Aku Bukan Rendra

>> Thursday, May 6, 2010

aku bukan Rendra
kalau aku mati
tak akan ada 1.200 orang mengantar jenazahku

tak ada puluhan karangan bunga
dunia akan berputar seperti biasa

maka aku tak boleh cepat mati
aku selalu melihat diriku sebagai narasi
memacu harapan terus abadi
maka aku tak boleh gantung diri

rendra tidak pernah mati
ia meninggalkan puisi*

maka aku terus menghitung berapa kali
aku menulis puisi


Pontianak, 28 Agustus 2009

*sebuah tulisan di karangan bunga untuk rendra dari komunitas sastra

Read more...

Mohon Dukungannya di Djarum Black Blog Competition Vol. 2

>> Saturday, February 13, 2010

Djarum Black Blog Competition adalah lomba blog yang menuntut peserta menjadi kreatif, ekspresif, dan peduli dengan sekitarnya. Dari pengalaman tahun lalu, cara penulisan bukan kriteria utama. Blog yang unggul terletak pada kecerdasannya memilih ide. Poin tambahan juga sepertinya diberikan pada desain yang kreatif dan catchy. Berbeda dengan tahun lalu, ada kategori juara favorit yang ditentukan dengan vote.

Dibanding tahun lalu, kompetisi kali ini menjanjikan hadiah yang lebih menarik. Juara 1 mendapatkan netbook DELL, Juara 2 mendapatkan Blackberry Javelin, Juara 3 mendapatkan Blackberry Gemini, Juara favorit mendapatkan iPOD Touch 8 GB, dan 7 blog terpilih lainnya mendapatkan voucher 500 ribu rupiah.


Hingga saat ini, peserta yang terdaftar sudah berjumlah sekitar 500 blog.


Salah satunya saya. Tahun lalu saya belum berkesempatan menang. Tapi saya yakin, tahun ini saya bisa berusaha lebih keras. Mudah-mudahan bisa menjadi satu di antara 10 blog terbaik. Mohon dukungannya untuk vote Yauma Yulida Hasanah dan kunjungan di blog Black Generation. Ada banyak info menarik yang layak dibaca.


Semoga lomba ini membuka kesempatan para blogger menjadi lebih bersahabat dan bersaing secara sehat.


Go Blogging!



Read more...

Di Balik Jendela

>> Wednesday, December 30, 2009

Tanggal 31 Desember. Seorang anak manusia di tengah tumpukan pekerjaannya berpaling ke jendela. Ia berhenti menuliskan laporan akhir tahun, memberikan sedikit celah untuk bertanya pada diri sendiri,”Apa yang telah kulakukan pada hidupku?”

Di luar, mobil ngebut seolah tak ada hari esok. Truk pembawa kembang api mengklakson-klakson seperti jam 12 malam tinggal sedetik lagi. Pengendara motor menggeleng-geleng pada pengemudi sepeda, mungkin bertanya-tanya kenapa di hari sesibuk ini masih ada yang mau pakai sepeda.

Kaca memantulkan ia juga. Garis matanya telah timbul, rambut acak-acakan, dan perut buncit seperti Santa. Ia menghela napas.

“Ini yang kuperbuat pada diriku. Entah apa lagi.”


Pontianak, 31 Desember 2009

Read more...

Apa Kabar Bos?

>> Thursday, September 24, 2009


Apa kabar Bos?
Sudah mati belum?
Orang-orang sudah menunggu tuh
Mereka terus bertanya-tanya
Kapan bulir peluru menancap di dadamu

Hei, Bos.
Beberapa dari mereka malah rindu
Melihat kepalamu digantung di langit-langit
Seperti rusa yang diawetkan

Betapa bangganya kau, Bos
Kematianmu dirayakan
Kau pahlawan bagi yang melawan
Kau musuh bagi humanitarian
Kematianmu dirayakan
Diteriakkan dari ujung jalan
Oleh mereka yang sibuk mencari pahlawan

Bos,
Aku tau kau masih di sana
Dalam hati mereka yang percaya mati itu indah
Dalam jiwa pemuda yang mempertahankan miliknya
Dalam sebuah negara seperti Indonesia

Karena teroris tak pernah mati


Pontianak, 18 September 2009

Read more...

Putu Wijaya: Filosofi Orang Tua

>> Thursday, August 27, 2009

Cas Cis Cus adalah novelet Putu Wijaya. Temanya unik. Sebuah gambaran mengenai posisi orang tua di zaman yang katanya modern ini. Tokoh utamanya adalah keluarga Merdeka. Merdeka adalah pria dari keluarga yang dulunya miskin. Sekarang dia berusaha keras agar keluarganya dapat hidup lebih leluasa secara ekonomi.

Merdeka tinggal di sebuah RT bersama istrinya, Lastri, kedua anak, dan ibunya yang sudah lanjut usia. Keluarga ini jadi geger semenjak ibu Merdeka nyeletuk minta film triple X. Belum lagi sang ibu menbeberkan keinginannya pada para tetangga. Merdeka kebakaran jenggot.

Merdeka curiga. Keinginan tiba-tiba ini tentu ada yang mengapi-api. Sebab belum pernah ibunya macam-macam begini. Prasangka itu jatuh kepada para tetangga. Ia berpikir mereka tentu iri melihat keberhasilannya. Nampaknya, Merdeka tinggal di wilayah yang orang-orangnya kurang bekerja keras. Yah, bisa dibilang kadang kurang kerjaan. Itu sebabnya mereka bisa saja menghasut ibu Merdeka untuk menonton film XXX itu.

Berbagai taktik dan negosiasi Merdeka lancarkan kepada perempuan gaek itu. Niat beliau bergeming malah mengancam minggat ke kampung kalau keinginannya tidak dikabulkan. Akhirnya dengan menahan malu, ia pergi ke penyewaan kaset. Dicomotnya Night of The Virgin. Lalu ia pulang dan mengartikan judulnya kepada ibu yang masih cemberut. Esoknya ibu Merdeka minta pulang lagi.

“Lihat sendiri. Itu kan satu X. Ya nggak? Aku kan minta tiga. Tiga X. XXX begitu… .”

Merdeka kelimpungan. Lastri mati-matian menahan tawa.

Merdeka pun menyusup ke pasar. Dicarinya betul film dengan tanda tiga X. Ia pulang.

Waktu yang ditunggu tiba. Anak-anak sudah tidur. Hampir tengah malam. Merdeka mengecek TV dan video, mengatur agar suara tak terlalu keras. Mereka sebelumnya bahkan minta ibu menonton tanpa suara. Takut tetangga heboh. Ibu nyaris merajuk. Mereka mengalah.

“Aku ingin nonton sendiri,” katanya ketus.

Merdeka dan istri nyaris tak percaya. Tapi mereka masuk kamar juga, tak lupa berpesan tentang yang itu-itu lagi. Rupanya penasaran mereka belum habis. Mereka mencoba berbagai posisi untuk mencuri dan mengintip reaksi ibu. Lastri menyenggol perabotan sehingga berkompyangan. Merdeka ketahuan membuka pintu sedikit. Geram ibu tersulut.
Ia berteriak: “Aku ingin nonton sendirian!”

Nyatanya, film tiga X baru awal kegelisahan Merdeka. Besoknya ibu masih merengut. Permohonannya makin gila.

Mulai dari senam disko sampai kawin lagi.

Putu Wijaya dalam kisah ini, seperti biasa menghadirkan teror dengan kejutan, teknik mencicil informasi, dan kelabilan emosi dalam tiap kalimat. Namun semua diramu matang, cerdik, dan jenaka.

Ia menyorot betapa saat ini lansia selalu tersingkir dari kehidupan. Ketika umur semakin bertambah, mereka semakin ditinggalkan. Dalam suatu keluarga, lansia cuma jadi tanggung jawab. Mereka dianggap cerewet saat berpendapat, dianggap macam-macam jika ada permintaan. Padahal mereka juga manusia yang perlu mendapatkan bagian dan kewajaran.

Putu seperti biasa berfilosofi dengan nilai dalam masyarakat dan mengaduk-aduk perasaan pembaca. Pembaca bisa berdebat dengan nilai-nilai masyarakat. Tidak harus melulu manut karena itu sudah budaya Timur. Bukan tak mungkin, menimbulkan pemahaman akan segala sesuatu yang dianggap tabu atau mungkin kolot di dalam falsafah ketimuran Indonesia.

Tak ketinggalan, persoalan arti pernikahan dalam kehidupan dan kecintaan pada orang tua tergambar dalam kisah ini.

Cas Cis Cus dibukukan bersama tiga novelet lain, Tulalit, Kakilima, dan Ratu dalam buku berjudul Tulalit terbitan Kompas.

Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP