Inspiring Teacher: Memberi Lebih, Lebih Memberi

>> Monday, November 12, 2012

  Berani kotor itu baik. Suamiku adalah bukti hidup dari slogan deterjen ini. 4 hari dalam seminggu dia bermotor bolak-balik melewati jalan yang berdebu saat panas dan berlumpur saat hujan. Bahkan kadang bergerilya saat jalanan banjir. Debu jalanan bisa membuat baju yang baru diganti kotor hingga di bagian kerah. Tas yang semula keren seperti barang usia puluhan tahun. Sebaliknya saat hujan, celana yang awalnya hitam mengkilat penuh lumpur hingga ke betis. Kadang sepercik dua percik nyasar ke baju, tas, dan segalanya. Sepatu? 

"Oleh-oleh dari sekolah"

"SMA tempat suamiku mengajar"
  Suamiku adalah guru. Dia bertugas di SMA Negeri 1 Galing. Galing adalah salah satu Kecamatan di Sambas, Kalimantan Barat. Ia satu-satunya guru bahasa Inggris di sekolah itu. Selama tiga tahun ini, kelelahan tidak pernah terasa berkurang. Sudah tidak heran melihat dia pulang, cuci muka, shalat, makan, langsung tidur. Dari pukul tiga sore sampai malam. Kalau kelelahan, sampai jam setengah 7. Kalau sangat kelelahan, sampai jam 10 malam. Lapar belum makan malam pun harus menunggu kelelahan berkurang. Mandi sore, hampir tak pernah.



   
Kadang aku mengeluh melihat efek kelelahannya. Kami pengantin baru. Belum sampai 3 bulan menikah. Tapi di hari kerja, dia terlalu lelah untuk canda tawa. Terlalu lelah untuk bermesra-mesra. Ini bukan pernikahan yang aku bayangkan dulu. Tapi keluhan ini berganti kecemasan. Miris melihat badannya yang makin kurus. Seringkali diguyur hujan, dia mulai bersin-bersin dan badannya panas. Besok harus ketemu jalan rusak lagi, mungkin diguyur hujan lagi.



“Yang, coba kamu minta pindah. Kan capek begini terus. Jalan jelek, motor hancur. Gaji habis buat betulin motor terus.”
“Mau pindah ke mana? Kalau semua guru mau mengajar di kota, siapa yang mengajar di daerah?”
“Tidak perlu di kota. Yang penting lebih dekat. Jalannya lebih bagus. Kenapa mau mengajar di sana terus? Kemarin sudah ada guru yang pindah ‘kan?”

Hening sejenak.

“Mana ada pekerjaan yang tidak capek. Lagipula, kalau saya pindah, siapa yang mau mengajar mereka. Kasihan. Mereka itu anaknya tidak nakal. Kalau ribut, dipandangi saja sudah diam. “
Aku menghela napas.
“Iyalah. Mudah-mudahan jalan cepat dibetulkan.”

Beginilah terus-menerus akhir percakapan kami. Cuma berharap perbaikan jalan yang dijanjikan bupati. Awalnya dijanjikan tahun 2012. Sekarang sudah penghujung tahun. Menunggu lagi. 

"Beginilah jalan sepanjang 41 KM yang harus ditempuh suamiku tiap harinya"

Semangatnya mengajar tak kendor. Dia sering duduk di sampingku, membuat materi presentasi. Mengantongi  Ben-Q adik ke sekolah untuk mengajar dengan presentasi. Dia sendiri tak punya laptop.

“Memangnya ada Infocus di sekolah?”
“Ada. Laptop yang tidak ada.”
“Kenapa perlu pakai presentasi. Biasa sajalah. Siswa Galing juga.”
“Pakai presentasi biar mereka tahu mengajar bisa seperti ini. Mereka tertarik. Mereka bisa belajar.”

Aku diam. Hatiku tersentuh. Kalau aku dengan lokasi kerja yang tidak mengenakkan seperti ini, energiku sudah tercecer di tengah jalan. Mengajar pun seadanya sajalah. Ogah memberat-beratkan diri dengan menenteng laptop sambil terguncang-guncang di jalanan sempit dan penuh petualangan begitu. Suamiku adalah pria yang cuek dan seringkali malas. Tapi rupanya ia punya satu hal yang tak pernah padam. Tanggung jawab pada pilihannya. 

     Kepeduliannya pada siswa tak selesai hanya di dalam kelas. Aku teringat lagi sarapan pagi di depan lembaran koran. Ketika hasil SPMB diumumkan. Dia mengecek huruf-huruf bertulisan kecil itu. Mencari siswa Galing yang lolos di universitas pilihan mereka. Aku melihat sekilas dan yakin tak ada nama mereka.

“Ada!”

      Mukanya bangga. Senyum lebar. Senyum hangat milik dia yang aku ingat. Senyum kebapakan yang membuat aku lekat. Secepat kilat dia SMS rekan guru yang tinggal di Galing untuk memberi tahu siswa yang lolos. Pengumuman kelulusan SNMPTN online juga tidak lantas membuat pengumuman ini mudah diakses siswa-siswa di Galing. Koneksi internet di sana buruk. Siswa paling-paling hanya bisa mengakses Facebook lewat ponsel dengan jaringan kartu GSM mereka. Itu yang mendorong dia juga membuat grup ‘English on Galing’ di Facebook untuk mengatasi sulitnya siswa di Galing memperoleh informasi. Selain SMS, lewat halaman Facebook inilah dia membagi informasi hasil tes SNMPTN. Merasakan kekecewaan siswa yang gagal dan ikut bahagia untuk siswa yang berhasil.

"Inspiring Teacher"
     Kurenungkan dalamnya kepedulian pria pilihanku ini. Ia tak mengayuh sampan untuk bisa tiba di sekolah. Ia tak membuat sekolah yang hampir tutup dibuka kembali. Dia bukan manusia super yang bisa diwawancara di Kick Andy. Tapi ia mau berkorban untuk orang lain. Dia gunakan teknologi yang akrab bagi siswanya untuk memberi manfaat lebih. 

Bagiku, dia inspirasi!







*)Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Gerakan Indonesia Berkibar 2012 


5 comments:

diniehz November 30, 2012 at 7:57 AM  

WOW!

the other sides I never know about bang ewin!

Semoga makin banyak guru2 keren dan inspiratif kayak beliau.. :)

dan semoga tulisan Yauma menang :)

Yauma Yulida H. December 26, 2012 at 11:48 PM  

Baru liat ada comment kak din..

Belum rejeki kak dini. Tapi worth it lah menulis tentang dia..

Ad kepuasan tersendiri..

Post a Comment

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP