Kenapa Kami Enggan Bersepeda

>> Saturday, June 20, 2009

Bersepeda menjadi kegiatan popular sejak isu pemanasan global mencuat. Tidak hanya dianggap bermanfaat bagi bumi, bersepeda menjadi hobi yang menyenangkan. Sebagian besar pengendara sepeda membentuk klub dan memiliki spesifikasi tertentu. Misalnya klub sepeda ontel yang khas dengan model antiknya. Atau gerakan bersepeda ke kantor yang sudah diterapkan di berbagai daerah seperti Jogja, Jakarta, dan lain-lain.


Namun di Pontianak, tetap saja banyak orang yang enggan bersepeda untuk keperluan sehari-hari. Kontras dengan masyarakat di Belanda atau Cina. Kegiatan klub juga tidak bisa diandalkan mengingat bersepeda dilakukan pada hari-hari libur saja. Kalaupun ada yang bersepeda, mereka hanya memiliki dua alasan, hobi atau tidak punya kendaraan lain.

Berikut beberapa alasan mayoritas orang enggan bersepeda:

1. Cuaca Panas dan Berdebu

Berbeda dengan beberapa daerah di Indonesia, Pontianak yang termasuk kawasan Equator memiliki suhu yang cenderung lebih tinggi. Selain itu, pembangunan kota seperti pembangunan jalan dan galian kabel menambah debu di sepanjang jalan. Ini tidak menjadi masalah bagi pengendara mobil karena berada di kendaraan tertutup. Sedangkan bagi pengendara motor, hal ini akan mengganggu sedikit. Sebaliknya bagi pengendara sepeda, akan tersiksa sekali.

Seandainya saja, di sepanjang jalan ditanam banyak pohon rindang, tentu dua masalah ini bisa terselesaikan. Karena menurut penelitian, pepohonan di areal seluas 300x400 m mampu menurunkan konsentrasi debu udara dari 7000 partikel per liter menjadi 4000 partikel per liter.

2. Lalu Lintas Tidak Tertib.
Motor dan mobil adalah binatang-binatang besar di jalan. Mereka saling berpacu memperebutkan badan jalan demi mengejar waktu. Pada saat yang sama, pejalan kaki dan pengendara sepeda berjuang memperebutkan sepetak jalan saja.

Lalu lintas Pontianak memang tidak ramah bagi pengendara sepeda. Di jalan-jalan protokol seperti A. Yani misalnya, jangankan untuk berjalan dengan tenang, menyeberang saja seringkali diiringi nyanyian klakson. Siapa kira-kira yang nekat bersepeda di kondisi ini?

3. Keamanan Tidak Terjamin.

Jika gerakan bersepeda ke kantor atau ke kampus akan digalakkan di Pontianak, keamanan bagi pengendara harus ditingkatkan dulu.

Mayoritas pekerja dan pelajar saat ini memiliki kebutuhan untuk membawa telepon genggam dan komputer jinjing. Ketika bersepeda dengan barang-barang berharga tersebut di siang hari, mungkin aman-aman saja. Tapi di malam hari, tindakan ini menjadi sangat riskan. Sepeda motor yang jauh lebih cepat, sering dicegat orang-orang tidak bertanggung jawab. Apalagi sepeda?

Selain itu, melapor ke kantor polisi, nyaris tak membantu. Korban masih harus membuat laporan panjang lebar yang menghabiskan waktu 1-2 jam sementara sang pencoleng sudah lari entah kemana. Sudah jatuh tertimpa tangga.

4. Pemerintah Belum Tiup Terompet

Masyarakat Pontianak sesungguhnya siap-siap saja naik sepeda jika tiga masalah itu bisa teratasi pemerintah daerah.

Tapi yang jelas, dalam kondisi setengah siap pun, pemerintah masih bisa menanamkan budaya bersepeda di masyarakat. Karena pada dasarnya, sebagian besar warga Pontianak sudah bersepeda sejak kecil. Hanya saja kebiasaan ini habis terlindas modernisasi. Selain itu, budaya masyarakat Pontianak yang sering “latah” seharusnya dilirik pemerintah daerah. Dengan menjadikan masyarakat bersepeda sebagai trend melalui kegiatan-kegiatan tertentu, akan semakin ramai orang bersepeda. Pada saat yang sama, alasan-alasan seperti gengsi dan lain-lain bisa diminimalisir.

* Sumber foto : (http://4.bp.blogspot.com/_m30pWwApwNQ/Sj2zcAagKpI/AAAAAAAAAKE/T04CPvpKB7M/s400/jalan+rusak.jpg); beebeebee.wordpress.com; www.ptfi.com

0 comments:

Post a Comment

About This Blog

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP