kami, Bahasa Inggris 1, sebagai tim negative. Bahasa Inggris 2 menjadi tim affirmative. Mereka sangat senang tampaknya.

“Berarti mereka siap,” kata Faris.

Kami pun tak kalah gembira. Mosi ini agak unik sebenarnya. Kami punya berbagai data untuk ini. Namun harus ada argumen yang benar-benar kuat untuk bisa menyanggah lawan dengan baik. Kami siapkan itu selama cast building. Lepas 30 menit, kami sudah siap dan berapi-api.

Salah satu sebabnya Bahasa Inggris 2 dan Bahasa Inggris 1 dengan alasan tertentu memiliki intrik.

Semua berawal dari penyisihan saat Bahasa Inggris 1 melawan PGSD. Dengan persiapan seadanya, Bahasa Inggris 1 memang tak maksimal. Namun bukan alasan bagi peserta lain yang saat itu berstatus sebagai penonton, untuk mengomentari apalagi cenderung menghina.

Hari itu, saya lihat Tetty sebagai pembicara kedua agak turun performanya. Saya heran. Rupanya, dia terganggu dengan pandangan tim Bahasa Inggris 2 yang cenderung bereaksi negative saat Tetty keliru melafalkan kata. Reaksi itu berupa tatapan merendahkan, alis mata dinaikkan, tatapan sinis, dan lain-lain.

Saya awalnya mengira itu hanya perasaan Tetty saja. Saya sendiri tidak merasa karena saya terlalu tegang untuk memperhatikan. Tapi saat pertandingan lain setelah kami, gelagat itu mulai terlihat. Terbuktilah ucapan Tetty. Mereka kadang tak segan menertawakan tim dari prodi lain, yang notabene tak sempurna pengucapan Bahasa Inggrisnya.

Mereka masih hijau. Baru semester dua. Mereka pun belum belajar bahwa dalam ragam lisan apalagi debat, meskipun penting, pengucapan bukanlah hal utama. Yang paling penting adalah ide yang dibangun untuk mempertahankan argumen. Bagaimana merangkai kata secara runut dan menarik.

Kami bertanya-tanya, apakah mereka begitu hebat? Kabarnya di angkatan mereka ada seorang mahasiswi yang lahir di Australia dan tinggal di sana hingga SMP. Bisa jadi salah satu anggota tim itu adalah mahasiswi yang dimaksud.

Entahlah. Saya tak begitu yakin. Tapi saya dan teman-teman satu tim akhirnya bersemangat ingin melihat penampilannya.

***

Semifinal Bahasa Inggris 2 dan Fisika 3 adalah saat yang kami tunggu-tunggu. Siapapun yang menang akan menjadi tiket kami ke final. Mengalahkan tim itu membuka peluang memperebutkan juara 1 dan 2.

Kesempatan ini juga kami manfaatkan melihat penampilan Bahasa Inggris 2. Dari awal mereka sangat percaya diri. Penampilan mereka cukup baik. Peraturan dan dasar perdebatan pun telah mereka kuasai. Itu tampaknya menjadi alasan kemenangan Bahasa Inggris 2 atas Fisika 3.

Namun selama debat, mereka kurang mampu membangun argumen. Kesalahan pengucapan juga terjadi.

Kami berharap melihat penampilan lebih baik dari pembicara ketiga. Sebab dialah mahasiswi asal Australia itu.

Sayang, pembicara ketiga ini malah melakukan kesalahan fatal. Setelah maju ke podium, ia terdiam selama 30 detik. Bukannya berpikir, ia malah memandang kedua teman lainnya yang sibuk membantu. Bahkan saking semangatnya sambil menunjuk-nunjuk. Semua tindakan itu diperhatikan sangat jelas oleh kedua juri.

Itu kesalahan konyol. Ketika di atas podium, tiap pembicara adalah pejuang tunggal.

Melihat ini Bahasa Inggris 1 mau tak mau tertawa. Rupanya kami sama-sama masih amatiran (kecuali Faris). Lalu, apa yang menjadikan dia begitu yakin menertawakan dan mencari detail kesalahan orang lain? Kami tertawa semakin geli. Tapi nyaris tak bersuara.

Meski kami tertawa diam-diam, mereka tampaknya melihat. Selesai penjurian, mereka duduk kembali. Saya dan Tetty pergi ke toilet.

“Yau, dengar ndak tadi’?”

“Ndak, kenapa?”

“Mereka marah tuh liat kita ketawa. Pas mau duduk mereka bilang, ‘Ape sih kakak itu tu’?”

“Ah biar aja lah.”

Aku tertawa lagi. Sadar juga mereka bagaimana kesalnya ditertawakan dan dianggap remeh.

Cerita ini aku sampaikan ke Faris. Ia tersenyum.

“Biarlah. Intrik itu perlu dalam debat untuk meningkatkan adrenalin. Biar seru!”



Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP