Pelajaran IPA dari Bapak

>> Sunday, June 21, 2009

Sebuah Sabtu di Bumi Sebalo. Ratna dan ayahnya mengawali hari itu dengan perasaan kesal.


Menurut rencana, mereka akan berangkat memancing ke Selabih. Tapi entah karena salah siapa, mereka baru bangun sekitar pukul 8. Mereka masih harus menyiapkan umpan, bekal, dan perlengkapan memancing seperti galah, kail ukuran besar, tali pancing, dan tempat ikan.
Padahal jarak ke Selabih cukup jauh. Untuk mencapainya dengan sepeda motor butuh waktu lebih dari 45 menit. Menjadi makin lama karena jalanannya licin akibat lumut.

Selain itu, jika kesiangan, perjalanan jauh ini akan sia-sia.

Sungai di Selabih adalah hulu sungai Sebalo dan Teriak. Tempat ini bisa dibilang surga para pemancing. Di airnya yang dalam dan kecoklatan, terdapat beragam ikan besar. Misalnya ikan Baung besar atau Padum, ikan berwarna hitam dengan mata merah atau biru.

Jenis lainnya adalah ikan Sidat yang unik. Ia sebenarnya ikan laut, namun hidup di habitat air tawar. Ukuran jumbonya membuat orang yang tak kenal ikan ini menjadi panik. Ayah Ratna, misalnya. Pernah suatu kali ia mendapat ikan ini tapi ia langsung memutus kail. Bagaimana tidak? Warna tubuhnya yang seperti ular sangat janggal untuk spesies ikan sungai. slelain itu ayah menemukan sidat yang berwarna merah. Besarnya pun tak tanggung-tanggung, nyaris seukuran paha orang dewasa. Baru setelah ia bertemu dengan warga Selabih, setelah terlebih dahulu ditertawakan, ayah diberi tahu ikan Sidat bisa dikonsumsi.

Namun, ikan-ikan akan meninggalkan kawasan hulu sungai jika sudah terlalu siang. Karena panas akan terserap air dan ikan cenderung tidak menyukainya.

Itu sebabnya ayah tampak makin berang. Meski begitu, dengan atmosfer kekesalan yang masih kental, mereka tetap berangkat ke Selabih.

Ratna sendiri sebenarnya tidak terlalu suka memancing. Ia hanya ingin menemani sang ayah. Terakhir kali ia menolak pergi, ayah sempat jatuh dari jembatan menuju ke Selabih. Panjang jembatan kayu itu kira-kira 10 meter dengan lebar hanya 1,5 meter. Lebih dari 8 meter di bawahnya mengalir sungai Teriak. Di sisi-sisi jembatan nyaris tak ada pegangan kecuali kawat beraneka ukuran di tepinya yang menyatukan badan dan tali penyangga jembatan. Jarak satu kawat ke kawat lain cukup jauh, sekitar selengan.

Dari atas jembatan inilah, motor ayah oleng menjelang maghrib karena ia kelelahan. Sejak kejadian itu, Ratna atau saudaranya yang lain akan menemani ayah memancing, apalagi jika harus menempuh perjalanan jauh.

Bagi Ratna, menikmati suasana alam yang hijau dan sejuk di sepanjang perjalanan ternyata lebih menarik. Ia tetap menikmati perjalanan walau ia dan ayah saling berdiam-diaman. Ia melihat beberapa kampung kecil yang terpisah dalam jarak cukup jauh. Di antaranya terbentang sawah, pohon karet yang berjejer, kuburan, serta tanah kuning dari bukit yang dikeruk saat membuat jalan. Di sepanjang jalan ini juga, setelah penguburan adat misalnya, terlihat sesaji upacara adat Dayak yang bergelantungan.

Ratna mengingat pohon karet dengan keindahan tersendiri. Saat kemarau, hutan karet terlihat cantik dan semarak oleh daun yang merah kekuningan. Kemudian, menjadi meriah saat tengah hari ketika bunyi buah karet pecah nyaris seperti petasan. Seperti tahun baru.

Ratna dan ayah masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga hujan tiba-tiba mengguyur. Jalan tanah licin dan lembek. Motor jadi luar biasa kotor setelah melalui jalanan seperti ini. Perjalanan mereka yang sudah menyusuri tepi sungai semakin berbahaya. Terpeleset sedikit, bisa mendarat di sungai.

***

Karyono, ayah Ratna, adalah pria Jawa Tengah yang dimutasi ke Kalimantan Barat. Tinggi dan berat badannya seimbang dan rambutnya keriting.

“Bapak punya kumis melintang.”

Ratna menambahkan, ciri-ciri yang terakhir ini membuat beliau ditakuti beberapa teman Ratna.
Karyono memang hobi memancing dan bercengkerama dengan alam. Mungkin pekerjaannya sebagai pegawai Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bengkayang yang mempengaruhinya. Hobi ini kemudian dibiasakan kepada keenam anaknya sejak mereka kecil. Termasuk Ratna. Dampaknya terlihat saat mereka dewasa. Seorang abang Ratna kini bergabung dalam organisasi pencinta alam, Mapala. Sedangkan Ratna bergabung di Hijau Bersih (Hiber), organisasi peduli lingkungan. Kedua organisasi tersebut bernaung di bawah Universitas Tanjungpura.

Yang jelas, dalam keseharian, keluarga tersebut biasa ramah pada alam. Sang ibu misalnya, memiliki cara efektif mengajarkan Ratna bersaudara untuk buang sampah pada tempatnya. Alih-alih menceramahi, beliau meletakkan saja tempat sampah di depan mereka saat mereka ingin buang sampah.

“Lama-kelamaan jadi terbiasa.”

Ratna mengingat sambil tersenyum.

Demikianlah, lingkungan membentuk Ratna menjadi seorang pencinta lingkungan. Ia selalu buang sampah pada tempatnya. Jika memungkinkan, ia akan memakai plastik lebih dari sekali untuk menghemat. Kalau plastik yang berminyak, maka akan ia cuci terlebih dahulu. Plastik-plastik bekas itu akan ia simpan rapi sehingga dapat ia gunakan saat perlu.

Ratna juga memiliki bakat di bidang kerajinan tangan. Dengan bakat ini kemudian ia berencana membuat berbagai kerajinan dari sampah. Dengan begitu, ia merasa bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan.

“Ratna tu ndak suka kalau cuma ngomong, tapi maunya langsung berbuat.”

Itulah yang sering ia katakan pada saya, temannya.

Namun, seorang pencinta alam pun suatu waktu harus mengalah pada ketersediaan.

Pada saat pulang kampung kemarin, ia harus melakukan sesuatu yang berat.

Di Bengkayang, kadang-kadang minyak tanah menjadi langka karena pengirimannya yang terhambat. Penggunaan gas pun memang dikurangi di rumah Ratna karena harganya mahal. Gas digunakan hanya untuk memasak dalam waktu singkat. Selebihnya bergantung pada minyak tanah.

Maka hari itu, ia terpaksa menggunakan kayu bakar.

“Memang sih rasanya gimana gitu, karena memang ndak boleh kan pakai kayu. Tapi minyak juga ndak ada.”

Kondisi ini memang hanya sesekali bagi keluarga Ratna. Tapi masih banyak warga Bengkayang baik di kota maupun kampung-kampung sekitar yang masih menggunakan kayu bakar.

“Mereka ada yang tahu, tapi kebanyakan tidak mau tahu.”

Alasan sebenarnya adalah harga kayu bakar memang murah dan mudah didapat dibanding gas maupun minyak tanah.

Tidak hanya Bengkayang, daerah-daerah lain juga lazim mengalami hal tersebut. Di sinilah letak kesulitan untuk mengkampanyekan cinta lingkungan di daerah.

***

Seperti yang di duga, memang tidak ada ikan yang bisa ditemukan di sana. Maka Bapak dan Ratna bergerak ke sebuah sungai lain. Bapak rupanya masih kesal. Ditambah sebuah insiden saat memancing tadi. Ratna memancing agak jauh dari Bapak. Bapak tentu saja khawatir. Tanah yang licin habis hujan dan sungai yang dalam sangat berbahaya bagi anak kelas satu SMP.

Maka mereka kembali berdiam diri sepanjang jalan saat menuju sungai yang lain itu. Selain itu, Bapak juga perlu berkonsentrasi pada jalan kuning becek yang tidak hanya membuat motor kotor tapi juga ban ngeper. Jalan juga berbahaya karena ada jurang menganga di sisi kirinya.

Tiba di jalan menikung, Bapak melihat sebuah pohon tumbang yang menghalangi jalan. Bapak berusaha keras menghindar sambil tetap menjaga keseimbangan motor. Namun, ban tetap selip karena jalan yang licin. Tapi untung Bapak masih bisa menahan motor agar tidak jatuh. Saat ia menoleh, Ratna yang dibonceng sudah nyaris terjatuh dari tempat duduk. Tinggal sebelah kakinya yang menyangkut di badan motor.

Bukannya khawatir, Bapak malah tersenyum.

“Kau ngape?”

Tinggal Ratna yang masih kaget tapi kemudian segera duduk kembali di motor. Mereka kemudian kembali berkendara.

Sungai yang mereka tuju terletak di belakang sebuah sekolah yang memiliki cukup banyak siswa. Saat Ratna sampai, ia melihat murid-murid sedang tidak belajar.

“Gurunya cuma datang hari Senin jak.”

Yang unik, murid-murid tetap datang setiap hari ke sekolah.

Meski waktu telah siang, masih ada ikan di sungai ini. Berbeda dengan sungai sebelumnya, sungai ini teduh dan tidak menyerap panas langsung. Meski begitu, Bapak berjalan cukup cepat ke arah sungai. Ratna mencoba men
jajari langkah Bapak.

Saking takut tertinggal, ia terpeleset di tanah licin berpasir itu. Bajunya yang berwarna cerah menjadi kekuningan.

Melihat ini, kekesalan Bapak kembali tersulut. Mulailah terdengar omelannya yang tambah panjang saat Ratna lambat m
emasang umpan di tiga kail besar. Bapak memang memakai tiga kail ukuran besar untuk satu pancingan karena ikan di sungai itu cukup besar.

Sambil menggerutu Bapak membetulkan tali pancing yang tersangkut di pohon. Tali itu sudah terikat ke galah yang terpancang di tanah. Cuma bagian atas tali rupanya membelit cabang pohon yang menjorok ke sungai. Saat membetulkan belitan, kail dan umpan berayun-ayun sangat dekat di atas permukaan air.


Tiba-tiba sebuah bayangan gelap menyambar mata kail itu. Tarikannya kuat hingga Bapak yang tak siap ikut tercebur ke dalam sungai. Permukaan sungai langsung bergelombang, bak dilewati sebuah motor Bandong.

Ratna kaget campur geli melihat Bapaknya jatuh. Mau membantu tapi ia tak tahu caranya. Tak tahan, ia tertawa sambil melongok ke sungai. Bapak yang tak lama muncul pucat bagai melihat hiu. Ekspresinya antara kaget dan polos.

Melihat Ratna tertawa cekikikan, Bapak cuma bisa berkata,”Kenapa kau ketawa-ketawa?”

Lalu ia ikut tertawa.

Itu adalah satu perjalanan memancing yang hingga saat ini tak dapat dilupakan Ratna.

Terakhir kali ia berkunjung, pemandangan tak lagi sama. Sungai tempat Bapak jatuh sudah dangkal akibat penambangan liar.


* sumber foto: www.jjphoto.dk/.../anguilla_dieffenbachii.jpg

Read more...

Menabung Oksigen

Pontianak adalah kota yang panas. Ditambah lagi pemanasan global yang menyebabkan cuaca berubah-ubah secara drastis. Satu-satunya cara untuk membuat kota ini lebih teduh adalah pemerintah daerah dan seluruh masyarakat menanam minimal satu pohon. Karena panas adalah salah satu tanda berkurangnya kadar oksigen di udara.


Nah, ternyata setiap hektar area hijau dapat mengubah 3,7 ton CO2 jadi 2 ton O2.

Penanaman pohon ini dapat dilakukan di setiap lahan kosong, baik di tepi jalan maupun pekarangan. Upaya ini juga tidak sesulit yang dikira. Yang terpenting adalah menemukan jenis pohon dan cara yang tepat untuk menanamnya.

Mengutip Kompas edisi 9/12/2007, ada beberapa pohon yang bisa dijadikan alternatif pilihan:

1. Cemara laut dan akasia, cocok untuk ditanam di tanah yang kurang subur
2. Ketapang dan dadap, cocok ditanam di lahan yang mengandung garam.
3. Pinus, palem botol, bungur dan kayu putih, tahan terpaan angin kencang.
4. Johar, flamboyant, dan akasia, cocok untuk lahan kering
5. Mahoni dan lamtoro, untuk menyerap genangan air.
6. Cemara laut, kupu-kupu, dan pohon barus, menyerap SO2.
7. Damar, asem londo, dan mahoni, menyerap Pb atau timbal.
8. Cemara kipas, kersen, angsa, dan sawo kecik, menyerap pertikel padat.
9. Cempaka, tanjung, dammar, bamboo, dan kenanga, menyerap bau busuk.
10. Bamboo, kedondong, gatis, cemara laut, tusam, dan cemara kipas, menurunkan kebisingan.
11. Tanaman kacang-kacangan seperti angsana, trembesi, dan akasis, dapat mengembalikan kesuburan tanah.

Memang perlu beberapa tahap dalam penanaman. Waktu tumbuh tanaman-tanaman tersebut juga agak lama. Tapi setelah tumbuh, pohon-pohon tersebut akan tahan lama. Manfaat yang diberikan tak hanya keteduhan melainkan keindahan di pekarangan/sepanjang jalan dan untuk sebagian jenis adalah buah yang dihasilkan. Hanya saja perlu diperhatikan, untuk di tepi jalan, sebaiknya ditanam trembesi atau flamboyan. Karena jenis Angsana mudah roboh saat diterpa angin kencang.

Modal yang diperlukan untuk bibit-bibitnya berkisar dari 5 ribu sampai 200 ribu. Ada juga toko tanaman yang sudah menyediakan pohon kecil dengan harga yang agak mahal. Jadi, tinggal dipilih sesuai lahan dan budget yang tersedia.

Untuk referensi cara penanaman dapat dibaca di Green World (Akasia), Flyer Pembibitan dan Flyer Penanaman (Ketapang dan Cemara laut), dan Emirgarden (palem).

Read more...

Kenapa Kami Enggan Bersepeda

>> Saturday, June 20, 2009

Bersepeda menjadi kegiatan popular sejak isu pemanasan global mencuat. Tidak hanya dianggap bermanfaat bagi bumi, bersepeda menjadi hobi yang menyenangkan. Sebagian besar pengendara sepeda membentuk klub dan memiliki spesifikasi tertentu. Misalnya klub sepeda ontel yang khas dengan model antiknya. Atau gerakan bersepeda ke kantor yang sudah diterapkan di berbagai daerah seperti Jogja, Jakarta, dan lain-lain.


Namun di Pontianak, tetap saja banyak orang yang enggan bersepeda untuk keperluan sehari-hari. Kontras dengan masyarakat di Belanda atau Cina. Kegiatan klub juga tidak bisa diandalkan mengingat bersepeda dilakukan pada hari-hari libur saja. Kalaupun ada yang bersepeda, mereka hanya memiliki dua alasan, hobi atau tidak punya kendaraan lain.

Berikut beberapa alasan mayoritas orang enggan bersepeda:

1. Cuaca Panas dan Berdebu

Berbeda dengan beberapa daerah di Indonesia, Pontianak yang termasuk kawasan Equator memiliki suhu yang cenderung lebih tinggi. Selain itu, pembangunan kota seperti pembangunan jalan dan galian kabel menambah debu di sepanjang jalan. Ini tidak menjadi masalah bagi pengendara mobil karena berada di kendaraan tertutup. Sedangkan bagi pengendara motor, hal ini akan mengganggu sedikit. Sebaliknya bagi pengendara sepeda, akan tersiksa sekali.

Seandainya saja, di sepanjang jalan ditanam banyak pohon rindang, tentu dua masalah ini bisa terselesaikan. Karena menurut penelitian, pepohonan di areal seluas 300x400 m mampu menurunkan konsentrasi debu udara dari 7000 partikel per liter menjadi 4000 partikel per liter.

2. Lalu Lintas Tidak Tertib.
Motor dan mobil adalah binatang-binatang besar di jalan. Mereka saling berpacu memperebutkan badan jalan demi mengejar waktu. Pada saat yang sama, pejalan kaki dan pengendara sepeda berjuang memperebutkan sepetak jalan saja.

Lalu lintas Pontianak memang tidak ramah bagi pengendara sepeda. Di jalan-jalan protokol seperti A. Yani misalnya, jangankan untuk berjalan dengan tenang, menyeberang saja seringkali diiringi nyanyian klakson. Siapa kira-kira yang nekat bersepeda di kondisi ini?

3. Keamanan Tidak Terjamin.

Jika gerakan bersepeda ke kantor atau ke kampus akan digalakkan di Pontianak, keamanan bagi pengendara harus ditingkatkan dulu.

Mayoritas pekerja dan pelajar saat ini memiliki kebutuhan untuk membawa telepon genggam dan komputer jinjing. Ketika bersepeda dengan barang-barang berharga tersebut di siang hari, mungkin aman-aman saja. Tapi di malam hari, tindakan ini menjadi sangat riskan. Sepeda motor yang jauh lebih cepat, sering dicegat orang-orang tidak bertanggung jawab. Apalagi sepeda?

Selain itu, melapor ke kantor polisi, nyaris tak membantu. Korban masih harus membuat laporan panjang lebar yang menghabiskan waktu 1-2 jam sementara sang pencoleng sudah lari entah kemana. Sudah jatuh tertimpa tangga.

4. Pemerintah Belum Tiup Terompet

Masyarakat Pontianak sesungguhnya siap-siap saja naik sepeda jika tiga masalah itu bisa teratasi pemerintah daerah.

Tapi yang jelas, dalam kondisi setengah siap pun, pemerintah masih bisa menanamkan budaya bersepeda di masyarakat. Karena pada dasarnya, sebagian besar warga Pontianak sudah bersepeda sejak kecil. Hanya saja kebiasaan ini habis terlindas modernisasi. Selain itu, budaya masyarakat Pontianak yang sering “latah” seharusnya dilirik pemerintah daerah. Dengan menjadikan masyarakat bersepeda sebagai trend melalui kegiatan-kegiatan tertentu, akan semakin ramai orang bersepeda. Pada saat yang sama, alasan-alasan seperti gengsi dan lain-lain bisa diminimalisir.

* Sumber foto : (http://4.bp.blogspot.com/_m30pWwApwNQ/Sj2zcAagKpI/AAAAAAAAAKE/T04CPvpKB7M/s400/jalan+rusak.jpg); beebeebee.wordpress.com; www.ptfi.com

Read more...

Mari Berpikir Jorok

>> Sunday, June 14, 2009

Fakta : Banyak orang Pontianak yang suka berpikiran jorok.


Mereka memikirkan sampah, Saudara-saudara!

Kiri-kanan ada sampah. Penampungannya bau dan berantakan. Parit nyaris juga nyaris tersumbat limbah.

Ini lho yang disebut kota bersinar.

Maka saya tak urung ikut berpikiran jorok. Suatu hari, kadang pagi, siang, sore, malam, juga subuh, otak saya berputar. Apa yang bisa dilakukan?

Yang paling mudah sebenarnya memisahkan sampah. Saya ingat, seperti pelajaran IPA waktu SD, sampah bisa dibagi jadi dua, organik dan anorganik. Organik yang bisa busuk, sebaliknya anorganik yang tidak bisa busuk. Nah, untuk yang organik, disarankan untuk ditimbun saja dalam tanah. Manfaatnya, bisa jadi kompos.

Jangan salah, saudara-saudara, zaman sekarang kompos bukan hanya berfungsi menyuburkan tanaman. Subagiyo, warga Tegal Parang, memanfaatkan kompos atau pupuk cair untuk meminimalisir frekuensi menyedot WC. Kalau biasanya setahun sekali, dengan pupuk cair bisa dua tahun sekali baru disedot.

Lain lagi dengan sampah anorganik yang lazimnya dibuang ke tempat sampah. Tapi kalau ada yang jeli, sampah anorganik bisa didaur ulang. Misalnya sebuah ide yang digagas Syafrudin, warga Siantan, Pontianak. Ia tak hanya bisa membuat kompleksnya ramah lingkungan, tapi memberdayakan masyarakat sekitar mengolah sampah jadi kerajinan tangan. Dari sampah jadi uang.

Itu pikiran jorok pertama.

Lalu beberapa saat kemudian yang entah kapan dan di mana, saya berangan-angan pemerintah mulai memberdayakan pemulung. Kita lihat contoh dari Syafrudin tadi, daur ulang sampah ternyata sangat menguntungkan.

Jika ada hubungan sinergis antara pemerintah, pemulung, swasta, dan UKM, sampah bukan jadi masalah, malah aset perindsutrian Borneo ini.

Kota bersih, rakyat sejahtera.

Saudara-saudara,

Urusan sampah sebenarnya sudah diajarkan sejak SD. Saya selalu ingat semboyan, Buang Sampah pada Tempatnya. Tapi saya mengerti, kebiasaan ini kemudian luntur saat melihat orang lain seenaknya buang sampah di tempat terdekat. Bagaimana lagi, masyarakat kita terlanjur bergantung pada asas 'ikut-ikutan'. Kalau tidak ada yang memulai, jadi enggan. Kalau ada yang mulai, biar salah, yang haram pun jadi halal.

Banyak yang beralasan, kalau sendirian untuk apa?

Saya juga sempat berpikir begitu sampai saya membaca sebuah cerita.

Suatu hari, ada seorang pria yang berjalan-jalan di tepi pantai Meksiko. Di sana, ia melihat sekelompok orang pribumi sedang melemparkan sesuatu ke dalam air laut. Rupanya mereka mengembalikan bintang laut yang terdampar akibat ombak besar. Pria itu mendekati seorang pribumi.
“Apa yang Anda lakukan?”
“Mengembalikan mereka ke laut.”
“Tapi, itu mustahil. Jumlah bintang laut di sepanjang pantai ini mungkin mencapai ribuan.”
“Yah, minimal kami membuat perubahan untuk yang satu ini.”

Maka hingga saat ini, saya yakin apa pun yang saya buat untuk lingkungan, bahkan pikiran-pikiran jorok saya, mungkin berarti untuk dituliskan.


*sumber foto: www.inilah.com; didut.nomadlife.org

Read more...

Maka Borneo Ini Nyaris Tak Berpenghuni

Saya berbelok ke Jalan Sutoyo. Tak harus mendongak melihat dua buah gajah besi menjulang di kiri kanan. Sama seperti ketakjuban yang tak henti-henti saat melihat televisi besar di bundaran kampus. Meski tanpa antena, siarannya tak berbintik-bintik. Sayang tak pernah ada filmnya. (Tumben TV itu aman-aman saja. Padahal terpancang di tempat begitu terbuka).


Perasaan itu tak pernah muncul saat saya lewat museum yang semakin sepi pengunjung. Atau Rumah Betang yang semakin muram. Rumah Adat Melayu yang sering jadi tempat kawinan. Atau merah Pekong yang lama-lama pudar.


Apa karena usia berbanding terbalik dengan ketertarikan?


Ah, Borneo tampaknya nyaris tak berpenghuni.

Warna kota seolah berkejaran dengan modernisasi
Terengah-engah, tersaruk-saruk


Mungkin aku masih terlalu muda untuk pikiran ini.


Read more...

Hari itu,

>> Sunday, June 7, 2009

Dan luka itu bernanah

Benarkah tangis bisa membersihkannya?

Dan luka itu berdarah

Benarkah tangis bisa menenggelamkan nyerinya?

Matahari kuning pucat

Dan pelangi benar-benar luruh



Pontianak, 9 Juni 2009


Read more...

Lampyridae

>> Tuesday, June 2, 2009

Hari itu, seorang perempuan merindukan sebuah kota dengan sembarang nama. Ia tak mengingat ada dermaga atau sungai atau gondola atau jembatan. Hanya jejak kerinduan pada kunang-kunang.

Barulah kemudian ia mengingat rerumputan, belukar, bakau, malam, rembulan, dan ciuman.

Hah, Sampai hari itu, tak ada yang pernah mengabarkan arti gemerlap padanya.


***

"Marno, kemarilah, duduk."
"Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ."
"Kemarilah, duduk."
"Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana."
"Kunang-kunang?"
"Ya."
"Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat."
"Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah"
"Begitu kecil?"
"Ya, tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?"
"Pohon itu akan jadi pohon hari natal."
"Ya, pohon hari natal."*

***

*potongan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhanttan, Umar Khayam


Read more...

Dispersi

Seorang anak bertanya kepada ayahnya. Kemana larinya pelangi?

Sebelum hujan, ia bisa melihat awan. Setelahnya juga.
Sebelum hujan ia bisa melihat matahari. Setelahnya juga.
sebelum hujan ia bisa melihat langit. Setelahnya juga.

Yang luruh hanya pelangi.



Pontianak, 2 Juni 2009


Read more...

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP